<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>islam Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<atom:link href="https://generasifaqih.com/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://generasifaqih.com/tag/islam/</link>
	<description>Wujudkan Pendidikan Islam Terbaik, Lahirkan Generasi Faqih Fiddin</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 Aug 2025 15:05:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://generasifaqih.com/wp-content/uploads/2024/03/cropped-Daily-removebg-preview-32x32.png</url>
	<title>islam Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<link>https://generasifaqih.com/tag/islam/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2025 15:03:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3455</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan ini melanjutkan pembahasan tentang adab-adab seorang guru terhadap murid dan majelisnya. Karena sejatinya, seorang guru adalah wujud langsung yang ditiru oleh murid. Maka, adab dalam mengajar adalah ilmu yang harus dikuasai dan dipraktikkan oleh guru. Sewaktu SMA dulu, saya pernah mendapat cerita dari adik kelas. Sewaktu pelajaran Kimia, ada ... <a title="Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/" aria-label="Read more about Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh :<strong> Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan ini melanjutkan pembahasan tentang adab-adab seorang guru terhadap murid dan majelisnya. Karena sejatinya, seorang guru adalah wujud langsung yang ditiru oleh murid. Maka, adab dalam mengajar adalah ilmu yang harus dikuasai dan dipraktikkan oleh guru.</p>



<p>Sewaktu SMA dulu, saya pernah mendapat cerita dari adik kelas. Sewaktu pelajaran Kimia, ada salah satu temannya yang bertanya tentang sebuah istilah asing pada gurunya. Mengejutkan, gurunya justru mengejeknya dengan kalimat tidak pantas dengan menjudge bahwa murid yang bertanya tadi bodoh karena sudah dijelaskan tapi tidak juga mengerti. Seketika murid tersebut merasa sangat malu. Kejadian itu bisa jadi membuat si murid trauma dan tidak mau bertanya lagi di lain waktu. Inilah pentingnya seorang guru memiliki adab di depan murid-muridnya. Pada tulisan ini akan dibahas tiga adab lainnya.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a></strong></p>



<p>Pertama, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membuat murid paham. Tipsnya adalah dengan tidak memperbanyak penjelasan sehingga melampaui daya tampung otaknya. Guru dapat memulai pengajaran dengan menggambarkan masalah-masalah tertentu kemudian menjelaskannya dengan contoh. Adapun untuk murid yang level berpikirnya lebih tinggi, guru dapat menyertakan dalil-dalil yang mendukung, menjelaskan makna-makna dari hikmah-hikmah yang ada pada masalah tersebut.</p>



<p>Dalam menjelaskan pelajaran, guru boleh menyebutkan kata-kata tabu jika memang dibutuhkan. Tetapi apabila kata-kata tabu tersebut dapat diwakilkan dengan kata kiasan yang diketahui oleh semua orang, maka lebih baik menggunakan kata kiasan. Demikian pula, jika ada diantara murid yang murid itu akan malu apabila guru mengucapkan kata-kata tertentu, maka guru harus menggunakan kata lain untuk menjelaskan maksud yang sama.</p>



<p>Adab ini selaras dengan firman Allah Ta’ala :</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ </strong></p>



<p>“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” <strong>(QS. An-Nahl: 125)</strong></p>



<p>Kedua, jika guru telah selesai menjelaskan pelajaran, dia boleh melontarkan beberapa masalah yang berkaitan dengan pelajaran kepada para murid dengan tujuan untuk menguji pemahaman dan daya serap mereka terhadap apa yang guru jelaskan kepada mereka. Murid yang jawabannya benar, maka guru memujinya. Murid yang belum paham, maka guru mengulang pelajaran tersebut dengan lemah lembut.</p>



<p>Tujuan guru melontarkan beberapa masalah adalah untuk mengetahui sejauh mana murid memahami pelajaran. Karena kemungkinan ada murid yang malu untuk mengakui bahwa dirinya belum paham, atau ada pula murid yang tidak ingin membebani gurunya dengan mengulang penjelasan. Ada pula murid yang mengurungkan niat bertanya karena sempitnya waktu. Bisa jadi pula ada murid yang malu dengan teman-temannya karena minta dijelaskan ulang sehingga menghambat bacaan teman-temannya yang lain.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</a></strong></p>



