<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kitab tadzkiratussami&#039; wal mutakallimin Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<atom:link href="https://generasifaqih.com/category/holistic-prophetic-education-hope-method/kitab-tadzkiratussami-wal-mutakallimin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://generasifaqih.com/category/holistic-prophetic-education-hope-method/kitab-tadzkiratussami-wal-mutakallimin/</link>
	<description>Wujudkan Pendidikan Islam Terbaik, Lahirkan Generasi Faqih Fiddin</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Jan 2026 04:24:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://generasifaqih.com/wp-content/uploads/2024/03/cropped-Daily-removebg-preview-32x32.png</url>
	<title>kitab tadzkiratussami&#039; wal mutakallimin Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<link>https://generasifaqih.com/category/holistic-prophetic-education-hope-method/kitab-tadzkiratussami-wal-mutakallimin/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama</title>
		<link>https://generasifaqih.com/adab-berinteraksi-dengan-buku-dan-tinggal-di-asrama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 04:18:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=4063</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Penuntut ilmu dengan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Secanggih-canggihnya zaman moderna hari ini, mustahil kita berpaling dari buku. Karena sensasi membaca buku adalah suatu hal yang tidak bisa digantikan dengan teknologi digital. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim yang menuntut ilmu memahami adab-adabnya dalam berinteraksi dengan ... <a title="Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/adab-berinteraksi-dengan-buku-dan-tinggal-di-asrama/" aria-label="Read more about Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adab-berinteraksi-dengan-buku-dan-tinggal-di-asrama/">Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penuntut ilmu dengan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Secanggih-canggihnya zaman moderna hari ini, mustahil kita berpaling dari buku. Karena sensasi membaca buku adalah suatu hal yang tidak bisa digantikan dengan teknologi digital. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim yang menuntut ilmu memahami adab-adabnya dalam berinteraksi dengan buku-bukunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, Memiliki perhatian untuk mengumpulkan kitab-kitab. Penuntut ilmu sebisanya membeli kitab, jika tidak mampu maka menyewanya, jika tidak mampu maka meminjamnya. Mengumpulkan kitab tidak sama dengan mengumpulkan ilmu, karena kitab itu untuk dipelajari bukan hanya untuk dikoleksi. Banyak orang yang mengaku-ngaku sebagai ahli fikih dan hadits, tetapi hanya mengumpulkan kitab-kitab saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/sdit-al-fauzan-batam-pendidikan-islam-berbasis-al-quran-workshop-guru-batam/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Transformasi Pendidik Hebat: SDIT Al Fauzan Batam Perkuat SDM Melalui Workshop Pendidikan Berbasis Al-Qur’an</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, adab meminjamkan kitab dan meminjamnya. Dianjurkan untuk meminjamkan kitab kepada penuntut ilmu sesuai level pemahamannya. Adapun adab-adab orang yang meminjam kitab adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Berterimakasih kepada yang meminjaminya dan membalasnya dengan kebaikan.</li>



<li>Segera mengembalikan kitab setelah kebutuhannya terpenuhi.</li>



<li>Tidak boleh memperbaikinya tanpa izin pemilik.</li>



<li>Tidak boleh menulis apapun tanpa kerelaan pemilik.</li>



<li>Tidak boleh meminjamkannya kepada orang lain.</li>



<li>Tidak boleh menitipkannya tanpa uzur.</li>



<li>Tidak boleh menyalin darinya tanpa izin pemiliknya, kecuali kitab wakaf.</li>



<li>Tidak boleh melakukan tindakan ceroboh yang bisa mengotorinya.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, menjaga kitab dan menyusun perpusatakaan. JIka sedang menyalin kitab atau sedang membacanya maka jangan meletakkannya di lantai dalam keadaan terbuka. Jika meletakannya pada suatu tempat dalam keadaan tersusun, hendaknya di atas kursi, atau di bawah kayu, atau yang sepertinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keempat, menimbang keshahihan kitab sebelum mengambilnya. Sebelum meminjam, mengembalikan, atau membeli kitab, hendaknya memeriksa keshahihannya terlebih dahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelima, ada menyalin kitab. Adab menyalin kitab dari kitab-kitab ilmu syar’I adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dalam keadaan suci.</li>



<li>Menghadap kiblat.</li>



<li>Suci badan dan pakaian.</li>



<li>Dengan tinta yang suci.</li>



<li>Memulai menulis dengan lafadz basmallah.</li>



<li>Setiap nama Allah tulis penghormatan dengan Ta’ala/ Subhanahu/Azza wa Jalla.</li>



<li>Setiap nama Nabi Muhammad tulis shalawat sesudahnya, tapi tidak boleh diringkas penulisannya.</li>



<li>Setiap nama sahabat patut menulis رضي الله عنه sesudahnya.</li>



<li>Setiap nama salah atau para imam besar patut menulis رحمه الله sesudahnya.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Keenam, membaguskan tulisan dan alat menulis yang terpilih.</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Menggunakan tinta yang tidak cepat pudar.</li>



<li>Menggunakan tinta kering.</li>



<li>Menggunakan pena yang tidak mengganggu kecepatan dalam menulis.</li>



<li>Menggunakan pisau tajam yang khusus untuk meraut alat tulis, dan landasan potong yang keras.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Ketujuh, adab mengoreksi kitab dan cara membacanya. Hendaknya meletakkan harakat untuk lafazh yang sulit dan menjelaskan bagian yang butuh penjelasan, misalnya dengan membuat catatan kaki. Hendaknya menuliskan dengan ukuran kecil keterangan khusus pada apa yang telah dikoreksi tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/founder-pendidikan-holistik-profetik-ajak-guru-miliki-idealisme-islam-dalam-peringatan-hari-guru-nasional-2025/">Founder Pendidikan Holistik Profetik Ajak Guru Miliki Idealisme Islam dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2025</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedelapan, mentakhrij yang salah. Jika hendak mentakhrih sesuatu pada catatan kaki, hendaknya memberi tanda pada tempatnya dengan tulisan yang sedikit miring ke arah takhrij dan menulis takhrijnya sejajar tanda dan naik ke bagian atas kertas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesembilan, adab menulis catatan kaki. Boleh menulis catatan kaki, faidah-faidah, dan tambahan yang penting pada bagian bawah kitab miliknya. Tidak menulis kecuali faidah-faidah penting, tidak menebalkan kitab dengan menukil masalah-masalah dan cabang-cabang yang aneh, dan tidak menulis di antara baris-baris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesepuluh, meletakkan bab, pasal, dan yang sepertinya dalam penulisan. Boleh menulis bab, judul, dan pasal dengan tinta merah, karena ia lebih jelas dalam menerangkan dan memisahkan penggalan-penggalan pembicaraan. Boleh memberi rumus untuk nama, madzhab, pendapat, jalan, bentuk, bahasa, angka, dan yang sepertinya. Jika melakukan hal ini hendaknya menjelaskannya di awal kitab agar pembaca memahami maksudnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesebelas, adab mencoret. Mencoret lebih baik daripada menghapus karena akan bisa lebih menjaga kertas kitab dan menghemat waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikianlah kesebelas adab seorang murid kepada kitabnya. Selanjutnya akan dibahas adab-adab tinggal di Asrama Madrasah bagi guru dan juga murid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, adab memilih Madrasah yang akan ditinggali. Hendaknya memilih Madrasah yang pewakafnya memiliki sifat wara’, wakaf Madrasahnya dari hasil yang halal, penghasilannya dari hasil yang baik. Jika memungkinkan, menghindari Madrasah yang dibangun oleh raja-raja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, sifat pengajar memiliki kepemimpinan dan keutamaan, agama, dan akal, kewibawaan dan kemuliaan, kecerdasan untuk membaca murid dan sifat adil, mencintai orang-orang lemah, mendekatkan para penuntut ilmu, memotivasi orang-orang yang menyibukkan diri di lahan ilmu, menjauhkan orang-orang yang main-main, membantu orang-orang yang mempelajari ilmu, bersungguh-sungguh untuk mendapatkan manfaat, selalu berusaha memberi manfaat, dan adab-adabnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya pengajar itu:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Tidak pergi ke tempat-tempat syubhat.</li>



