<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kitab tadzkiratussami&#039; wal mutakallimin Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<atom:link href="https://generasifaqih.com/tag/kitab-tadzkiratussami-wal-mutakallimin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://generasifaqih.com/tag/kitab-tadzkiratussami-wal-mutakallimin/</link>
	<description>Wujudkan Pendidikan Islam Terbaik, Lahirkan Generasi Faqih Fiddin</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Jan 2026 04:24:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://generasifaqih.com/wp-content/uploads/2024/03/cropped-Daily-removebg-preview-32x32.png</url>
	<title>kitab tadzkiratussami&#039; wal mutakallimin Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<link>https://generasifaqih.com/tag/kitab-tadzkiratussami-wal-mutakallimin/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama</title>
		<link>https://generasifaqih.com/adab-berinteraksi-dengan-buku-dan-tinggal-di-asrama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 04:18:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=4063</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Penuntut ilmu dengan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Secanggih-canggihnya zaman moderna hari ini, mustahil kita berpaling dari buku. Karena sensasi membaca buku adalah suatu hal yang tidak bisa digantikan dengan teknologi digital. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim yang menuntut ilmu memahami adab-adabnya dalam berinteraksi dengan ... <a title="Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/adab-berinteraksi-dengan-buku-dan-tinggal-di-asrama/" aria-label="Read more about Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adab-berinteraksi-dengan-buku-dan-tinggal-di-asrama/">Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Penuntut ilmu dengan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Secanggih-canggihnya zaman moderna hari ini, mustahil kita berpaling dari buku. Karena sensasi membaca buku adalah suatu hal yang tidak bisa digantikan dengan teknologi digital. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim yang menuntut ilmu memahami adab-adabnya dalam berinteraksi dengan buku-bukunya.</p>



<p>Pertama, Memiliki perhatian untuk mengumpulkan kitab-kitab. Penuntut ilmu sebisanya membeli kitab, jika tidak mampu maka menyewanya, jika tidak mampu maka meminjamnya. Mengumpulkan kitab tidak sama dengan mengumpulkan ilmu, karena kitab itu untuk dipelajari bukan hanya untuk dikoleksi. Banyak orang yang mengaku-ngaku sebagai ahli fikih dan hadits, tetapi hanya mengumpulkan kitab-kitab saja.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/sdit-al-fauzan-batam-pendidikan-islam-berbasis-al-quran-workshop-guru-batam/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Transformasi Pendidik Hebat: SDIT Al Fauzan Batam Perkuat SDM Melalui Workshop Pendidikan Berbasis Al-Qur’an</a></strong></p>



<p>Kedua, adab meminjamkan kitab dan meminjamnya. Dianjurkan untuk meminjamkan kitab kepada penuntut ilmu sesuai level pemahamannya. Adapun adab-adab orang yang meminjam kitab adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Berterimakasih kepada yang meminjaminya dan membalasnya dengan kebaikan.</li>



<li>Segera mengembalikan kitab setelah kebutuhannya terpenuhi.</li>



<li>Tidak boleh memperbaikinya tanpa izin pemilik.</li>



<li>Tidak boleh menulis apapun tanpa kerelaan pemilik.</li>



<li>Tidak boleh meminjamkannya kepada orang lain.</li>



<li>Tidak boleh menitipkannya tanpa uzur.</li>



<li>Tidak boleh menyalin darinya tanpa izin pemiliknya, kecuali kitab wakaf.</li>



<li>Tidak boleh melakukan tindakan ceroboh yang bisa mengotorinya.</li>
</ol>



<p>Ketiga, menjaga kitab dan menyusun perpusatakaan. JIka sedang menyalin kitab atau sedang membacanya maka jangan meletakkannya di lantai dalam keadaan terbuka. Jika meletakannya pada suatu tempat dalam keadaan tersusun, hendaknya di atas kursi, atau di bawah kayu, atau yang sepertinya.</p>



<p>Keempat, menimbang keshahihan kitab sebelum mengambilnya. Sebelum meminjam, mengembalikan, atau membeli kitab, hendaknya memeriksa keshahihannya terlebih dahulu.</p>



<p>Kelima, ada menyalin kitab. Adab menyalin kitab dari kitab-kitab ilmu syar’I adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dalam keadaan suci.</li>