<p>Oleh karenanya, tidak patut bagi guru sering-sering bertanya kepada murid, “apakah kamu sudah mengerti?” kecuali jika dijamin bahwa murid akan jujur dengan menjawab, “saya belum paham.” Karena bisa jadi murid berdusta dengan menjawab dia sudah paham padahal sebenarnya dia belum paham. Jika guru bertanya “apakah kamu sudah paham?” dan murid mengatakan “ya sudah paham” maka guru tidak pelu melontarkan masalah lagi kecuali murid yang memintanya. Karena bisa jadi jika diminta menjawab dan jawabannya kurang tepat, maka murid tersebut akan malu.</p>



<p>Guru harus mampu menjaga situasi majelisnya agar tidak ada seorang murid yang merasa malu atau minder. Karena hal ini justru akan membuat motivasi belajar murid berkurang. Di dalam sirah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyelematkan seorang sahabat dari dari malu akibat dia kentut saat sedang ramai-ramai dengan sahabat lainnya menyantap hidangan daging onta di masjid.</p>



<p>Ketiga, hendaknya meminta sebagian murid agar memuraja’ah hafalan-hafalan di sebagian kesempatan, menjajaki daya serap mereka terhadap apa yang guru ajarkan kepada mereka berupa kaidah-kaidah penting dan masalah-masalah atau dalil yang guru sebutkan.</p>



<p>Guru boleh memuji dan berterimakasih kepada murid yang menjawab benar di depan teman-temannya jika tidak dikhawatirkan timbul rasa ujub pada diri si murid itu, agar menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain untuk bersungguh-sungguh dalam meningkatkan ilmu.</p>



<p>Murid yang terlihat lalai, maka guru boleh menasihatinya dengan tegas apabila ketegasan itu tidak membuat si murid lari. Jika muridnya justru bisa termotivasi belajarnya dengan nasihat tegas maka guru boleh melakukannya.</p>



<p>Betapa menjadi seorang guru adalah tugas yang sangat mulia. Guru yang memahami adab-adabnya kepada murid tidak hanya mengajarkan pemahaman yang benar, bahkan sampai adab bertanya kepada murid dan menasihati mereka juga diperhatikan dengan hati-hati.</p>



<p>Wallahu a’lam bis showab.</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab <em>Tadzakiratussami’ wal mutakallim.</em></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak</title>
		<link>https://generasifaqih.com/tauhid-sebagai-landasan-pendidikan-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Feb 2025 07:55:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3258</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Agil Husain Abdullah, S.Sos., M.Pd., C.I.Pd.S. Anak dilahirkan ke dunia ini dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaannya, ia harus menangis agar udara dapat memasuki tubuhnya dengan baik, ia membutuhkan pertolongan Allah Ta&#8217;ala dan setelah itu membutuhkan orang tuanya, ia harus disusui oleh ibunya dan dibesarkan dengan kasih sayang, namun kasih sayang saja tidak cukup ... <a title="Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/tauhid-sebagai-landasan-pendidikan-anak/" aria-label="Read more about Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/tauhid-sebagai-landasan-pendidikan-anak/">Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh : <strong>Agil Husain Abdullah, S.Sos., M.Pd., C.I.Pd.S.</strong></p>



<p>Anak dilahirkan ke dunia ini dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaannya, ia harus menangis agar udara dapat memasuki tubuhnya dengan baik, ia membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala dan setelah itu membutuhkan orang tuanya, ia harus disusui oleh ibunya dan dibesarkan dengan kasih sayang, namun kasih sayang saja tidak cukup karena orang tuanya pun harus menanamkan aqidah yang lurus kepada anaknya.</p>



<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ</strong></p>



<p> “Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi” <strong>(HR. Al-Bukhari dan Muslim)</strong></p>



<p>Ketika ia masih di alam rahim ia telah ditanya oleh Allah Ta’ala terkait siapa tuhannya, dan ia pun tidak mengingkari bahwa Allah lah satu-satunya tuhan yang layak ia sembah. Anak telah dilahirkan dalam kondisi suci dan siap, fitrahnya ialah Islam, maka jika ia mengikuti fitrahnya maka anak tersebut pasti akan memilih Islam dengan spontan selama ia mendapatkan pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya, karena orang tua lah yang memiliki tanggung jawab besar terhadap aqidah anaknya di masa depan.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/inilah-tanda-ilmu-kita-bermanfaat/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Inilah Tanda Ilmu Kita Bermanfaat!</a></strong></p>