<li>Menjaga shalat berjamaah.</li>



<li>Memiliki waktu khusus di luar jam belajar untuk murid-muridnya.</li>



<li>Mendahulukan urusan penghuni Madrasah.</li>



<li>Melaporkan progress murid ke penanggung jawabn wakaf.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Demikianlah lima adab guru saat tinggal di asrama. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: Kajian kitab <em>Tadzkiratussami’ wal Mutakallim</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adab-berinteraksi-dengan-buku-dan-tinggal-di-asrama/">Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahasia Sukses Belajar untuk Dunia dan Akhirat</title>
		<link>https://generasifaqih.com/rahasia-sukses-belajar-dunia-akhirat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2025 01:44:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3969</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Menuntut ilmu, khususnya ilmu-ilmu Islam (tsaqafah), adalah fardhu &#8216;ain bagi setiap muslim. Namun, usia manusia yang terbatas membuat kita harus memahami tahapan belajar dan skala prioritas dalam menuntut ilmu. Dengan mengikuti adab dan panduan ulama, proses belajar akan lebih terarah dan mendatangkan keberkahan dunia akhirat. Artikel ini merangkum 13 rahasia ... <a title="Rahasia Sukses Belajar untuk Dunia dan Akhirat" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/rahasia-sukses-belajar-dunia-akhirat/" aria-label="Read more about Rahasia Sukses Belajar untuk Dunia dan Akhirat">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/rahasia-sukses-belajar-dunia-akhirat/">Rahasia Sukses Belajar untuk Dunia dan Akhirat</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh : <strong>Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menuntut ilmu, khususnya ilmu-ilmu Islam (tsaqafah), adalah <em>fardhu ‘ain</em> bagi setiap muslim. Namun, usia manusia yang terbatas membuat kita harus memahami tahapan belajar dan skala prioritas dalam menuntut ilmu. Dengan mengikuti adab dan panduan ulama, proses belajar akan lebih terarah dan mendatangkan keberkahan dunia akhirat. Artikel ini merangkum 13 rahasia sukses belajar berdasarkan nasihat para ulama dalam <a href="https://www.dakwah.id/tadzkiratus-sami-wal-mutakallim-kitab-adab-karya-ibnu-jamaah/"><em>Tadzkiratussami’ wal Mutakallim</em>.</a></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>1. Memulai dari Al-Qur’an sebagai Fondasi Ilmu</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya memulai dengan Al-Qur’an, menghafalnya, berusaha menguasai tafsirnya, dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Kemudian ilmu hadits, serta dua ilmu dasar, yaitu nahwu dan sharaf.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>2. Tidak Terburu-Buru dalam Perbedaan Pendapat</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya di awal langkah menuntut ilmu tidak melibatkan diri dengan perbedaan pendapat diantara para ulama, karena hal itu membingungkan. Hendaknya tidak beralih dari satu kitab ke kitab lain tanpa alasan. Namun jika dia telah kapabel, maka dia tidak membiarkan satu disiplin ilmu syar’I kecuali dia mempelajarinya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>3. Memastikan Akurasi Bacaan Sebelum Menghafal</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya membetulkan apa yang dibacanya sebelum menghafalnya secara akurat, bisa melalui guru atau rekan-rekannya yang bisa membantunya. Jika guru menyalahkan satu kata dan dia menyangka bahwa guru tidak benar, maka murid mengingatkan guru dengan mengucapkan kata yang benar dalam konteks bertanya. Jika guru kembali ke yang benar maka tidak perlu pengulangan, jika tidak maka menundanya ke majelis lain dengan cara sopan, karena ada kemungkinan bahwa yang benar adalah guru.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>4. Memulai Mendengar dan Mempelajari Hadits Sejak Dini</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya mendengar hadits sejak dini, menyibukkan diri dengan hadits dan ilmu-ilmunya, mengkaji sanadnya, para rawinya, makna-maknanya, hukum-hukumnya, faidah-faidahnya, bahasa dan sejarahnya. Mengawali dengan sepasang Shahih al-Bukhari dan Muslim, kemudian kitab-kitab hadits lain, seperti: Muwatha’ Malik, Sunan Abu Dawud, an-Nasa’I, Ibnu Majah, Jami’ at-Tirmidzi, Musnad asy-Syafi’I dan tidak patut kurang dari itu.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>5. Beralih ke Kitab-Kitab Besar Setelah Menguasai Ringkasannya</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ringkasan-ringkasannya yang dihafal telah disyarah dan telah dikuasai, maka murid beralih ke kitab-kitab besar yang terperinci dengan tetap menelaah, mencatat faidah-faidah yang berharga. Hendaknya tidak menunda peluang untuk mendapatkan faidah yang memungkinkan. Hendaknya menggunakan waktu luang dan giatnya, waktu sehat dan masa mudanya, ketajaman pikirannya, dan minimnya kesibukan sebelum datang rintangan-rintangan kemalasan dan halangan-halangan kedudukan sebagai pemimpin. Karena, “Nanti” adalah salah satu tentaranya Iblis! (Kalam ulama).</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>6. Mengikuti Majelis Guru secara Konsisten</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya tetap mengikuti halaqah guru dalam mengajar dan membacakan, bahkan semua majelis guru jika memungkinkan. Namun, jika tidak mampu mengikuti semuanya, maka hendaknya memperhatikan skala prioritas. Antar sesama murid hendaknya saling mengkaji ulang sebelum mereka bubar dari majelis karena saat itu akal pikiran belum terpecah belah. Jika murid tidak mendapat rekan untuk mudzakarah, maka dia mengulang-ulang pelajarannya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/adab-murid-kepada-guru-menurut-ulama/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Adab Murid kepada Guru yang Jarang Diketahui Menurut Kitab Tadzkiratus Sam’i wal Mutakallim</a></strong></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>7. Menjaga Adab di Majelis Guru</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika hadir di majelis guru, hendaknya mengucapkan salam kepada hadirin dengan suara yang terdengar oleh mereka semuanya, dan mengkhususkannya kepada guru dengan tambahan penghormatan dan pemuliaan, demikian juga mengucapkan salam saat meninggalkan majelis. Tidak melangkahi hadirin agar bisa mendekat kepada guru untuk duduk di depan atau karena memang tempat duduknya di depan karena lebih dahulu datang sebelumnya. Hendaknya hadirin berkumpul pada satu arah agar pandangan guru saat menjelaskan bisa tertuju kepada mereka semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>8. Bersikap Sopan terhadap Sesama Penuntut Ilmu</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya berlaku sopan dengan orang-orang yang hadir di majelis guru, tidak memisahkan dua orang rekan kecuali dengan izin keduanya, tidak duduk di atas orang yang lebih utama darinya, jika seseorang datang maka hadirin melapangkan majelis untuknya, tidak bermajelsi di dalam majelis.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>9. Tidak Malu Bertanya</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya tidak malu bertanya dan berusaha memahami dengan sopan, perkataan yang baik dan pertanyaan santun. Jika guru diam, murid tidak boleh mendesak guru, dan jika guru salah menjawab, maka murid tidak boleh menyanggahnya seketika.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/founder-pendidikan-holistik-profetik-tawarkan-solusi-pemanfaatan-ai-dari-perspektif-islam/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Founder Pendidikan Holistik Profetik Tawarkan Solusi Pemanfaatan AI dari Perspektif Islam</a></strong></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>10. Menjaga Giliran Bertanya</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Memerhatikan giliran, tidak mengambil hal giliran orang lain. Kecuali jika dia mengetahui bahwa orang tersebut asing di majelis atau orang tersebut memiliki hajat mendesak. Maka <em>itsar</em> dalam hal ini adalah sunnah.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>11. Duduk di Depan Guru dengan Penuh Hormat</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya berposisi di depan guru, membawa kitab yang tidak ia letakkan di lantai dalam keadaan terbuka, tetapi ia pegang atau diletakkan di atas meja, dan tidak membacanya kecuali setelah diizinkan guru.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>12. Mengawali Majelis dengan Doa</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya dimulai dengan membaca <em>ta’awudz</em>, basmallah, hamdallah, shalawat kepada Nabi SAW., mendoakan guru, orangtuanya, guru-gurunya, dirinya, dan kaum muslim lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>13. Memotivasi Sesama Penuntut Ilmu</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya memotivasi rekan-rekannya untuk menuntut ilmu, menunjukkan mereka jalannya, dan menasihati mereka dalam agama. Tidak ujub atas rekan-rekannya karena dirinya punya kelebihan ilmu, tetapi memuji Allah Ta’ala dan menyukuri apa yang dia dapatkan dari ilmu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah <strong>13 adab penting</strong> bagi setiap penuntut ilmu agar belajar menjadi lebih efektif, beradab, dan penuh keberkahan. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk mengamalkannya dalam proses belajar sehari-hari, sehingga ilmu yang dipelajari benar-benar menjadi <strong>jalan sukses dunia dan akhirat</strong>.<br><strong>Wallahua’lam bish-shawab.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sumber:</strong> <em>Tadzkiratussami’ wal Mutakallim</em></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/rahasia-sukses-belajar-dunia-akhirat/">Rahasia Sukses Belajar untuk Dunia dan Akhirat</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Adab Murid kepada Guru yang Jarang Diketahui Menurut Kitab Tadzkiratus Sam’i wal Mutakallim</title>
