<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>generasi faqih Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<atom:link href="https://generasifaqih.com/tag/generasi-faqih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://generasifaqih.com/tag/generasi-faqih/</link>
	<description>Wujudkan Pendidikan Islam Terbaik, Lahirkan Generasi Faqih Fiddin</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jul 2025 03:08:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://generasifaqih.com/wp-content/uploads/2024/03/cropped-Daily-removebg-preview-32x32.png</url>
	<title>generasi faqih Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<link>https://generasifaqih.com/tag/generasi-faqih/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2025 02:59:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[generasi faqih]]></category>
		<category><![CDATA[generasifaqih]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[guru menutup pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[kafaratul majlis]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan kali ini menyempurnakan pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Adab-adab ini penting dihadirkan seorang guru di hadapan &#160;murid-muridnya, bahkan mampu menampakkan kewibawaan dirinya. Pertama, memperlakukan para murid dengan baik dan memerhatikan kebaikan mereka saat pelajaran. Seorang pelajar adalah seseorang yang sedang berproses untuk membentuk akhlak mulia pada dirinya. Dalam ... <a title="Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" aria-label="Read more about Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan kali ini menyempurnakan pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Adab-adab ini penting dihadirkan seorang guru di hadapan &nbsp;murid-muridnya, bahkan mampu menampakkan kewibawaan dirinya. Pertama, memperlakukan para murid dengan baik dan memerhatikan kebaikan mereka saat pelajaran. Seorang pelajar adalah seseorang yang sedang berproses untuk membentuk akhlak mulia pada dirinya. Dalam perjalanan belajarnya, tentulah seorang guru menghadapi keburukan-keburukan akhlak mereka agar dapat diperbaiki. Guru harus memahami bahwa yang sedang ia hadapi adalah manusia dan bukan robot. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kesabaran yang luas. Maka hendaknya, guru senantiasa bersikap ramah dan berwajah menyenangkan di depan murid-muridnya. Apakah ia murid baru ataukah murid lama. Khusus untuk murid yang baru, maka seorang guru harus memahami bahwa jika ia tidak bersikap ramah, maka hal itu akan membuat sang murid merasa canggung. Namun, guru juga tidak perlu banyak memandangnya dan menoleh heran kepadanya, karena hal itu akan membuat sang murid malu dan semakin canggung.</p>



<p>Di dalam majelis para ulama, kadangkala saat mereka mengajar ada orang-orang mulia yang datang di tengah-tengah saat majelis berlangsung. Jika kondisinya seperti ini, maka guru hendaknya diam sejenak sampai orang mulia itu duduk atau mengulang pembahasan masalah untuknya. Ada pula kondisi ada seorang ahli fikih yang datang di ujung waktu majelis. Bagaimana guru menyikapinya? Maka hendaknya guru menunda menutup majelisnya hingga ahli fikih itu duduk, kemudian ia menyempurnakan pembahasan agar yang datang tidak malu karena hadirin berdiri saat dia duduk. Demikianlah cara guru menjaga adab di depan orang yang berilmu. Artinya, seorang guru sedang memerhatikan kebaikan orang-orang yang hadir di majelisnya dengan tidak memajukan atau memundurkan waktu jika tidak ada alasan mendesak dan tidak menambah beban.</p>



<p>Kedua, adab menutup pelajaran. Biasanya sebelum menutup pelajaran, guru merangkum inti materi yang telah ia sampaikan. Guru harus bersikap tawadhu’ terhadap ilmunya, karena tidaklah ia mungkin bisa menyampaikan satu ilmu kecuali atas izin dari pemilik ilmu, Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>. Oleh karena itu, hendaklah setiap kali ia menutup pelajaran ia mengatakan “Ini adalah akhirnya” atau “dan yang sesudahnya akan hadir insya Allah”. Lalu ia menyertakannya dengan ucapan <em>wallahua’alam</em> yang bermakna Allahlah yang Maha Mengetahui. Setelah kelas atau majelis ditutup maka hendaknya guru menunggu sejenak hingga semuanya beranjak. Hal ini memberikan beberapa faidah kepada guru, diantaranya adalah guru tidak berdesak-desakan dengan murid; jika pada sebagian murid masih ada pertanyaan, dia bisa bertanya; tidak berkendara di tengah-tengah muridnya jika ia berkendara; dll. Kemudian manakala ia bangkit dari majelisnya ia mengucapkan do’a penutup majelis, <em>subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu anlaa ilaa ha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik..</em></p>