<li>Menghadap kiblat.</li>



<li>Suci badan dan pakaian.</li>



<li>Dengan tinta yang suci.</li>



<li>Memulai menulis dengan lafadz basmallah.</li>



<li>Setiap nama Allah tulis penghormatan dengan Ta’ala/ Subhanahu/Azza wa Jalla.</li>



<li>Setiap nama Nabi Muhammad tulis shalawat sesudahnya, tapi tidak boleh diringkas penulisannya.</li>



<li>Setiap nama sahabat patut menulis رضي الله عنه sesudahnya.</li>



<li>Setiap nama salah atau para imam besar patut menulis رحمه الله sesudahnya.</li>
</ol>



<p>Keenam, membaguskan tulisan dan alat menulis yang terpilih.</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Menggunakan tinta yang tidak cepat pudar.</li>



<li>Menggunakan tinta kering.</li>



<li>Menggunakan pena yang tidak mengganggu kecepatan dalam menulis.</li>



<li>Menggunakan pisau tajam yang khusus untuk meraut alat tulis, dan landasan potong yang keras.</li>
</ol>



<p>Ketujuh, adab mengoreksi kitab dan cara membacanya. Hendaknya meletakkan harakat untuk lafazh yang sulit dan menjelaskan bagian yang butuh penjelasan, misalnya dengan membuat catatan kaki. Hendaknya menuliskan dengan ukuran kecil keterangan khusus pada apa yang telah dikoreksi tersebut.</p>



<p>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/founder-pendidikan-holistik-profetik-ajak-guru-miliki-idealisme-islam-dalam-peringatan-hari-guru-nasional-2025/">Founder Pendidikan Holistik Profetik Ajak Guru Miliki Idealisme Islam dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2025</a></p>



<p>Kedelapan, mentakhrij yang salah. Jika hendak mentakhrih sesuatu pada catatan kaki, hendaknya memberi tanda pada tempatnya dengan tulisan yang sedikit miring ke arah takhrij dan menulis takhrijnya sejajar tanda dan naik ke bagian atas kertas.</p>



<p>Kesembilan, adab menulis catatan kaki. Boleh menulis catatan kaki, faidah-faidah, dan tambahan yang penting pada bagian bawah kitab miliknya. Tidak menulis kecuali faidah-faidah penting, tidak menebalkan kitab dengan menukil masalah-masalah dan cabang-cabang yang aneh, dan tidak menulis di antara baris-baris.</p>



<p>Kesepuluh, meletakkan bab, pasal, dan yang sepertinya dalam penulisan. Boleh menulis bab, judul, dan pasal dengan tinta merah, karena ia lebih jelas dalam menerangkan dan memisahkan penggalan-penggalan pembicaraan. Boleh memberi rumus untuk nama, madzhab, pendapat, jalan, bentuk, bahasa, angka, dan yang sepertinya. Jika melakukan hal ini hendaknya menjelaskannya di awal kitab agar pembaca memahami maksudnya.</p>



<p>Kesebelas, adab mencoret. Mencoret lebih baik daripada menghapus karena akan bisa lebih menjaga kertas kitab dan menghemat waktu.</p>



<p>Demikianlah kesebelas adab seorang murid kepada kitabnya. Selanjutnya akan dibahas adab-adab tinggal di Asrama Madrasah bagi guru dan juga murid.</p>



<p>Pertama, adab memilih Madrasah yang akan ditinggali. Hendaknya memilih Madrasah yang pewakafnya memiliki sifat wara’, wakaf Madrasahnya dari hasil yang halal, penghasilannya dari hasil yang baik. Jika memungkinkan, menghindari Madrasah yang dibangun oleh raja-raja.</p>



<p>Kedua, sifat pengajar memiliki kepemimpinan dan keutamaan, agama, dan akal, kewibawaan dan kemuliaan, kecerdasan untuk membaca murid dan sifat adil, mencintai orang-orang lemah, mendekatkan para penuntut ilmu, memotivasi orang-orang yang menyibukkan diri di lahan ilmu, menjauhkan orang-orang yang main-main, membantu orang-orang yang mempelajari ilmu, bersungguh-sungguh untuk mendapatkan manfaat, selalu berusaha memberi manfaat, dan adab-adabnya.</p>



<p>Hendaknya pengajar itu:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Tidak pergi ke tempat-tempat syubhat.</li>