		<link>https://generasifaqih.com/adab-murid-kepada-guru-menurut-ulama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2025 01:15:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan ini merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang sikap-sikap ideal yang harus dimiliki seorang murid terhadap gurunya. Bagaimana sebenarnya seorang murid seharusnya bersikap kepada guru? Berikut kelanjutan penjelasannya. Keempat: Mengetahui Hak Guru dan Tidak Melupakan Jasanya Di antara hak-hak guru atas murid adalah menjaga kehormatannya, membela guru ketika ia dicela ... <a title="Adab Murid kepada Guru yang Jarang Diketahui Menurut Kitab Tadzkiratus Sam’i wal Mutakallim" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/adab-murid-kepada-guru-menurut-ulama/" aria-label="Read more about Adab Murid kepada Guru yang Jarang Diketahui Menurut Kitab Tadzkiratus Sam’i wal Mutakallim">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adab-murid-kepada-guru-menurut-ulama/">Adab Murid kepada Guru yang Jarang Diketahui Menurut Kitab Tadzkiratus Sam’i wal Mutakallim</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh : <strong>Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tulisan ini merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang sikap-sikap ideal yang harus dimiliki seorang murid terhadap gurunya. Bagaimana sebenarnya seorang murid seharusnya bersikap kepada guru? Berikut kelanjutan penjelasannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Keempat: Mengetahui Hak Guru dan Tidak Melupakan Jasanya</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara hak-hak guru atas murid adalah menjaga kehormatannya, membela guru ketika ia dicela baik di depan maupun di belakangnya, serta mendoakannya selama guru masih hidup. Setelah guru wafat, murid dianjurkan menjaga anak-anak, kerabat, dan orang-orang terdekatnya, berziarah ke makamnya secara berkala, beristighfar, bersedekah untuknya, dan meneladani akhlak, sifat, gerak-gerik, dan ibadahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/satu-dekade-penantian-saat-allah-memberikan-jawaban-lewat-doa-yang-terkabul/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Satu Dekade Penantian: Saat Allah Memberikan Jawaban Lewat Doa yang Terkabul</a></strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kelima: Bersabar terhadap Sikap Guru</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang murid hendaknya bersabar jika guru tampak tak acuh atau bersikap tidak baik. Cara terbaik adalah meminta maaf, bertaubat, dan beristighfar dari apa yang terjadi. Murid sebaiknya mengembalikan pemicu permasalahan kepada dirinya dan tidak menyalahkan guru, karena hal ini lebih melanggengkan kasih sayang guru, menjaga hatinya, serta membawa manfaat bagi murid di dunia dan akhirat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://islami.co/al-muafi-bin-imran-penulis-kitab-zuhud-pertama/">Mu’afa bin Imran</a> berkata, <em>“Orang yang marah kepada ulama adalah seperti orang yang marah kepada pilar-pilar masjid jami’, tidak ada gunanya.”</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Keenam: Berterima Kasih kepada Guru</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Murid hendaknya berterima kasih kepada guru yang menunjukkan keutamaan, meluruskan kekurangan, mengingatkan kelalaian, atau menegur kemalasan. Jika guru menunjukkan sebuah adab atau kekurangan yang sebenarnya sudah diketahui murid sebelumnya, hendaknya murid tidak memperlihatkan bahwa ia sudah tahu, tetapi tetap berterima kasih.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketujuh: Meminta Izin saat Masuk Majelis Guru</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Murid tidak boleh menemui guru di luar majelis umum kecuali dengan izin. Jika guru tidak mengizinkan, murid tidak perlu mengulang meminta izin. Ketika menemui guru, hendaknya datang dengan hati yang lapang, pikiran jernih, tidak sedang mengantuk, marah, lapar berat, atau kondisi lain yang mengganggu fokus.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/founder-pendidikan-holistik-profetik-ajak-guru-miliki-idealisme-islam-dalam-peringatan-hari-guru-nasional-2025/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Founder Pendidikan Holistik Profetik Ajak Guru Miliki Idealisme Islam dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2025</a></strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kedelapan: Duduk dengan Sopan di Hadapan Guru</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Murid hendaknya duduk dengan sopan sebagaimana anak-anak duduk di depan pengajar Al-Qur’an. Bisa dengan duduk bersila penuh tawadhu’, tenang, khusyu’, diam, dan menyimak dengan penuh perhatian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Termasuk adab adalah murid tidak duduk di samping guru, di tempat shalatnya, atau di tikarnya kecuali atas perintah tegas guru. Jika guru menyuruhnya, itu dilakukan sekali saja, kemudian murid kembali kepada adab yang sepatutnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesembilan: Membaguskan Perkataan kepada Guru</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Murid tidak boleh berkata seperti, “Mengapa?”, “Kami tidak menerima,” “Kata siapa?”, atau “Di mana adanya?”. Jika ingin meminta penjelasan, lakukan dengan lemah lembut, dan lebih baik di majelis yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Abbas">Ibnu Abbas r.a.</a> memiliki murid yang sering membantah, sementara murid lainnya, Urwah bin Zubair, selalu santun sehingga mendapatkan ilmu yang lebih banyak. Sebagian salaf berkata, <em>“Barang siapa berkata kepada gurunya ‘mengapa’, maka ia tidak akan beruntung selamanya.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika guru menyampaikan suatu pendapat, murid tidak membantah dengan pendapat lain seperti, “Menurutku berbeda,” atau “Fulan berkata lain.” Jika guru bersikukuh pada pendapat yang jelas salah, murid tetap menjaga raut wajah tenang dan tidak berbicara dengan bahasa yang kasar atau merendahkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesepuluh: Menyimak Ilmu Guru Walaupun Sudah Diketahui</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika guru menyampaikan hukum atau faidah yang sebenarnya sudah diketahui murid, hendaknya murid tetap menyimak seolah baru mendengarnya. Jika guru bertanya, “Apakah sudah hafal?”, murid tidak menjawab “ya” atau “tidak”, tetapi mengatakan, “Saya ingin mendengarnya dari guru,” atau “Lebih sahih jika guru yang menyampaikannya.”</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesebelas: Tidak Mendahului Guru dalam Menjawab atau Menjelaskan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Murid tidak boleh mendahului guru dalam menjawab pertanyaan atau menjelaskan suatu masalah, kecuali atas perintah guru. Tidak memotong penjelasan guru karena akan mengganggu konsentrasi dan alur berpikirnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benak murid hendaknya hadir sepenuhnya kepada guru: memahami dengan hati, memandang dengan mata, dan menyimak dengan telinga. Sehingga ketika guru meminta sesuatu, murid memahami dengan cepat tanpa harus diulang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Keduabelas: Menghormati Guru dalam Pemberian atau Penerimaan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memberikan sesuatu kepada guru atau menerima sesuatu darinya, lakukan dengan tangan kanan. Jika memberikan kitab untuk diajarkan, berikan dalam keadaan terbuka. Tidak boleh melempar kitab atau kertas kepada guru. Jika posisi jauh, murid hendaknya mendekat dengan berjalan, bukan merangkak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuan berkhidmat kepada guru adalah mendekat kepada Allah dan mendapatkan tempat di hati guru. Beruntunglah murid yang selalu mendapat doa dari gurunya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketigabelas: Adab Berjalan Bersama Guru</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika berjalan bersama guru di malam hari, hendaknya murid berada di depan; jika di siang hari, berada di belakang, kecuali situasi mengharuskan sebaliknya. Murid tidak berjalan di antara guru dan orang yang sedang berbicara dengannya, tetapi berada di belakang keduanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika bertemu guru di jalan, murid mengucapkan salam terlebih dahulu, tidak memanggil guru dengan keras, mendekat, lalu mengucapkan salam.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian tiga belas adab seorang murid terhadap gurunya. Insya Allah pada tulisan berikutnya akan dibahas tentang adab-adab murid terhadap pelajaran yang ia pelajari.<br><strong>Wallahu a‘lam bish shawab.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sumber:</strong> Kajian Kitab <em>Tadzkiratus Sam’i wal Mutakallim</em>.</p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adab-murid-kepada-guru-menurut-ulama/">Adab Murid kepada Guru yang Jarang Diketahui Menurut Kitab Tadzkiratus Sam’i wal Mutakallim</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2025 11:36:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[islam terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3718</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus sikap kurang pantas murid kepada gurunya. Selain faktor-faktor eksternal, tentu saja ada faktor internal dari diri seorang murid yang dapat menyebabkannya bersikap tidak sopan kepada orang yang seharusnya dia hormati. Di tulisan ini akan diulas beberapa adab-adab seorang murid bersama gurunya. Pertama, memilih seorang guru ... <a title="Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/" aria-label="Read more about Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/">Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus sikap kurang pantas murid kepada gurunya. Selain faktor-faktor eksternal, tentu saja ada faktor internal dari diri seorang murid yang dapat menyebabkannya bersikap tidak sopan kepada orang yang seharusnya dia hormati. Di tulisan ini akan diulas beberapa adab-adab seorang murid bersama gurunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, memilih seorang guru yang paling bermanfaat. Patut bagi penuntut ilmu agar menimbang dan beristikharah kepada Allah tentang dari siapa dia akan menimba ilmu, mendapatkan kebaikan akhlak dan adab dariya. Jika memungkinkan, hendaknya memilih seorang guru yang benar-benar kapabel, terbukti mengasihi, terlihat kepribadian baiknya, diketahui kebersihannya, dikenal keterjagaannya, yang paling bagus pengajarannya, yang paling baik upaya memahamkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya dia tidak terpaku dengan orang-orang yang masyhur dan meninggalkan orang-orang yang tidak punya nama. Sikap tidak mau berguru karena guru tersebut tidak masyhur adalah kesombongan. Jika guru yang tidak masyhur tersebut orang yang banyak kebaikannya, maka manfaatnya lebih menyeluruh, dan menggali ilmu dari sisinya lebih sempurna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diantara faktor paling besar yang membantu menuntut ilmu, memahaminya, dan menyingkirkan kejenuhan, adalah makan dengan kadar ukuran yang sedikir dari yang halal. Hindarilah mengambil ilmu dari shahafiyyah yaitu orang-orang yang hanya belajar dari buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, hendaknya tunduk kepada gurunya dalam urusan-urusannya. Murid di hadapan gurunya seperti seorang pasien di depan dokter ahli, yakni tidak keluar dari pendapat dan pengaturan gurunya. Hendanya murid berusahan mendapatkan rida gurunya dalam apa yang dia kerjakan, menghormatinya secara mendalam, beribadah kepada Allah dengan berkhidmat kepada gurunya, menyadari bahwa merendahkan diri untuk gurunya merupakan kemuliaan, menundukkan diri kepada gurunya merupakan kebanggaan, dan tawadhu’ kepada gurunya merupakan ketinggian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Al-Ghazali berkata,</p>