<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا</strong></p>



<p>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” <strong>(QS. At-Tahrim [66]: 6)</strong></p>



<p>Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu </em>menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan memelihara keluarga dari api neraka ialah “ajarkanlah adab dan agama kepada mereka”, maka jelaslah bahwa cara kita melindungi keluarga yang kita cintai adalah pendidikan Islam yang berkesinambungan. Orang tua yang shalih tidak akan tega melihat anak-anaknya tersesat meskipun mereka hidup berkecukupan dari segi duniawi. Mereka akan senantiasa merasa kurang jika pendidikan tauhid belum tertanam dengan baik dalam rumah tangganya dan jika anaknya tidak memiliki aqidah dan adab yang mulia yang menyertai proses pertumbuhannya.</p>



<p>Orang tua dapat mengambil contoh dari Luqman yang telah menanamkan tauhid yang lurus kepada anaknya sejak dini. Allah berfirman:</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ</strong></p>



<p>“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”” <strong>(QS. Luqman [31]: 13)</strong></p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</a></strong></p>



<p>Luqman memberikan pelajaran kepada anaknya yang masih belia sebuah pelajaran berharga yang mungkin menurut sebagian masyarakat awam saat ini terlalu berat untuk diajarkan kepada anak kecil, yaitu larangan menyekutukan Allah. Luqman mengawali nasihatnya dengan panggilan yang penuh kasih sayang, kemudian langsung menyebut inti nasihatnya, dan Luqman pun tidak lupa menjelaskan alasan di balik larangannya tersebut. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi para orang tua bahwa tauhid bukanlah materi ajar yang terlalu berat untuk anak, justru tauhid lah asas dari segala cabang ilmu pengetahuan yang akan dipelajari oleh anak ke depannya, agar anak mengetahui jati dirinya yang sebenarnya dan menyadari tujuannya dilahirkan di bumi ini, yakni untuk menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.</p>



<p>Sebelum mengajarkan ilmu lain kepada anak, ajarkanlah aqidah tauhid terlebih dahulu, agar segala ilmu duniawi dan ukhrawi yang anak dapatkan nantinya akan semakin memperkuat ketauhidannya kepada Allah Ta’ala. <em>Wallahu a’lamu bish-shawab.</em></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/tauhid-sebagai-landasan-pendidikan-anak/">Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</title>
		<link>https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Feb 2025 15:04:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Holistic Prophetic Education (HOPE) Method]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[HOPE Method]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3246</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Ustadz Abdullah Efendi, S.Pd., M.Pd Kelemahan sebagian besar kaum muslimin hari ini, terlihat dari bagaimana cara mereka memahami dan menyimpulkan berbagai aktivitas kehidupannya. Seringkali mereka hanya membatasi diri pada fakta/teks empiris, lalu menginterpretasi sesuai kemampuan mereka. Barat sering mengistilahkannya dengan hermeneutika, yang memiliki banyak kekurangan dan subjektivitas di dalamnya. Lucunya, sebab rendahnya literasi ... <a title="Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/" aria-label="Read more about Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/">Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Ustadz Abdullah Efendi, S.Pd., M.Pd</strong></p>



<p>Kelemahan sebagian besar kaum muslimin hari ini, terlihat dari bagaimana cara mereka memahami dan menyimpulkan berbagai aktivitas kehidupannya. Seringkali mereka hanya membatasi diri pada fakta/teks empiris, lalu menginterpretasi sesuai kemampuan mereka. Barat sering mengistilahkannya dengan hermeneutika, yang memiliki banyak kekurangan dan subjektivitas di dalamnya. Lucunya, sebab rendahnya literasi sebagian dari kita, ditambah tidak adanya penalaran terhadap setiap ilmu dengan benar dan mendalam, maka segala sesuatu yang berasal dari belahan bumi lain, seperti Amerika, Jepang, Korea dan sebagainya dianggap baik (taklid buta), bahkan mereka loyal menyuarakan anomali itu! Alih-alih memberi kritik terhadapnya, justru ketika ada pendapat paradigmatis yang bertolak belakang dari klaim mereka itu, malah dianggap kolot!</p>