<p>Ketiga, tidak mengajar sebelum dirinya mampu atau kapabel. Hendaknya guru tidak duduk di tempat mengajar bila belum kapabel untuk mengajar. Ia tidak menyampaikan kepada manusia ilmu yang tidak diketahuinya, karena hal itu berarti mempermainkan agama dan melecehkan masyarakat. </p>



<p class="has-text-align-left">Dari Asy-Syibli, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَ وَهُوَ لَمْ يَكُنْ أَهْلًا لَهُ فَقَدْ حَفَرَ لِنَفْسِهِ حُفْرَةَ الذُّلِّ</strong></p>



<p>“Barangsiapa mengajar sebelum masanya (belum kapabel) maka dia menggali lubang kehinaan bagi dirinya sendiri.”<sup data-fn="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd" class="fn"><a id="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd-link" href="#1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd">1</a></sup></p>



<p>Orang yang berakal adalah orang yang menjaga dirinya dari sesuatu yang menyebabkan siapa yang terjerumus ke dalamnya dinilai kurang, siapa yang melakukannya dianggap zalim, dan siapa yang bersikukuh mempertahankannya dipandang fasik.</p>



<p>Alhamdulillah, telah selesai pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Pembahasan selanjutnya adab-adab seorang guru terhadap muridnya in sya Allah akan hadir. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</p>


<ol class="wp-block-footnotes"><li id="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd"><strong>Imam Abu Hanifah rahimahullah</strong>, menyampaikan bahwa siapa yang mengejar kepemimpinan sebelum waktunya, maka ia akan menanggung kehinaan seumur hidupnya. Ungkapan serupa ini muncul dalam konteks nasihat tentang kewajiban kompetensi sebelum mengajar (disarikan dari <em>Adabul Alim wal Muta’allim</em> karya H. M. Hasyim Asy’ari) <a href="#1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd-link" aria-label="Jump to footnote reference 1"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li></ol>


<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>3 Penyakit Hati yang Bisa Menjangkiti Orang yang Berilmu</title>
		<link>https://generasifaqih.com/3-penyakit-hati-yang-bisa-menjangkiti-orang-yang-berilmu/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/3-penyakit-hati-yang-bisa-menjangkiti-orang-yang-berilmu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 May 2025 05:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[3 Penyakit Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Blog Islam]]></category>
		<category><![CDATA[generasi faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3301</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Mari kita lanjutkan pembahasan adab-adab seorang yang berilmu terhadap dirinya sendiri. Hendaknya seorang &#8216;alim itu membersihkan batinnya dan zahirnya dari akhlak-akhlak yang tercela dan mengisinya dengan akhlak yang terpuji. Akhlak tercela itu banyak macamnya. Diantaranya adalah kebencian; hasad (tidak suka melihat nikmat orang lain dan berharap nikmat tersebut berpindah ke ... <a title="3 Penyakit Hati yang Bisa Menjangkiti Orang yang Berilmu" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/3-penyakit-hati-yang-bisa-menjangkiti-orang-yang-berilmu/" aria-label="Read more about 3 Penyakit Hati yang Bisa Menjangkiti Orang yang Berilmu">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/3-penyakit-hati-yang-bisa-menjangkiti-orang-yang-berilmu/">3 Penyakit Hati yang Bisa Menjangkiti Orang yang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Mari kita lanjutkan pembahasan adab-adab seorang yang berilmu terhadap dirinya sendiri. Hendaknya seorang ‘alim itu membersihkan batinnya dan zahirnya dari akhlak-akhlak yang tercela dan mengisinya dengan akhlak yang terpuji.</p>



<p>Akhlak tercela itu banyak macamnya. Diantaranya adalah kebencian; hasad (tidak suka melihat nikmat orang lain dan berharap nikmat tersebut berpindah ke dirinya); marah bukan karena Allah; melakukan kecurangan/penipuan; sombong; riya’; ujub (merasa bangga terhadap dirinya sendiri); sum’ah (senang mendengar pujian); kikir; bersikap jahat; angkuh; tamak terhadap dunia; bangga diri; congkak; berlomba-lomba untuk mendapatkan dunia; berbangga-bangga dalam urusan dunia; merendahkan diri di hadapan orang lain; berhias karena manusia; suka dipuji dengan sesuatu yang tidak dia kerjakan; buta terhadap aib sendiri dan sibuk terhadap aib orang lain; sombong karena kelompok; ashobiyah (fanatik terhadap kelompoknya); punya harap atau takut yang kuat terhadap manusia; ghibah; namimah; kebohongan besar (berdusta atas nama rasul); berkata jorok; dan merendahkan orang lain.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</a></strong></p>