<p class="wp-block-paragraph">لَا يُنَالُ العِلْمُ إِلَّا بِالتَّوَاضُعِ وَ إِلْقَاءِ السَّمْعِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;“Ilmu tidak diperoleh kecuali dengan tawadhu dan mendengar dengan baik.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Murid yang menyela penjelasan hanya karena ingin mendebat gurunya, maka dia sesungguhnya tidak belajar. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Allah <em>Subhanahu Ta’ala</em> telah mengingatkan hal ini pada kisah nabi Musa dan nabi Khidir ‘alaihuma as-salam dalam firmanNya,</p>



<p class="wp-block-paragraph">قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku.” <strong>(QS. Al-Kahfi: 67).</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/hal-hal-yang-semestinya-diperhatikan-seorang-murid/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Hal-hal Yang Semestinya Diperhatikan Seorang Murid</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal Nabi Musa memiliki martabat yang tinggi dari sisi kerasulan dan ilmu, Nabi Khidir menyaratkan agar Nabi Musa diam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri yang menerangkannya kepadamu” <strong>(QS. Al-Kahfi: 70).</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Nabi Musa, apa yang dilakukan Nabi Khidir itu salah. Tapi menurut Nabi Khidir apa yang dilakukannya itu benar hanya saja tidak terungkap pada Nabi Musa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, hendaknya murid memandang gurunya dengan mata penghormatan dan meyakini padanya derajat kesempurnaan, karena hal itu lebih membuka jalan baginya untuk menerima manfaat darinya. Jika murid tidak bisa memandang gurunya dengan pandangan kemuliaan, maka tidak bermulazamah dengannya adalah lebih selamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Wahai Murid, Beradablah bagi Dirimu Sendiri!</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian As-Salaf jika berangkat ke gurunya, dia bersedekah dengan sesuatu terlebih dahulu, dan berkata,</p>



<p class="wp-block-paragraph">اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ شَيْخِيْ عَنِّيْ وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّيْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;“ Ya Allah, tutuplah aib guruku dariku, dan jangan lenyapkan keberkahan ilmunya dariku.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak patut seorang murid memanggil gurunya dengan kata “engkau” atau “kamu”, atau memanggilnya dari jauh (teriak). Akan tetapi hendaknya murid memanggil gurunya, “Wahai tua; wahai Ustadz.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat tidak bersama guru, hendaknya tidak menyebut nama gurunya kecuali dengan menambah sesuatu yang menunjukkan penghormatan kepadanya, seperti berkata, “Syaikh atau Ustadz Fulan berkata…” atau “Syaikh kami berkata…” dan yang sepertinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun nama-nama para sahabat atau para salafus sholih atau ulama-ulama besar seperti as-Syafi’I, ar-Rabi’ dan sebagainya, terkadang disebut tanpa tambahan apapun, bukan karena tidak menghormati, akan tetapi nama-nama mereka sudah besar meski tanpa tambahan apapun dalam penyebutannya. Wallahua’lam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: <strong>Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</strong></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/">Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hal-hal Yang Semestinya Diperhatikan Seorang Murid</title>
		<link>https://generasifaqih.com/hal-hal-yang-semestinya-diperhatikan-seorang-murid/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/hal-hal-yang-semestinya-diperhatikan-seorang-murid/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2025 08:25:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3631</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan kali ini akan melanjutkan adab-adab tentang murid dengan dirinya sendiri. Yang keenam, diantara faktor paling besar yang membantu menuntut ilmu, memahaminya, dan menyingkirkan kejenuhan, adalah makan dengan kadar ukuran yang sedikit dari yang halal. Ibnu ar-Arumi dalam diwannya bersyair, &#8220;Sesungguhnya penyakit, kebanyakan yang kamu lihat pemicunya berasal dari makanan ... <a title="Hal-hal Yang Semestinya Diperhatikan Seorang Murid" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/hal-hal-yang-semestinya-diperhatikan-seorang-murid/" aria-label="Read more about Hal-hal Yang Semestinya Diperhatikan Seorang Murid">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/hal-hal-yang-semestinya-diperhatikan-seorang-murid/">Hal-hal Yang Semestinya Diperhatikan Seorang Murid</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tulisan kali ini akan melanjutkan adab-adab tentang murid dengan dirinya sendiri. Yang keenam, diantara faktor paling besar yang membantu menuntut ilmu, memahaminya, dan menyingkirkan kejenuhan, adalah makan dengan kadar ukuran yang sedikit dari yang halal. Ibnu ar-Arumi dalam diwannya bersyair, “Sesungguhnya penyakit, kebanyakan yang kamu lihat pemicunya berasal dari makanan atau minuman.” Tidak ada seorang wali dan imam ulama yang menyifati atau disifati sebagai orang yang bersyukur dengan banyak makan, dan dipuji karenanya, sebab yang dipuji karena banyak makan hanya hewan yang tidak berakal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perkara makan, seorang penuntut ilmu hendaknya tidak berlebihan meskipun itu makanan yang halal. Cukuplah makan untuk sekedar menegakkan tulang sulbinya. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,</p>