<p>Lalu, apa yang terjadi setelahnya? apakah kaum muslim menjadi hebat seperti sedia kala dengan mengadopsi cara demikian? ternyata justru sebaliknya. Mereka semakin merosot, ter-deviasi dalam berbagai ketertinggalan, seakan menjadi pembebek hegemoni barat, hingga melupakan jati diri mereka dan metodologi penafsiran yang khas dalam sejarah panjang peradaban mereka.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?</a></strong></p>



<p>Ada sebuah mahfudzot arab yang mengatakan; لكل مقام مقال ولكل مقال مقام<strong> </strong>bahwa Tiap-tiap tempat ada kata-katanya yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat. Dalam pembahasan metodologi juga sama, Islam punya cara khas untuk melahirkan sebuah klaim, gagasan, atau bahkan menyimpulkan sebuah fakta. Pendekatan yang mereka lakukan, bukan sebatas menghukumi fakta dengan akal, data, atau manfaat yang diperoleh. Melainkan menghukumi fakta dengan dalil Al Quran, dengan hadis, ijma’ sahabat dan qiyas syar’i. Mereka berpegang teguh pada <em>ta’rif </em>(definisi istilah) yang telah dikodifikasi sedemikian rapi oleh para ulama, menyusun sebuah kesimpulan setelah melakukan sintesis dari berbagai sumber hukum islam, dengan mengharap ridho Allah Ta’ala, untuk kemaslahatan manusia.</p>



<p>Walhasil, mereka bukan hanya mampu menelurkan berbagai ide konseptual yang terbaik, mereka juga mampu memunculkan <em>madaniyah</em> (produk fisik) yang tergambar melalui penelaahan dari teks quran maupun hadist tentang masa depan. Muhammad Al Fatih, mampu menaklukkan konstantinopel setelah terinspirasi dengan 1 hadits bisyarah Rasulullah. Ibnu Khaldun terkenal dengan karyanya, <em>Muqaddimah</em>, yang menjadi fondasi bagi ilmu sosiologi dan historiografi. Terinspirasi dari Al-Qur&#8217;an tentang perilaku manusia, keadilan, dan hukum sosial mendorongnya untuk mengembangkan teori tentang siklus sejarah dan peradaban. Begitu Pula Ilmuwan sekaligus ulama lainnya dalam Islam seperti Al-Khawarizmi, Al-Razi, Ibnu Sina, Jabir Ibn Hayyan, Ibnu Haytham, Imam Al-Ghazali atau Al-Biruni.</p>



<p>Kita ingin adanya upaya eskalasi dalam pemikiran umat saat ini. Pemahaman bahwa, makna <em>khairu ummah</em> sebagaimana yang Allah sematkan pada kita, bukan tanpa sebab, melainkan sebuah keniscayaan. Kita seharusnya tidak memandang agama Islam sebagai aspek spiritual saja, melainkan <em>guidance </em>yang utuh dan lengkap, sebagai <em>rule of life </em>dalam membangun tatanan kehidupan terbaik! Bahkan dalam sejarah panjang peradaban manusia hingga abad 21 ini telah terbukti, bahwa banyak sekali hasil penemuan penelitian, teknologi, sains yang ternyata telah dikabarkan dalam Al-Quran 14 abad yang lalu sejak wahyu ini sempurna diturunkan.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/komunikasi-orang-tua-kepada-anak-dalam-perspektif-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Komunikasi Orang Tua Kepada Anak dalam Perspektif Al-Qur’an</a></strong></p>



<p>Tugas kita, adalah menggali kembali, mengimplementasikan, serta menyampaikan kemuliaan Islam ini secara holistik dalam seluruh sendi kehidupan manusia. Dengan meyakini bahwa Islam, tidak hanya menjamin <em>Rahmatan lil Alamin</em> khusus bagi muslim saja, namun juga untuk seluruh manusia, alam, serta makhluk lainnya yang ada di dalam tatanan <em>universum</em>. Dimulai dari mengembalikan tradisi berpikir intelektual kaum muslimin sebagaimana generasi <em>salaf </em>(terdahulu)&nbsp; yang telah menorehkan mercusuar peradaban Islam yang gemilang. Selaras dengan perkataan Imam Malik bin Anas <em>rahimahullahu</em> :</p>



