Oleh : Rizal Muharam, A.Md.Farm, CETC, CHOPE
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Ingatkah Anda ketika pertama kali menggunakan ponsel? Beberapa orang pengguna ponsel yang baru pertama kali tentunya akan beradaptasi dengan sebuah perangkat nirkabel yang bisa menghubungkan antara satu orang dengan orang yang lain di waktu & tempat yang berbeda secara real time.
Bagaimana jika pengguna tersebut ternyata mengalami kesulitan dalam mengoperasikan perangkat ponselnya? Apa yang akan ia lakukan? Betul sekali, ia mungkin akan membuka buku panduan, melihat tutorial atau bertanya kepada orang yang lebih mengerti tentang ponsel.
Ikhwah fillah tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia, dalam keadaan Fitrah, seperti yang disampaikan oleh baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayhi wasallam :
”Setiap anak terlahir dalam keadaan Fitrah. Orang tuanya lah yang membuat dia Yahudi, Nasrani dan Majusi” (HR. Muslim)
Namun sebenarnya, apakah definisi dari Fitrah itu? Dalam konsep Fitrah Based Education yang digagas oleh ustadz Harry Santosa Allahuyarham, fitrah adalah potensi bawaan suci yang telah ditanamkan Allah pada setiap manusia sejak lahir, berupa kecenderungan untuk mengenal & menyembah-Nya, berbuat baik, menerima kebenaran untuk mencapai tujuan penciptaan sebagai hamba Allah dan Khalifah di bumi.
Potensi dalam pemahaman yang pernah kami pelajari hanya akan menjadi pasif tatkala tidak dilatih, atau tidak dirawat dengan cara-cara yang selaras dengan panduan yang sudah diajarkan oleh Allah Al – Khalik melalui sosok teladan terbaik yang Dia pilih yaitu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayhi wasallam.
Namun kecenderungan baik dari fitrah tersebut akan hilang bahkan menyimpang tatkala orang tua, pendidik dan/atau lingkungannya tidak tepat atau salah dalam proses mendidiknya. Persis seperti apa yang Rasul Saw sampaikan dalam konteks hadist di atas.
Baca Juga : Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama
Analogi sederhananya adalah yang paling tahu tentang perangkat produk-produk Apple adalah Steve Jobs. Dan yang paling tahu tentang ciptaannya adalah Sang Penciptanya yaitu Allah Ta’ala.
Peran menumbuhkan Fitrah anak adalah tugas orang tua sebagai pendidik awal seorang anak, ini keadaan ideal, karena tidak semua orang tua paham akan peran vital ini. Namun terlepas dari ada atau tidaknya peran orang tua, akan ada satu masa orang tua membutuhkan peran pihak ke 3 dalam proses mendidik anak-anaknya. Disinilah peran guru sebagai pendidik selanjutnya.
Jika berkaca pada sejarah kejayaan Islam, ada pepatah yang barangkali sangat cocok menggambarkan sebuah keadaan ini, yakni behind a success student there’s a teacher, dibalik sosok hebat (dalam sejarah Islam) adalah kontribusi guru yang berperan.
- Dibalik kemuliaan Sayyidah Maryam Binti Imran, ada peran paman sekaligus guru yakni Nabi Zakariya a.s.
- Dibalik Pembebasan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih, ada peran guru-guru spiritualnya yakni Syekh Ahmad Al Qur’ani & Aq Syamsudin
- Dibalik kecemerlangan sosok Khalifah Abdul Aziz bin Marwan adalah peran Salih bin Kaysan yang membentuk karakter sang Khalifah Ar Rasyid ke 5.
- Dan tentu saja, dibalik kehebatan & kemuliaan karakter para sahabat khulafaur rasyidin ada peran baginda Rasulullah Saw.
Insya Allah bangsa kita tidak kekurangan guru, betul ya? Dan pemerintah pun terus berusaha untuk membangun kurikulum, kompetensi para guru dengan berbagai pelatihan, seminar, uji kompetensi & beragam sertifikasi. Namun pertanyaannya, bagaimana dengan kondisi anak didik kita hari ini? Subhanallah, sangatlah mudah untuk mencari berita tentang kasus-kasus anak usia sekolah di internet yang melakukan berbagai pelanggaran & kemaksiatan.
Tentu kita semua sangat mengapresiasi peran & kontribusi dari para guru yang masya Allah tugasnya sangat-sangat mulia karena apa yang dilakukan oleh para guru adalah pekerjaan yang juga dilakukan oleh para Nabi & Rasul.
Akan tetapi akar masalahnya barangkali bukan pada tataran kompetensi para guru, namun pada metode yang jauh berbeda dengan cara yang dilakukan oleh Rasulullah Saw sang guru.
Baca Juga : Rahasia Sukses Belajar untuk Dunia dan Akhirat
Kita kembali pada sejarah, estafet pembebasan kota Baitul Maqdis di era perang salib dimulai dari Imam Ibnu Asakir mengomentari cara sultan Nuruddin Mahmud membawa pedangnya dan menuntun kendarannya yang tidak sesuai Sunah Nabi Saw. Imam Ibnu Asakir berkata kepada Sultan Nuruddin, ”wahai sultan, bagaimana engkau akan menang & dimenangkan oleh Allah sementara Anda menuntun kendaraan Anda dan cara Anda memegang pedang Anda tidak sesuai Sunah?”
Apakah kalimat yang sama yang disampaikan oleh Imam Ibnu Asakir kepada sultan Nuruddin juga bisa kita terapkan di dalam konteks Pendidikan? Bagaimana umat ini akan bangkit jika metode pendidikannya tidak sesuai sunnah?
Maka disinilah hadir metode HOPE atau Holistic Prophetic Education untuk membersamai para guru menuju the next level, dari paradigma guru hanya sebatas transfer of knowledge menjadi guru yang juga berperan dalam transfer of character. Bukan sekedar guru yang ”kebetulan” tetapi guru yang betulan, yang dengan penuh rasa syukur dalam menjalani profesinya, sabar & ikhlas dalam mengawal tumbuh kembang peserta didiknya, dan punya visi akhirat dalam menjalankan perannya sebagai guru.
Metode HOPE yang diramu secara apik dan terstruktur oleh Ustadz Abdullah Efendi, S.Pd, M.Pd, seorang mu’alim, konsultan pendidikan Islam dan founder LPK Faqqih Fiddin adalah sebuah metode yang berisi tentang dokumentasi & panduan cara-cara Rasulullah Saw dalam membangun peradaban sebuah bangsa yang dahulu Jahiliyah menjadi generasi-generasi terbaik yang kualitas, karya & kontribusinya terkonfirmasi oleh catatan sejarah mana pun di dunia ini.
Terakhir, ada sebuah pepatah yang berbunyi, it takes a village to raise a child, atau perlu kerjasama orang satu kampung dalam mendidik seorang anak. Kebenaran generasi kita di masa depan tentu ini adalah tugas besar bahkan sangat besar, bukan pekerjaan satu atau dua tahun selesai, dan tidak bisa jika hanya mengandalkan peran guru semata. Orang tua adalah juga pendidik, masyarakat juga adalah pendidik. Mari bersama menjadi bagian yang ikut membumikan, memviralkan dan mengamalkan metode HOPE dengan mengharap keridha-an Allah Swt dan mengharap syafaat dari Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wasallam.
Wassalamu’alaykum Wr. Wb.
Referensi:
- Ecourse www.saforiginal.id Series Pembebas Al Aqsha
- Buku Sentuhan Parenting karya ustadz Budi Ashari, Lc
- Ecourse Fitrah Based Education