<p class="wp-block-paragraph">مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” <strong>(HR. Ahmad, 4:132 Tirmidzi 2380, dan Ibnu Majah 3349)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Wahai Murid, Beradablah bagi Dirimu Sendiri!</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketujuh, hendaknya menghiasi diri dengan sifat wara’ dalam segala urusannya, mengambil yang halal untuk makanan, minuman, pakaian, tempat tinggalnya, dan dalam segala apa yang dia dan keluarganya butuhkan, agar hatinya bercahaya dan layak untuk menerima ilmu dan cahaya ilmu, serta mengambil manfaat dari ilmu. Hendaknya penuntut ilmu meneladani Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam sifat wara’. Dikisahkan bahwa beliau tidak memakan sebiji kurma yang beliau temukan di jalan karena takut ia adalah kurma sedekah padahal kecil kemungkinan kurma itu harta sedekah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penuntut ilmu patut menggunakan rukhshah (keringanan) pada tempatnya saat dibutuhkan dan saat ada alasannya agar diteladani padanya. Karena&nbsp; sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai apabila rukhshah-rukhshahnya dilakukan sebagaimana Allah membenci kemaksiatan terhadapNya dilakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan, meminimalkan makanan yang memicu kebodohan. Hendaknya meminimalisir makanan yang merupakan sebab kelemahan akal dan ketumpulan indera seperti apel asam, baqilla, dan minum cuka, demikian juga makanan yang menyebabkan banyaknya dahak yang mengumpulkan otak dan memberatkan badan seperti banyak minum susu, makan ikan, dan yang sepertinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sembilan, hendaknya menyedikitkan tidur selama hal itu tidak berdampak negatif terhadap tubuh dan otaknya, tidak tidur lebih dari delapan jam dalam sehari semalam, yaitu sepertiga waktunya, jika dirinya bisa tidur kurang darinya, maka hendaknya dia melakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Boleh merehatkan diri manakala khawatir bosan. Sebagian ulama besar mengumpulkan murid-muridnya di sebagian tempat rekreasi di sebagian waktu dalam setahun, mereka bersenda gurau dengan sesuatu yang dibolehlan dalam agama, yang tidak menciderai kehormatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepuluh, hendaknya memutuskan pergaulan, karena meninggalkannya termasuk perkara yang paling penting bagi penuntut ilmu apalagi untuk lawan jenis dan khususnya untuk orang yang banyak main-mainnya dan sedikit berpikir, karena tabiat manusia itu menular.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diantara apa yang diriwayatkan dari Ali radhiyallahu’anhu, “Janganlah berkawan dengan orang bodoh, jauhi dia. Berapa banyak orang bodoh yang menjerumuskan orang yang berakal manakala dia berkawan dengannya. Seseorang ditimbang dengan orang lain manakala dia berjalan bersamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikianlah adab-adab seorang murid dengan dirinya sendiri. Semoga kita dapat mengamalkannya. Insya Allah selanjutnya akan dibahas adab murid bersama gurunya. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber : <strong>Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/hal-hal-yang-semestinya-diperhatikan-seorang-murid/">Hal-hal Yang Semestinya Diperhatikan Seorang Murid</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/hal-hal-yang-semestinya-diperhatikan-seorang-murid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wahai Murid, Beradablah bagi Dirimu Sendiri!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2025 01:23:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3620</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Seringkali problem murid saat belajar adalah kurang beradabnya mereka saat menuntut ilmu. Akibatnya belajar jadi tidak serius, ribut di kelas, bermain saat belajar, tidak menyimak penjelasan guru, tidak mematuhi perintah guru, dan sebagainya. Implikasinya ilmu yang diberikan tidak bisa melekat di dalam pikiran, serta nasihat yang didengar tidak kunjung merubah ... <a title="Wahai Murid, Beradablah bagi Dirimu Sendiri!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/" aria-label="Read more about Wahai Murid, Beradablah bagi Dirimu Sendiri!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/">Wahai Murid, Beradablah bagi Dirimu Sendiri!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong><br><br>Seringkali problem murid saat belajar adalah kurang beradabnya mereka saat menuntut ilmu. Akibatnya belajar jadi tidak serius, ribut di kelas, bermain saat belajar, tidak menyimak penjelasan guru, tidak mematuhi perintah guru, dan sebagainya. Implikasinya ilmu yang diberikan tidak bisa melekat di dalam pikiran, serta nasihat yang didengar tidak kunjung merubah perilakunya menjadi lebih baik, artinya ada masalah yang terjadi pada diri si murid, dan itu berkaitan dengan pemahamannya tentang adab dalam menuntut ilmu. Di tulisan kali ini, akan dibahas lima adab seorang murid terhadap dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, membersihkan hati dari sifat-sifat buruk agar layak menerima ilmu. Hendaknya murid membersihkan hatinya dari segala sifat curang, kotor, benci, hasad, keyakinan yang buruk dan akhlak tercela agar hatinya layak menerima ilmu dan menjaganya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada dua najis yang tak kasat mata (najis maknawi) mengotori hati, yaitu najis syahwat dan najis syubhat. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,</p>



<p class="wp-block-paragraph">أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)</em>” <strong>(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, niat yang baik dalam menuntut ilmu. Membaguskan niat dalam mencari ilmu yaitu mengharapkan wajah Allah Ta’ala. Ini dapat dilakukan dengan, berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya; berniat menghilangkan kebodohan dari umat; berniat untuk mengamalkan ilmu, dan untuk menghidupkan syari’at.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, memanfaatkan waktu dan memfokuskan hati di atas ilmu. Menggunakan masa muda dan waktu-waktu hidupnya untuk menuntut ilmu dan tidak tertipu dengan angan-angan penundaan. Misalnya dengan berupaya memutus interaksi yang menyibukkannya sehingga mengalihkan tujuan dia menuntut ilmu; melewati rintangan-rintangan misalnya sulit dalam memahami pelajaran; dan mencurahkan kesungguhannya dalam mencari ilmu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menuntut ilmu butuh <em>jam’ul qolbi</em> (memokuskan hati) dan <em>ijtima’ul fikri</em> (menyatukan pikiran). Karena jika pikirannya bercabang maka ia akan lemah dalam mengetahui hakikat-hakikat dan hal-hal yang detail.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keempat, qana’ah dengan sedikit harta dan bersabar di atas kemiskinan demi menuntut ilmu. Hendaknya merasa cukup dengan apa yang mudah dari makanan pokok meskipun sedikit, dan pakaian yang cukup menutupi aurat meski tidak baru, dan bersabat atas kesederhanaan hidup. Dengan ini dia fokus mendapatkan ilmu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Syafi’I pernah berkata, “Seseorang tidak menuntut ilmu ini dengan kerajaan dan kemuliaan jiwa lalu dia beruntung, akan tetapi siapa yang menuntutnya dengan kerendahan jiwa, kesempitan hidup, dan berkhidmat kepada para ulama, dialah yang beruntung.” Bentuk khidmat murid yang paling utama adalah memahami apa yang disampaikan gurunya, kemudian dia mengamalkannya dan menyebarkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelima, hendaknya murid membagi waktu siang dan malamnya, memanfaatkan sisa umurnya, karena sisa umur manusia tidak ternilai, dan waktu yang paling bagus untuk menghafal adalah waktu sahur, untuk mengkaji adalah pagi hari, untuk menulis adalah tengah hari,&nbsp; dan untuk membaca dan muraja’ah adalah malam hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nasihat ulama untuk aktifitas belajar:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Waktu menghafal paling bagus adalah waktu sahur, kemudian tengah hari, kemudian pagi hari.</li>