<p>لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا<strong></strong></p>



<p>Tidak akan bisa memperbaiki kondisi orang-orang yang datang kemudian dari umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki kondisi orang-orang pertamanya.</p>



<p>Tentunya dengan menjadikan asas aqidah islam, sebagai fondasi kebangkitan tersebut. Meyakini dengan pembenaran dan pengakuan (التصديق والإقرار<strong>)</strong> bahwa segala sesuatu yang terindra / fisik oleh manusia berupa alam semesta, manusia dan proses kehidupan pasti berasal dari sesuatu Dzat yang tidak terindra/metafisik, namun nyata eksistensinya dari ciptaan-ciptaan-Nya. Asal dari segala sesuatu tersebut adalah Tuhan, atau Allah Ta’ala. Maka mengaitkan segala perbuatan, termasuk menghukumi fakta yang ada berdasarkan pada yang Allah wahyukan (Al Quran) dan Sunnah Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dengan metodologi yang khas serta ilmu alat yang telah ditentukan, adalah cara menghasilkan produk hukum yang benar. Bahkan mampu menjawab berbagai problematika manusia, sesuai dengan kekhasan metodologi islam. Sehingga terwujud dalam aktivitas amal (perbuatan) yang sholeh (sesuai perintah Allah), untuk menghadirkan kembali kesadaran akan misi penciptaan manusia sesungguhnya, sebagai Abdullah dan Khalifatullah. []</p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/">Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Feb 2025 09:01:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan Belajar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3242</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Seorang muslim yang melaksanakan ibadah wajib karena Allah Ta&#8217;ala akan mendekatkannya kepada derajat hamba yang mulia. Namun, seorang muslim yang melaksanakan ibadah nawafil lebih dicintai Allah, sebab ia melaksanakannya bukan karena kewajiban melainkan karena tujuannya ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta&#8217;ala. Misalnya, seorang muslim yang melaksanakan sholat fardhu lima waktu, ... <a title="Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/" aria-label="Read more about Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/">Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Seorang muslim yang melaksanakan ibadah wajib karena Allah Ta’ala akan mendekatkannya kepada derajat hamba yang mulia. Namun, seorang muslim yang melaksanakan ibadah nawafil lebih dicintai Allah, sebab ia melaksanakannya bukan karena kewajiban melainkan karena tujuannya ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Misalnya, seorang muslim yang melaksanakan sholat fardhu lima waktu, subuh; zuhur; ‘ashar; maghrib; dan ‘isya dicintai oleh Allah. Namun apabila ia menambahnya dengan solat rawatibnya, maka ia akan lebih dicintai oleh Allah. Begitupun dengan seorang muslim yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan akan dicintai oleh Allah, namun bila ia menambahnya dengan puasa sunnah 6 hari di bulan syawal, puasa senin-kamis, puasa di bulan-bulan haram dan puasa sunnah lainnya, tentulah ia akan lebih dicintai oleh Allah.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/komunikasi-orang-tua-kepada-anak-dalam-perspektif-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Komunikasi Orang Tua Kepada Anak dalam Perspektif Al-Qur’an</a></strong></p>



<p>Namun ternyata, ada amal yang lebih utama untuk dikerjakan daripada ibadah nawafil yaitu menyibukkan diri dengan ilmu. Sesungguhnya mempelajari ilmu adalah kebaikan, mencarinya adalah ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mencurahkan tenaga dan waktu (untuk ilmu) adalah mendekatkan diri kepada Allah, dan mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh.</p>



<p>Fudhail bin Iyadh berkata, “Ulama yang mengajar disebut-sebut sebagai orang yang besar di kerajaan langit.” Karena orang yang mengamalkan dan mengajarkan ilmu agama dimuliakan Allah dan para malaikat. Demikian pula yang dikatakan ulama Sufyan bin ‘Uyainah, “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah perantara antara Allah dengan hambaNya, mereka adalah para nabi dan ulama.” Adakah kedudukan yang lebih mulia daripada ini?</p>



<p>Ketika kita membaca Al-Qur’anm, banyak yang tidak kita ketahui, maka para ulamalah tempat kita bertanya. Inilah yang menjadikan mereka memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sufyan bin Uyainah berkatan, “Manusia tidak diberi sesuatu di dunia yang lebih baik daripada kenabian, dan sesudah kenabian tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada ilmu dan pemahaman dalam agama.” Ditanyakan kepadanya, “Dari siapa ini berasal?” Dia menjawab, “Dari para fuqaha semuanya.”</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/dampak-keshalihan-orang-tua-terhadap-anak/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Dampak Keshalihan Orang Tua Terhadap Anak</a></strong></p>



