Oleh : Rizal Muharam, A.Md.Farm, CETC, CHOPE
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Marhaban ya Ramadhan, bersyukur kepada Allah atas nikmat ramadhan di tahun ini 1447 H, insya Allah kita berazzam untuk memanfaatkan kesempatan berharga ini untuk meraih derajat takwa di hadapan Allah, setuju?
Dan diantara kebaikan-kebaikan yang ada di bulan ramadhan ini adalah susana kebersamaan dalam hal ibadah, semua muslim yang menjalankan ibadah puasa berada pada mode yang sama, yaitu “berlomba” untuk mengerjakan segala bentuk amal saleh. Artinya ramadhan adalah momentum yang pas untuk bebenah diri, karena kondisi internal & eskternal cenderung seirama dalam kebaikan.
Saya al faqir Coach Rizal, sebagai bagian dari pegiat pendidikan holistik profetik teringat dengan bagaimana dulu baginda Rasul Saw membangun masyarakat Madinah. Guru kami, yakni ustadz Abdullah Efendi, M.Pd penulis buku Pendidikan Holistik Profetik menjelaskan kenapa Madinah dijuluki Al Munawwarah atau kota suci yang bercahaya?
Dalam POV pendidikan, hijrahnya Rasul Saw & para sahabat membawa sebuah keadaan di masyarakat Madinah menjadi istimewa, sampai- sampai orang jahat datang ke Madinah, jadi baik. Orang baik datang ke Madinah menjadi semakin baik, Wow.. Masya Allah.. apa rahasianya? Kepo pasti ya? Hehe..
Singkatnya adalah karena peran fungsional pendidikan di Madinah berjalan dengan baik. Setidaknya ada 3 elemen krusial fungsional pendidikan, yaitu sekolah, rumah dan masyarakat. Lengkapnya boleh unboxing langsung dari buku Pendidikan Holistik Profetik.
Dalam tema kali ini yaitu “Perlu Orang Satu Kampung Untuk Mendidik Seorang Anak” al faqir coba menjabarkan dari POV keadaan masyarakat Madinah kala itu, anak-anak yang tumbuh di Madinah meraih pengajaran & keteladanan yang baik di sekolah (kuttab) & di rumahnya.
Lalu apa yang mereka pelajari di kuttab & di rumah mendapatkan penguatan dari para Sahabat Nabi ketika bermasyarakat, sehingga peluang kemaksiatan sangatlah keciiiiiilll.. Masya Allah.. siapa lagi diantara orang tua, guru & pendidik yang merindukan suasana seperti di Madinah, dimana terjadi kebaikan kolektif antara rumah, sekolah & masyarakat? Vibesnya bisa kita rasakan saat di bulan Ramadhan ini. Role model fungsional pendidikan ini juga mulai kami terapkan di SIT Daarul Mustofa Sepang Kota Serang Prov. Banten yang dipimpin oleh ustadz Muhtar Efendi, M.Pd.
Di sekolah SIT Daarul Mustofa selain peserta didik mendapatkan pengajaran di sekolah oleh para guru-guru, setiap 3 bulan sekali kami adakan program Sekolah Orang Tua (SOT) Daarul Mustofa agar terjadi sinergi pendidikan antara di rumah & di sekolah. Seperti kata seorang ulama, jika orang tua tidak terlibat dalam pengasuhan seorang anak, maka peran sekolah cuma jadi “tukang laundry”, beraaat bestie jika hanya berharap dari pihak sekolah, sementara anak-anak lebih banyak waktu di rumahnya. Oleh karenanya SIT Daarul Mustofa berazzam untuk mengembalikan pendidikan sesuai khittah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. SIT Daarul Mustofa merupakan sekolah islam pioner yang mengadopsi konsep pendidikan holistik profetik, karena kami meyakini perlu lebih banyak guru yang berperan untuk mendidik generasi.
Baca Juga : Menjadi Pendidik Betulan, Bukan Kebetulan!
Guru atau mu’alim menurut konsep pendidikan holistik profetik yang berada di rumah namanya orang tua, guru di masyarakat namanya pak RT, RW, Lurah, Kades, Motivator, Trainer, Coach, penyelenggara negara, dll. Kami mengajak setiap individu, lembaga dan stakeholder pendidikan dengan prinsip 3M yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil yang bisa dilakukan & mulai saat ini. Karena seperti kata pepatah, it’s takes a village to raise a child atau perlu kerjasama orang satu kampung untuk mendidik seorang anak.
Wallahu a’lam bishowab
Kamis, Ramadhan 1447 H
Coach Rizal Muharam, CETC, CHOPE (lynk.id/coachrizal)
Divisi Litbang SIT Daarul Mustofa