<li>Menghafal di saat lapar lebih efektif daripada di saat kenyang.</li>



<li>Tempat menghafal paling bagus adalah kamar dan tempat-tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan hati.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">In sya Allah adab-adab berikutnya akan dilanjutkan di tulisan berikutnya. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sumber: Kajian Kitab Tadzakiratussami’ wal mutakallim</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/">Wahai Murid, Beradablah bagi Dirimu Sendiri!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2025 07:44:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan ini melanjutkan adab-adab seorang guru dengan para murid dan majelisnya. Pertama, jika seorang murid dalam menuntut ilmu mengambil cara yang di luar kesanggupan dirinya untuk memikul, sementara guru khawatir itu akan membuat murid menjadi jenuh, maka guru menasihatinya agar bersikap seimbang terhadap dirinya. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda,&#160; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618;&#160;&#1571;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610; ... <a title="Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/" aria-label="Read more about Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/">Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tulisan ini melanjutkan adab-adab seorang guru dengan para murid dan majelisnya. Pertama, jika seorang murid dalam menuntut ilmu mengambil cara yang di luar kesanggupan dirinya untuk memikul, sementara guru khawatir itu akan membuat murid menjadi jenuh, maka guru menasihatinya agar bersikap seimbang terhadap dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, </p>



<p class="wp-block-paragraph">عَنْ&nbsp;أَبِي هُرَيْرَةَ&nbsp;رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:&nbsp;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ ( وَفِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ: لَمْ يُدْخِلْ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ). قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللهُ بِرَحْمَةٍ؛ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوْا.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “Amal seseorang dari kalian tidak akan menyelamatkannya,” Mereka berkata, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Termasuk aku, hanya saja Allah menyelimutiku dengan rahmatNya, berlakulah pertengahan, manfaatkan waktu pagi dan petang, serta sebagian waktu akhir malam, seimbanglah, seimbanglah, niscaya kalian sampai ke tujuan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menuntut ilmu itu butuh proses <em>tajarrud</em> (secara bertahap), tidak bisa instan sehingga harus dilakukan dengan rutin. Namun, aktivitas yang sifatnya rutinitas berpotensi membuat bosan. Guru boleh menyarankan murid untuk melakukan hal-hal yang mubah sebagai hiburan untuk menghilangkan kebosanan belajar. Namun tidak pula berlama-lama dengan hiburan tersebut. Cukuplah sehari atau dua hari saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaklah guru tidak menganjurkan murid belajar sesuatu yang pemahaman atau usianya tidak kuasa memikulnya, atau sebuah kitab yang akalnya tidak menjangkau pemahamannya. Jika seseorang meminta pendapat guru dalam urusan membaca kitab atau belajar sebuah ilmu, namun guru tidak mengetahui keadaannya dari sisi pemahaman dan kemampuan hafalannya, maka guru tidak boleh menganjurkan apapun sebelum menjajaki pemahaman muridnya. Namun jika tidak memungkinkan untuk menunda jawaban maka guru mengarahkannya ke satu kitab yang mudah dalam disiplin ilmu yang dimaksud.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika guru melihat akal murid mampu dan pemahamannya bagus, maka guru mengalihkannya ke sebuah kitab yang layak baginya. Hal itu karena akan mengalihkan murid kepada sesuatu yang pengalihan itu menunjukkan ketajaman akalnya dan menambah ketenangannya. Sebaliknya, jika guru tidak melihat murid mampu secara pemahamannya, maka guru membiarkannya, karena jika guru memberi pemahaman yang sulit itu justru akan mengurangi semangatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika guru mengetahui atau menduga bahwa murid tidak berbakat di salah satu bidang ilmu, maka guru menyarankannya untuk beralih ke bidang ilmu lain yang mungkin dia kuasai dengan baik. Guru tidak membuka jalan bagi murid untuk menyibukkan diri pada dua atau lebih disiplin ilmu jika murid tidak mampu menguasainya dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, hendaknya guru menyebutkan kepada murid, kaidah-kaidah disiplin ilmu yang general, baik secara mutlak maupun yang umum. Contoh kaidah yang mutlak (tidak butuh bukti) adalah pelaku yang secara langsung menjadi penyebab suatu masalah maka didahulukan tanggung jawab kepadanya.Contoh kaidah umum:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Setiap sumpah bahwa seseorang tidak melakukan sesuatu, sama artinya dengan panafian terhadap informasi sebelumnya (bahwa seseorang itu telah bebuat sesuatu yang dimaksud). Kaidah ini  dikecualikan terhadap tuduhan atas tuan seorang budak yang budaknya melakukan tindak kejahatan.</li>



<li>Semua ibadah itu pelakunya batal ibadahnya jika melakukan hal-hal yang membatalkan ibadah tersebut atau pelakunya menafikan ibadah tersebut (sebelum ibadah tersebut belum tuntas dikerjakan), kecuali ibadah haji dan umroh.</li>