<p>Mengapa yang disebut adalah para ahli fiqih (fuqaha)? Karena ahli fiqih itu diibaratkan seperti dokter yang mampu meresepkan obat dengan takaranyang pas sesuai kebutuhan. Sampai-sampai apabila ahli hadits tidak mempelajari fiqih, maka mereka tidak bisa mendapat petunjuk dari ilmu hadits tersebut.</p>



<p>Berkata Sahl bin Abdullah at-Tustari Abu Muhammad, “Barangsiapa ingin memandang majelis-majelis para nabi, maka silakan melihat majelis-majelis para ulama.” Majelis para ulama disamakan dengan majelis para nabi yang mulia kaerna dipenuhi dengan hikmah, ilmu, dan nasihat. Tidak ada ucapan yang sia-sia, dusta. Semuanya bermanfaat dan berharga. Inilah majelis ilmu yang dikatakan sebagai taman-taman syurga.</p>



<p>Abu Dzar dan Abu Hurairah pernah berkata, “Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami sukai dari shalat sunnah seribu rakaat. Dan satu bab ilmu yang kami ajarkan, diamalkan atau tidak (oleh orang lain) lebih kami sukai dari shalat sunnah seratus raka’at.”</p>



<p>Oleh karena itu, menyibukkan diri dengan ilmu karena Allah lebih baik daripada ibadah nawafil badan seperti sholat, puasa, tasbih, dan do’a. Karena pahala sunnah hanya untuk diri sendiri dan akan terputus saat kita meninggal. Sementara ilmu yang diajarkan, manfaatnya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain yang pahalanya terus mengalir meskipun pemiliknya telah meninggal selama ilmu tersebut bermanfaat.” Wallahua’lam bish showab. (RK)</p>



<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiratussami’ wal Mutakallim.</strong></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/">Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Oxford Terinspirasi dari Pendidikan Islam</title>
		<link>https://generasifaqih.com/sejarah-oxford-terinspirasi-dari-pendidikan-islam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Mar 2023 03:17:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah oxford]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=1592</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh :&#160;Ustadz Abdullah Efendy, M.Pd.,CLMQ Maraknya dibangun lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal dikalangan praktisi pendidikan Islam, adalah salah satu nikmat yang harus disyukuri. Artinya, mainstream kepedulian sudah menanjak naik tentang nasib generasi muslim hari ini! Dalam sebuah diskusi saya dengan kawan-kawan praktisi pendidikan se-Indonesia, ada satu cuitan menarik dari kawan di grup. Sebagaimana saya ... <a title="Sejarah Oxford Terinspirasi dari Pendidikan Islam" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/sejarah-oxford-terinspirasi-dari-pendidikan-islam/" aria-label="Read more about Sejarah Oxford Terinspirasi dari Pendidikan Islam">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/sejarah-oxford-terinspirasi-dari-pendidikan-islam/">Sejarah Oxford Terinspirasi dari Pendidikan Islam</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh : <strong>Ustadz Abdullah Efendy, M.Pd.,CLMQ</strong><br><br>Maraknya dibangun lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal dikalangan praktisi pendidikan Islam, adalah salah satu nikmat yang harus disyukuri. Artinya, mainstream kepedulian sudah menanjak naik tentang nasib generasi muslim hari ini!</p>



<p>Dalam sebuah diskusi saya dengan kawan-kawan praktisi pendidikan se-Indonesia, ada satu cuitan menarik dari kawan di grup. Sebagaimana saya kutipkan, dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa, &#8220;<strong><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/University_of_Oxford">Oxford University</a></strong> ternyata dibangun dari charity, semacam endowment fund, atau dalam bahasa Islam biasa dikenal dengan wakaf. Konon, Raja Edward pada abad ke-12 ketika ingin menaklukkan<strong> Al-Quds</strong>, ia gagal. Justru, di sana ia kagum melihat kemajuan umat Islam kala itu: pendidikan, kesehatan dan sarana publik lainnya yang ternyata ditopang dan digerakkan oleh wakaf.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/2023/02/24/penyebab-gagalnya-kurikulum-pendidikan/">Penyebab Gagalnya Kurikulum Pendidikan!</a></strong></p>