<p>Ini semua adalah pintu segala keburukan, bahkan keburukan yang sesungguhnya. Para ahli fiqih pun tidak lepas dari bencana ini. Hasad, ujub, dan riya’ adalah akhlak yang paling banyak menimpa ahli ilmu. Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah menyebutkan bahwa 3 sifat tersebut merupakan induk dari segala kejahatan lain yang lebih berbahaya. &nbsp;Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tiga hal yang akan merusak hati: Taat kepada kekikiran, menuruti hawa nafsu, dan ujub kepada diri sendiri (bangga kepada diri sendiri).”</p>



<p>Dapatkah kita bayangkan, orang yang kesehariannya berkutat pada ilmu saja tidak lepas dari akhlak tercela, lantas bagaimana dengan orang yang kesehariannya mengabaikan ilmu?</p>



<p>Akhlak tercela adalah penyakit, dan setiap penyakit ada obatnya. Orang yang berilmu tentu mengetahui obatnya dan mereka akan bersegera untuk mengobati penyakitnya. <strong>Pertama</strong>, hasad. Hasad adalah penyakit yang merupakan cabang dari sifat kikir. Orang yang hasad adalah orang yang merasa tidak senang akan nikmat Allah yang diberikan kepada hamba yang lain baik berupa ilmu, harta, dan cinta dalam hati manusia. Orang yang hasad akan sangat senang jika nikmat Allah tersebut hilang dari orang lain meskipun ia tidak mendapatkan nikmat itu. Obat hasad adalah menyadari bahwa hasad itu bentuk sanggahan atau protes terhadap Allah yang menuntut pengkhususan sesuatu terhadap orang yang dihasadnya. Hasad mendatangkan kegelisahan dan keletihan dan penyiksaan terhadap hati dan semua itu tidak berpengaruh bagi orang yang dihasadkan.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/melatih-anak-memikul-tanggung-jawab/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Melatih Anak Memikul Tanggung Jawab</a></strong></p>



<p><strong>Kedua, </strong>Ujub. Ujub adalah seseorang yang melihat dirinya sendiri menjadi orang yang mulia dan besar, sedangkan orang lain dilihat dengan hina dan kerdil. Sebagaimana yang sering diucapkan oleh Iblis: “Saya lebih baik daripada Adam, Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakan Adam dari tanah.” Orang ujub adalah orang yang menunjukkan kesombongan saat dia diantara orang ramai. Di dalam berbicara, ia selalu membuat malu orang lain jika ucapannya tidak diterima oleh orang lain. Diantara obat ujub adalah dia harus ingat bahwa ilmu dan pemahaman, kekuatan pemikiran, fasihnya lisan, dan nikmat-nikmat lainnya adalah karunia Allah. Allah yang punya kuasa untuk mencabut itu dari dirinya sekejap mata. Seperti kisah Bal’am yang Allah cabut ilmunya. Hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.</p>



<p><strong>Ketiga, </strong>adalah penyakit riya’. Riya’ adalah upaya mencari perhatian dalam hati makhluk agar mendapatkan kemuliaan dan kedudukan. Orang yang berilmu sangat rentan dengan penyakit ini. Karena ilmu dan banyak beribadah merupakan kelebihan yang sangat mungkin dibanggakan di depan manusia. Riya’ dapat merusak pahala amal. Diantara obat riya’ adalah berpikir bahwa seluruh makhluk tidak ada yang mampu memberikan manfaat selama Allah tidak menakdirkan itu untuknya dan tidak mampu menimpakan kemudharatan selama Allah tidak menetapkan itu untuknya. Bila semua manfaat ataupun mudharat yang datang adalah atas takdir dari Allah, mengapa dia membatalkan amalnya dengan riya’? Orang yang riya’ itu menganggap orang lainlah yang memberi manfaat kepada dirinya. Seharusnya dia menyadari bahwa balasan atas amalnya itu ada di akhirat. Karena siapa saja yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ maka Allah menampakkan keburukannya kepada orang lain.</p>



<p>Adab-adab lainnya insya Allah akan kita bahas di tulisan selanjutnya. <em>Wallahua’lam bish showab.</em></p>