<li>Setiap wudhu wajib tertib kecuali wudhu yang diselingi mandi junub. Dll.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya guru menyebutkan kepada murid tangga demi tangga ilmu yang&nbsp; harus dilewati sebelum mempelajari suatu ilmu tertentu. Hendaknya juga guru menyebutkan masalah-masalah unik yang jarang terjadi. Hendaknya guru juga menyebutkan pengetahuan umum yang harus diketahui murid, misalnya nama-nama sahabat, tabi’in, para imam, para ahli zuhud, dan orang-orang shalih. Hendaknya pula guru berhati-hati dari sifat merasa tersaingi dengan murid-muridnya. Karena pahala keutaman murid sesungguhnya akan berpulang kepada guru, meski murid lebih unggul ilmunya di kemudian hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, hendaknya guru tidak memperlihatkan kecenderungannya kepada sebagian murid atas sebagian yang lain misalnya dalam hal perhatian, apresiasi, pemuliaan dan sebagainya kecuali jika tindakan tersebut untuk memotivasi murid yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keempat, hendaknya guru mengawasi adab, perilaku, dan akhlak murid, lahir dan batin. Guru bisa meluruskan yang salah dari murid dengan sindiran. Jika tidak mempan, maka dengan nasihat secara rahasia. Jika tidak mempan juga, maka dengan larangan secara terbuka, dan seterusnya, sampai murid jera dan mau mengambil pelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sungguh luar biasa adab-adab seorang guru kepada muridnya. Seandainya adab-adab ini diterapkan oleh setiap guru maka yang tercipta adalah hubungan kasih sayang yang kuat secara timbal balik. Karena murid sesungguhnya butuh bimbingan bukan disalah-salahkan. Karena membimbing mereka akan menunjukkan kebenaran setelah kesalahannya. Sementara menyalah-nyalahkannya saja hanya membuka pintu kebencian di kemudian hari. <em>Wallahu’alam bish showab []</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhamdulillah, pembahasan tentang adab-adab seorang guru dengan para murid dan majelisnya telah selesai. Selanjutnya akan dibahas adab-adab murid terhadap dirinya sendiri, insya Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: Kajian Kitab Tadzakiratussami’ wal mutakallim.</p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/">Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2025 15:03:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3455</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan ini melanjutkan pembahasan tentang adab-adab seorang guru terhadap murid dan majelisnya. Karena sejatinya, seorang guru adalah wujud langsung yang ditiru oleh murid. Maka, adab dalam mengajar adalah ilmu yang harus dikuasai dan dipraktikkan oleh guru. Sewaktu SMA dulu, saya pernah mendapat cerita dari adik kelas. Sewaktu pelajaran Kimia, ada ... <a title="Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/" aria-label="Read more about Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh :<strong> Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tulisan ini melanjutkan pembahasan tentang adab-adab seorang guru terhadap murid dan majelisnya. Karena sejatinya, seorang guru adalah wujud langsung yang ditiru oleh murid. Maka, adab dalam mengajar adalah ilmu yang harus dikuasai dan dipraktikkan oleh guru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu SMA dulu, saya pernah mendapat cerita dari adik kelas. Sewaktu pelajaran Kimia, ada salah satu temannya yang bertanya tentang sebuah istilah asing pada gurunya. Mengejutkan, gurunya justru mengejeknya dengan kalimat tidak pantas dengan menjudge bahwa murid yang bertanya tadi bodoh karena sudah dijelaskan tapi tidak juga mengerti. Seketika murid tersebut merasa sangat malu. Kejadian itu bisa jadi membuat si murid trauma dan tidak mau bertanya lagi di lain waktu. Inilah pentingnya seorang guru memiliki adab di depan murid-muridnya. Pada tulisan ini akan dibahas tiga adab lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membuat murid paham. Tipsnya adalah dengan tidak memperbanyak penjelasan sehingga melampaui daya tampung otaknya. Guru dapat memulai pengajaran dengan menggambarkan masalah-masalah tertentu kemudian menjelaskannya dengan contoh. Adapun untuk murid yang level berpikirnya lebih tinggi, guru dapat menyertakan dalil-dalil yang mendukung, menjelaskan makna-makna dari hikmah-hikmah yang ada pada masalah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam menjelaskan pelajaran, guru boleh menyebutkan kata-kata tabu jika memang dibutuhkan. Tetapi apabila kata-kata tabu tersebut dapat diwakilkan dengan kata kiasan yang diketahui oleh semua orang, maka lebih baik menggunakan kata kiasan. Demikian pula, jika ada diantara murid yang murid itu akan malu apabila guru mengucapkan kata-kata tertentu, maka guru harus menggunakan kata lain untuk menjelaskan maksud yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adab ini selaras dengan firman Allah Ta’ala :</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph"><strong>اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ </strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” <strong>(QS. An-Nahl: 125)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, jika guru telah selesai menjelaskan pelajaran, dia boleh melontarkan beberapa masalah yang berkaitan dengan pelajaran kepada para murid dengan tujuan untuk menguji pemahaman dan daya serap mereka terhadap apa yang guru jelaskan kepada mereka. Murid yang jawabannya benar, maka guru memujinya. Murid yang belum paham, maka guru mengulang pelajaran tersebut dengan lemah lembut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuan guru melontarkan beberapa masalah adalah untuk mengetahui sejauh mana murid memahami pelajaran. Karena kemungkinan ada murid yang malu untuk mengakui bahwa dirinya belum paham, atau ada pula murid yang tidak ingin membebani gurunya dengan mengulang penjelasan. Ada pula murid yang mengurungkan niat bertanya karena sempitnya waktu. Bisa jadi pula ada murid yang malu dengan teman-temannya karena minta dijelaskan ulang sehingga menghambat bacaan teman-temannya yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karenanya, tidak patut bagi guru sering-sering bertanya kepada murid, “apakah kamu sudah mengerti?” kecuali jika dijamin bahwa murid akan jujur dengan menjawab, “saya belum paham.” Karena bisa jadi murid berdusta dengan menjawab dia sudah paham padahal sebenarnya dia belum paham. Jika guru bertanya “apakah kamu sudah paham?” dan murid mengatakan “ya sudah paham” maka guru tidak pelu melontarkan masalah lagi kecuali murid yang memintanya. Karena bisa jadi jika diminta menjawab dan jawabannya kurang tepat, maka murid tersebut akan malu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru harus mampu menjaga situasi majelisnya agar tidak ada seorang murid yang merasa malu atau minder. Karena hal ini justru akan membuat motivasi belajar murid berkurang. Di dalam sirah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyelematkan seorang sahabat dari dari malu akibat dia kentut saat sedang ramai-ramai dengan sahabat lainnya menyantap hidangan daging onta di masjid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, hendaknya meminta sebagian murid agar memuraja’ah hafalan-hafalan di sebagian kesempatan, menjajaki daya serap mereka terhadap apa yang guru ajarkan kepada mereka berupa kaidah-kaidah penting dan masalah-masalah atau dalil yang guru sebutkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru boleh memuji dan berterimakasih kepada murid yang menjawab benar di depan teman-temannya jika tidak dikhawatirkan timbul rasa ujub pada diri si murid itu, agar menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain untuk bersungguh-sungguh dalam meningkatkan ilmu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Murid yang terlihat lalai, maka guru boleh menasihatinya dengan tegas apabila ketegasan itu tidak membuat si murid lari. Jika muridnya justru bisa termotivasi belajarnya dengan nasihat tegas maka guru boleh melakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa menjadi seorang guru adalah tugas yang sangat mulia. Guru yang memahami adab-adabnya kepada murid tidak hanya mengajarkan pemahaman yang benar, bahkan sampai adab bertanya kepada murid dan menasihati mereka juga diperhatikan dengan hati-hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wallahu a’lam bis showab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: Kajian Kitab <em>Tadzakiratussami’ wal mutakallim.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2025 02:59:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[generasi faqih]]></category>
		<category><![CDATA[generasifaqih]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[guru menutup pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[kafaratul majlis]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan kali ini menyempurnakan pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Adab-adab ini penting dihadirkan seorang guru di hadapan &#160;murid-muridnya, bahkan mampu menampakkan kewibawaan dirinya. Pertama, memperlakukan para murid dengan baik dan memerhatikan kebaikan mereka saat pelajaran. Seorang pelajar adalah seseorang yang sedang berproses untuk membentuk akhlak mulia pada dirinya. Dalam ... <a title="Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" aria-label="Read more about Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tulisan kali ini menyempurnakan pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Adab-adab ini penting dihadirkan seorang guru di hadapan &nbsp;murid-muridnya, bahkan mampu menampakkan kewibawaan dirinya. Pertama, memperlakukan para murid dengan baik dan memerhatikan kebaikan mereka saat pelajaran. Seorang pelajar adalah seseorang yang sedang berproses untuk membentuk akhlak mulia pada dirinya. Dalam perjalanan belajarnya, tentulah seorang guru menghadapi keburukan-keburukan akhlak mereka agar dapat diperbaiki. Guru harus memahami bahwa yang sedang ia hadapi adalah manusia dan bukan robot. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kesabaran yang luas. Maka hendaknya, guru senantiasa bersikap ramah dan berwajah menyenangkan di depan murid-muridnya. Apakah ia murid baru ataukah murid lama. Khusus untuk murid yang baru, maka seorang guru harus memahami bahwa jika ia tidak bersikap ramah, maka hal itu akan membuat sang murid merasa canggung. Namun, guru juga tidak perlu banyak memandangnya dan menoleh heran kepadanya, karena hal itu akan membuat sang murid malu dan semakin canggung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam majelis para ulama, kadangkala saat mereka mengajar ada orang-orang mulia yang datang di tengah-tengah saat majelis berlangsung. Jika kondisinya seperti ini, maka guru hendaknya diam sejenak sampai orang mulia itu duduk atau mengulang pembahasan masalah untuknya. Ada pula kondisi ada seorang ahli fikih yang datang di ujung waktu majelis. Bagaimana guru menyikapinya? Maka hendaknya guru menunda menutup majelisnya hingga ahli fikih itu duduk, kemudian ia menyempurnakan pembahasan agar yang datang tidak malu karena hadirin berdiri saat dia duduk. Demikianlah cara guru menjaga adab di depan orang yang berilmu. Artinya, seorang guru sedang memerhatikan kebaikan orang-orang yang hadir di majelisnya dengan tidak memajukan atau memundurkan waktu jika tidak ada alasan mendesak dan tidak menambah beban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, adab menutup pelajaran. Biasanya sebelum menutup pelajaran, guru merangkum inti materi yang telah ia sampaikan. Guru harus bersikap tawadhu’ terhadap ilmunya, karena tidaklah ia mungkin bisa menyampaikan satu ilmu kecuali atas izin dari pemilik ilmu, Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>. Oleh karena itu, hendaklah setiap kali ia menutup pelajaran ia mengatakan “Ini adalah akhirnya” atau “dan yang sesudahnya akan hadir insya Allah”. Lalu ia menyertakannya dengan ucapan <em>wallahua’alam</em> yang bermakna Allahlah yang Maha Mengetahui. Setelah kelas atau majelis ditutup maka hendaknya guru menunggu sejenak hingga semuanya beranjak. Hal ini memberikan beberapa faidah kepada guru, diantaranya adalah guru tidak berdesak-desakan dengan murid; jika pada sebagian murid masih ada pertanyaan, dia bisa bertanya; tidak berkendara di tengah-tengah muridnya jika ia berkendara; dll. Kemudian manakala ia bangkit dari majelisnya ia mengucapkan do’a penutup majelis, <em>subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu anlaa ilaa ha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik..</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, tidak mengajar sebelum dirinya mampu atau kapabel. Hendaknya guru tidak duduk di tempat mengajar bila belum kapabel untuk mengajar. Ia tidak menyampaikan kepada manusia ilmu yang tidak diketahuinya, karena hal itu berarti mempermainkan agama dan melecehkan masyarakat. </p>