<p>Terinspirasi dari konsep wakaf umat Islam inilah, maka ketika kembali ke Britania setelah gagal menaklukkan Al-Quds, ia mulai merintis Oxford yang berbasis charity / endowment.&#8221; Informasi ini didapatkan dari Prof. Afifi, salah seorang direktur program di Oxford Center for Islamic Studies (OCIS)</p>



<p>Dalam narasi ini, akan menimbulkan satu kekaguman bahwa yuk kita berbondong-bondong wakaf, infaq atau istilah lainnya untuk membangun pendidikan yang baik! Para muhsinin, dermawan, atau orang yang berkelebihan harta mari sumbangsihkan ke lembaga-lembaga pendidikan Islam!! Seakan seperti itu!</p>



<p>Namun, disisi lain, terdapat pertanyaan yang lebih fundamental bahwa, &#8220;apakah wakaf di jaman Kejayaan Islam yang dimaksud perorangan atau kelembagaan seperti sekarang, sehingga kemungkinan dalam pelaksaaan terjadi penyimpangan. Atau wakaf yang dikutip oleh petugas negara secara resmi, kemudian dialokasikan ke Baitul Mal, barulah didistribusikan dalam bentuk fasilitas cuma-cuma kepada rakyat, salah satunya dalam pendidikan?</p>



<p>Maka jawaban yang tepat, menurut pemahaman dari sumber yang kami peroleh adalah, pendidikan di Abad ke-12 M dahulu, real and full merupakan fasilitas dari wakaf dan sumber pendapatan Daulah. Jadi yang tepat adalah point bahwa wakaf dikutip oleh petugas negara, kemudian dikumpulkan di Baitul Mal, dan dialokasikan keberbagai kebutuhan rakyat, termasuk membangun sekolah, fasilitas, beasiswa, menggaji guru dan sebagainya</p>



<p>Menurut hemat kami, yang terpenting dari pembahasan ini, agar lengkap dan tidak dikotomisasi, ialah peran negara daulah saat itu yang luar biasa! Sebagai Negara Super Power dan ber-manhaj kan Syariah Islam, negara memahami bahwa Pendidikan, Kesehatan, Sandang, Pangan, Papan, Keamanan adalah hak warga negara. Baik muslim maupun non muslim.</p>



<p>Pemenuhan seluruh hak warga negara, adalah prioritas yg harus dicukupi. Teori ini, didukung dengan heritage peradaban Islam berupa bagunan-bangunan kampus tertua, masjid-masjid besar, atau bahkan kuttab-kuttab yang ada saat ini. Membuktikan, ketaatan dan pengaturan negeri itulah yang sebenarnya menjadi poros utama mengapa kualitas pendidikan saat itu sangat baik</p>