<p><strong>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim dan Kitab Bidayatul Hidayah.</strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/3-penyakit-hati-yang-bisa-menjangkiti-orang-yang-berilmu/">3 Penyakit Hati yang Bisa Menjangkiti Orang yang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/3-penyakit-hati-yang-bisa-menjangkiti-orang-yang-berilmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Feb 2025 10:17:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[generasi faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajar]]></category>
		<category><![CDATA[penuntut ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3250</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Keberuntungan adalah suatu hal yang menggembirakan. Di dalam Islam, keberuntungan sering dikaitkan dengan keimanan. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Al-Mu&#8217;minun ayat pertama, &#1602;&#1614;&#1583;&#1761; &#1575;&#1614;&#1601;&#1761;&#1604;&#1614;&#1581;&#1614; &#1575;&#1604;&#1761;&#1605;&#1615;&#1572;&#1761;&#1605;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1761;&#1606;&#1614;&#1753;&#8207; &#8220;Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.&#8221; Di ayat-ayat selanjutnya disebutkan bahwa keberuntungan itu akan diraih oleh orang beriman dengan syarat, yaitu yang khusyuk dalam sholatnya; ... <a title="Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/" aria-label="Read more about Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/">Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Keberuntungan adalah suatu hal yang menggembirakan. Di dalam Islam, keberuntungan sering dikaitkan dengan keimanan. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Al-Mu’minun ayat pertama, قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَۙ‏ “<em>Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”</em> Di ayat-ayat selanjutnya disebutkan bahwa keberuntungan itu akan diraih oleh orang beriman dengan syarat, yaitu yang khusyuk dalam sholatnya; yang menjauhkan diri dari perkara tak bermanfaat; yang menunaikan zakat; yang menjaga kemaluannya kecuali pada yang halal; yang memelihara janji dan sholat.</p>



<p>Keimanan yang kuat akan melahirkan ketaatan yang kuat pula. Kuatnya keimanan diawali dari pengetahuannya terhadap agama. Semakin baik pemahamannya terhadap agama akan berimplikasi pada baiknya amal, sementara baiknya amal adalah ciri-ciri dari ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya. Inilah korelasi antara keberuntungan dengan seseorang yang memahami agamanya, yaitu orang yang berilmu.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</a></strong></p>



<p>Namun, ternyata tidak semua orang berilmu akan beruntung. Diriwayatkan dari Nabi <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em>,</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ</strong></p>



<p><em>“Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang bodoh, untuk menyaingi para ulama, atau agar memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka”</em> <strong>(HR. At-Tirmidzi).</strong></p>



<p>Di hadits lain juga disebutkan tentang orang berilmu namun justru tidak beruntung,</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>



<p><em>“Barangsiapa menuntut ilmu yang sepatutnya dituntut karena wajah Allah, tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surga pada Hari Kiamat.”</em> <strong>(HR. Abu Dawud).</strong></p>



<p>Dua hadits di atas mengandung ancaman dan celaan terhadap orang berilmu yang salah dalam niatnya menuntut ilmu. Jika mencari ilmu agama diniatkan untuk hal-hal yang datangnya selain dari Allah maka ini justru akan menjauhkan dirinya dari Allah. Contohnya, orang yang mencari ilmu demi ambisi dunia seperti beroleh kedudukan, harta, ataupun pengikut (followers) dan murid. Padahal sejatinya, ilmu dicari untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang dipuji olehNya, bukan sebaliknya melakukan hal-hal yang dicela oleh Allah dan rasulNya.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/komunikasi-orang-tua-kepada-anak-dalam-perspektif-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Komunikasi Orang Tua Kepada Anak dalam Perspektif Al-Qur’an</a></strong></p>



<p>Bahkan di riwayat yang lain diceritakan malapetaka yang lebih dahsyat bagi orang-orang berilmu yang salah meletakkan niatnya.</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ<br></strong></p>



<p>Sesungguhnya manusia pertama yang urusannya diputuskan pada Hari Kiamat-Nabi menyebutkan tiga orang dan di dalamnya disebutkan-: <em>“…Dan seorang laki-laki yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an, di didatangkan, Allah mengingatkannya terhadap nikmat-nikmatNya, maka dia mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan padanya?’ Dia menjawab,’Aku belajar ilmu dan mengajarkannya karenaMu, aku membaca al-Qur’an karenaMu.” Allah berfirman, ‘Kamu berbohong, akan tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan, ‘Orang yang berilmu.’ Kamu membaca al-Qur’an agar dikatakan, ‘Qari’.’ Dan itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkanlah untuk menyeretnya (tersungkur) di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka”</em> <strong>(HR. Muslim dan an-Nasa’i).</strong></p>



<p>Adapun orang-orang berilmu (‘ulama) yang memiliki fadhilah-fadhilah karena ilmunya adalah mereka yang ‘amil, yaitu ulama yang mengamalkan ilmunya. Merekalah orang-orang mulia lagi bertakwa. Mereka hanya mengarapkan wajah Allah yang mulia dan mencari kedekatan kepada Allah di syurga. Tidak ada niat di dalam hati mereka kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata. Inilah orang berilmu yang beruntung. Wallahua’lam. (RK)</p>



<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiratussami’ wal Mutakallim</strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/">Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