<p class="has-text-align-left wp-block-paragraph">Dari Asy-Syibli, </p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph"><strong>مَنْ أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَ وَهُوَ لَمْ يَكُنْ أَهْلًا لَهُ فَقَدْ حَفَرَ لِنَفْسِهِ حُفْرَةَ الذُّلِّ</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barangsiapa mengajar sebelum masanya (belum kapabel) maka dia menggali lubang kehinaan bagi dirinya sendiri.”<sup data-fn="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd" class="fn"><a id="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd-link" href="#1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd">1</a></sup></p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang yang berakal adalah orang yang menjaga dirinya dari sesuatu yang menyebabkan siapa yang terjerumus ke dalamnya dinilai kurang, siapa yang melakukannya dianggap zalim, dan siapa yang bersikukuh mempertahankannya dipandang fasik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhamdulillah, telah selesai pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Pembahasan selanjutnya adab-adab seorang guru terhadap muridnya in sya Allah akan hadir. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</p>


<ol class="wp-block-footnotes"><li id="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd"><strong>Imam Abu Hanifah rahimahullah</strong>, menyampaikan bahwa siapa yang mengejar kepemimpinan sebelum waktunya, maka ia akan menanggung kehinaan seumur hidupnya. Ungkapan serupa ini muncul dalam konteks nasihat tentang kewajiban kompetensi sebelum mengajar (disarikan dari <em>Adabul Alim wal Muta’allim</em> karya H. M. Hasyim Asy’ari) <a href="#1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd-link" aria-label="Jump to footnote reference 1"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li></ol>


<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2025 02:25:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[HOPE Method]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[pendidik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3348</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan kali ini akan membahas tentang adab-adab seorang guru bersama muridnya dan majelisnya. Hari ini, dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak kasus yang terjadi di sekolah-sekolah melibatkan antara guru dengan muridnya sendiri hingga tingkat yang paling parah. Padahal, diantara aktivitas paling mulia dalam kehidupan manusia adalah mengajari ... <a title="Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/" aria-label="Read more about Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/">Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tulisan kali ini akan membahas tentang adab-adab seorang guru bersama muridnya dan majelisnya. Hari ini, dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak kasus yang terjadi di sekolah-sekolah melibatkan antara guru dengan muridnya sendiri hingga tingkat yang paling parah. Padahal, diantara aktivitas paling mulia dalam kehidupan manusia adalah mengajari mereka ilmu, terlebih lagi ilmu syari’at. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah, malaikat-malaikat-Nya, dan penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya, bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu masalah ini bersifat sistemik, namun setidaknya dapat diminalisir dengan memahami adab-adab antara guru dengan muridnya serta mengamalakannya. Pertama, hendaknya tujuan dari mengajar para murid adalah wajah Allah Ta’ala, menyebarkan ilmu, menghidupkan syariat, meninggikan kalimat kebenaran, memadamkan kebatilan, mempertahankan kebaikan untuk umat dengan banyaknya para ulama, mewujudkan keberkahan doa mereka untuknya dan doa rahmat dari mereka untuknya, memasukkannya ke dalam rangkaian gerbong ilmu diantara Rasulullah dengan mereka, mencakupkannya ke dalam rombongan muballigh wahyu Allah dan hukum &#8211; hukum-Nya. Guru hendaknya meyakini bahwa mengajarkan ilmu termasuk urusan agama yang paling penting dan derajat tertinggi orang-orang mukmin. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian Salaf berkata, </p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph"><strong>طَلَبْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ، فَأَبَى أَنْ يَكُونَ إِلَّا للهِ</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami mencari ilmu karena selain Allah, namun ilmu menolak kecuali karena Allah.”<sup data-fn="d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd" class="fn"><a id="d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd-link" href="#d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd">1</a></sup></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kedua,</strong> hendaknya tidak menolak mengajar murid hanya karena niat murid belum ikhlas, karena niat ikhlas diharapkan akan terwujud baginya menyusul keberkahan ilmu. Jika murid pemula terasa belum ikhlas, maka sang guru perlu mendorong murid untuk berniat ikhlas secara bertahap melalui perkataan dan perbuatannya. Ada sebuah kalam ulama yang sangat bagus untuk kira renungkan. <em>“Membentuk adab itu dari qudwah sang guru. Adanya mahabbah dari guru ke murid dan sebaliknya melahirkan doa-doa dari guru ke murid-muridnya.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga,</strong> hendaknya memotivasi murid untuk menuntut ilmu dalam berbagai kesempatan dengan menjelaskan keutamaan-keutamaan yang akan diberikan Allah kepada para penuntut ilmu, yakni derajat yang mulia. Juga hendaknya mendorong murid untuk membatasi diri terhadap dunia dengan sikap qana’ah agar hatinya tidak sibuk dan fokusnya tidak terpecah karena ambisi duniawi. Sebab, fokus kepada ilmu akan menenangkan dadanya, lebih mulia untuk dirinya, lebih tinggi bagi kedudukannya, lebih meminimalkan orang-orang yang hasad terhadapnya, dan lebih membantunya menjaga ilmu dan meningkatkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktanya, motivasi semangat belajar atau aktivitas apapun efektif disampaikan melalui cerita. Menceritakan kisah kegigihan dan kezuhudan para ulma terdahulu terhadap ilmu dapat memberikan motivasi kepada murid untuk terus memiliki keinginan yang besar dalam meraih ilmu. Sebab para nabi dan rasul tidaklah mewarisi dinar dan dirham, melainkan mewarisi ilmu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Keempat,</strong> hendaknya mencintai untuk murid apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, </p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph"><strong>لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Seseorang dari kalian tidak beriman sehingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya.” <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Abbas berkata, </p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph"><strong>أَفْضَلُ النّاسِ عِنْدِي تَلامِيذِي الَّذِينَ يَأْتُونَ مَجْلِسِي وَيَطْأُونَ ظُهُورَ النَّاسِ، وَلَوْ أَسْتَطَعْتُ لَمَنعْتُ عَنْهُمُ الذُّبَابَ</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Manusia yang paling mulia adalah muridku yang datang ke majelis ku dengan melangkahi puundak orang-orang. Seandainya aku mampu agar lalat tidak hingga padanya, pasti aku lakukan,”<sup data-fn="3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b" class="fn"><a id="3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b-link" href="#3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b">2</a></sup></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya guru memerhatikan kemaslahatan muridnya seperti memperlakukan anaknya sendiri yang paling ia kasihi, bersabar atas perilakunya yang tidak sopan yang mungkin terjadi, bersabar atas kekurangannya, dan membuka maaf sebisa mungkin. Namun, hendaknya guru meluruskan apa yang dilakukan muridnya dengan kasih sayang dan lemah lembut, bukan dengan kekerasan, karena tujuannya adalah mendidiknya dengan baik, membaguskan akhlaknya, dan memperbaiki kehidupannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelima, hendaknya menyampaikan materi pelajaran dengan mudah dan memahamkan murid dengan lemah lembut, apalagi jika murid itu layak untuk diperlakukan demikian karena adabnya yang baik dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hendaknya guru memotivasi murid untuk mencatat faidah-faidah dan mengingat masalah-masalah yang unik. Hendaknya juga guru tidak menahan berbagai macam ilmu yang ditanyakan murid sementara murid layak mengetahuinya, karena hal itu bisa menyempitkan dada, menggalaukan hati, dan melahirkan ketidaknyamanan. Namun guru juga tidak boleh menyampaikan apa yang belum layak didengar murid, karena hal itu bisa mengacaukan pikiran dan memecahkan pemahamannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Wallahua’lam bish showab.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: Kajian Kitab <em>Tadzakiratussami’ wal mutakallim.</em></p>


<ol class="wp-block-footnotes"><li id="d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd">Ucapan ini memang <strong>masyhur</strong> di kalangan ulama Salaf, dan biasanya dinisbatkan kepada beberapa tokoh seperti <strong>Sufyan ats-Tsauri</strong>, <strong>al-Zuhri</strong>, atau <strong>Imam al-Ghazali</strong> dalam versi yang senada <a href="#d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd-link" aria-label="Jump to footnote reference 1"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li><li id="3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b">Ucapan ini disebutkan oleh <strong>Ibnu Jama‘ah al‑Kinani asy‑Syāfi‘ī</strong> dalam karyanya <em>Tadzkirat as‑Sāmi‘</em>, mengutip sebuah tradisi lisan yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu <a href="#3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b-link" aria-label="Jump to footnote reference 2"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li></ol>


<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/">Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