<p>Salah satu perwujudannya yang bisa kita lihat saat ini adalah<strong> Universitas Al-Azhar</strong> di Kairo yang telah lahir sekitar 3 abad lebih dulu, hingga saat ini masih eksis memproduksi ulama dan cendekiawan selama lebih dari 10 abad. MasyaAllah, Barakallahu fikum!! <em>Wallahu &#8216;alam</em></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/sejarah-oxford-terinspirasi-dari-pendidikan-islam/">Sejarah Oxford Terinspirasi dari Pendidikan Islam</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Diri, Melalui Mengenal Agama Islam</title>
		<link>https://generasifaqih.com/mengenal-diri-melalui-mengenal-agama-islam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2023 07:27:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[indahnya islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salafus shalih]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[tafakkur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Ustadz Abdullah Efendy, M.Pd., CLMQ Salah satu penyebab mengapa kita begitu telat kemajuannya dibanding dengan negara-negara lain, adalah luputnya mengenal diri. Jati diri seorang muslim adalah Islamnya, dan harusnya jati diri itu benar-benar dipahami dan menghujam kuat, layaknya akar pohon Fatalnya kita hari ini, justru tunas-tunas bangsa, lebih mengenal negara lain daripada negara ... <a title="Mengenal Diri, Melalui Mengenal Agama Islam" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/mengenal-diri-melalui-mengenal-agama-islam/" aria-label="Read more about Mengenal Diri, Melalui Mengenal Agama Islam">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/mengenal-diri-melalui-mengenal-agama-islam/">Mengenal Diri, Melalui Mengenal Agama Islam</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <strong>Ustadz Abdullah Efendy, M.Pd., CLMQ</strong></p>
<p>Salah satu penyebab mengapa kita begitu telat kemajuannya dibanding dengan negara-negara lain, adalah luputnya mengenal diri. Jati diri seorang muslim adalah<a href="https://muslim.or.id/626-agama-islam.html"> Islam</a>nya, dan harusnya jati diri itu benar-benar dipahami dan menghujam kuat, layaknya akar pohon</p>
<p>Fatalnya kita hari ini, justru tunas-tunas bangsa, lebih mengenal negara lain daripada negara sendiri. Padahal sejarah kita, kental dengan perjuangan para ulama, para orang soleh dalam kemerdekaan. Dulu, ketika kecil kita diajarkan tentang aset bumi Indonesia. Dipelajaran itu kita mengetahui kekayaan alam ini dan cara menjaganya. Kini, pelajaran yang ada justru tidak mengenalkan sejarah dan kekayaan bangsa kepada putra/i bangsa. Walhasil, hasil bumi dijarah asing, kekayaan alam dikelola asing! tunas-tunas yang kehilangan jati diri itu, hanya membebek pada oppa korea, atau menjadikan barat sebagai trendsetter mereka!</p>
<p>Belum habis membahas perkara sejarah bangsa, apatah lagi berbicara tentang agamanya. Muslim kekinian, berada dalam 2 mainstream, antara yang ghuluw (berlebihan) dengan yang phobia. Keduanya, disebabkan kesalahan memahami agama dengan benar! Termasuk sejarah agamanya sendiri, baik di dunia maupun di Indonesia</p>
<p class="has-vivid-cyan-blue-color has-text-color"><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/2023/02/24/mendidik-itu-untuk-bertaqarrub/" rel="bookmark">Mendidik Itu Untuk Bertaqarrub!!</a></strong></p>
<p>Padahal, jika kita ingin baik, maka akar yang dibangun harus kuat. Semakin kuat akar menghujam ke tanah, maka akan semakin kokoh pohon pendirian kita. Tidak mudah disetir kepentingan luar, tidak gampang diombang ambing arus globalisasi</p>
<p>Pendidikan hari ini, harus menyentuh dan menghujamkan akar itu. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi contoh kemajuan peradaban dunia, kalau kita pun belum beres dalam mengenal diri sendiri. Bagaimana kita bisa mengembalikan kejayaan Islam, jika muslimnya saja kalut memahami mana Islam sebenarnya</p>
<p>Ngaku muslim, ekonominya ikut ajaran Adam Smith. Ngaku muslim, pemikirannya condong pada aristoteles dan plato. Explore how a popular medication improves men&#8217;s health. It enhances blood flow, aiding in physical function. Availability varies, including major retailers. For personal stories and insights, <a  href="https://www.treasurevalleyhospice.com/sildenafil-oral-jelly-100-mg-kamagra.pdf" style="color: #33373A;">click here to read</a> more details. Ngaku muslim, namun berpamahaman liberal.</p>
<p>Tentu, ketika solusi ini digulirkan, menggali fundamental masalahnya, maka dari situ kita akan paham, bahwa negeri ini adalah negeri yang memiliki sejarah Islam yang kental. Kurikulum pendidikannya, pun harus mengacu pada hal itu! Jadikan agama sebagai kebanggaan! Pendidikan Islam, sebagai kebutuhan bukan sekedar suplemen tambahan!</p>
<p>Dengan begitu, maka bangsa ini akan berdiri diatas kakinya sendiri. Bukan sekedar mengikuti tradisi, budaya, kesepakatan antar manusia, melainkan mengikuti sumber rujukan <strong>terbaik</strong> yang berasal dari Pencipta manusia. Disitu pula kemerdekaan hakiki itu bisa kita raih, saat kita telah mengenal diri kita, siapa kita, mau ngapain kita di dunia ini, dan apa peran besar kita sebagai bangsa dengan jumlah muslim terbesar di dunia</p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/mengenal-diri-melalui-mengenal-agama-islam/">Mengenal Diri, Melalui Mengenal Agama Islam</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