<li>Menjaga shalat berjamaah.</li>



<li>Memiliki waktu khusus di luar jam belajar untuk murid-muridnya.</li>



<li>Mendahulukan urusan penghuni Madrasah.</li>



<li>Melaporkan progress murid ke penanggung jawabn wakaf.</li>
</ol>



<p>Demikianlah lima adab guru saat tinggal di asrama. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p>Sumber: Kajian kitab <em>Tadzkiratussami’ wal Mutakallim</em></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adab-berinteraksi-dengan-buku-dan-tinggal-di-asrama/">Adab Berinteraksi dengan Buku, dan Tinggal di Asrama</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2025 11:36:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[islam terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3718</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus sikap kurang pantas murid kepada gurunya. Selain faktor-faktor eksternal, tentu saja ada faktor internal dari diri seorang murid yang dapat menyebabkannya bersikap tidak sopan kepada orang yang seharusnya dia hormati. Di tulisan ini akan diulas beberapa adab-adab seorang murid bersama gurunya. Pertama, memilih seorang guru ... <a title="Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/" aria-label="Read more about Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/">Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus sikap kurang pantas murid kepada gurunya. Selain faktor-faktor eksternal, tentu saja ada faktor internal dari diri seorang murid yang dapat menyebabkannya bersikap tidak sopan kepada orang yang seharusnya dia hormati. Di tulisan ini akan diulas beberapa adab-adab seorang murid bersama gurunya.</p>



<p>Pertama, memilih seorang guru yang paling bermanfaat. Patut bagi penuntut ilmu agar menimbang dan beristikharah kepada Allah tentang dari siapa dia akan menimba ilmu, mendapatkan kebaikan akhlak dan adab dariya. Jika memungkinkan, hendaknya memilih seorang guru yang benar-benar kapabel, terbukti mengasihi, terlihat kepribadian baiknya, diketahui kebersihannya, dikenal keterjagaannya, yang paling bagus pengajarannya, yang paling baik upaya memahamkannya.</p>



<p>Hendaknya dia tidak terpaku dengan orang-orang yang masyhur dan meninggalkan orang-orang yang tidak punya nama. Sikap tidak mau berguru karena guru tersebut tidak masyhur adalah kesombongan. Jika guru yang tidak masyhur tersebut orang yang banyak kebaikannya, maka manfaatnya lebih menyeluruh, dan menggali ilmu dari sisinya lebih sempurna.</p>



<p>Diantara faktor paling besar yang membantu menuntut ilmu, memahaminya, dan menyingkirkan kejenuhan, adalah makan dengan kadar ukuran yang sedikir dari yang halal. Hindarilah mengambil ilmu dari shahafiyyah yaitu orang-orang yang hanya belajar dari buku.</p>



<p>Kedua, hendaknya tunduk kepada gurunya dalam urusan-urusannya. Murid di hadapan gurunya seperti seorang pasien di depan dokter ahli, yakni tidak keluar dari pendapat dan pengaturan gurunya. Hendanya murid berusahan mendapatkan rida gurunya dalam apa yang dia kerjakan, menghormatinya secara mendalam, beribadah kepada Allah dengan berkhidmat kepada gurunya, menyadari bahwa merendahkan diri untuk gurunya merupakan kemuliaan, menundukkan diri kepada gurunya merupakan kebanggaan, dan tawadhu’ kepada gurunya merupakan ketinggian.</p>



<p>Imam Al-Ghazali berkata,</p>



<p>لَا يُنَالُ العِلْمُ إِلَّا بِالتَّوَاضُعِ وَ إِلْقَاءِ السَّمْعِ</p>



<p>&nbsp;“Ilmu tidak diperoleh kecuali dengan tawadhu dan mendengar dengan baik.”</p>



<p>Murid yang menyela penjelasan hanya karena ingin mendebat gurunya, maka dia sesungguhnya tidak belajar. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Allah <em>Subhanahu Ta’ala</em> telah mengingatkan hal ini pada kisah nabi Musa dan nabi Khidir ‘alaihuma as-salam dalam firmanNya,</p>



<p>قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا</p>



<p>“Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku.” <strong>(QS. Al-Kahfi: 67).</strong></p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/hal-hal-yang-semestinya-diperhatikan-seorang-murid/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Hal-hal Yang Semestinya Diperhatikan Seorang Murid</a></strong></p>



<p>Padahal Nabi Musa memiliki martabat yang tinggi dari sisi kerasulan dan ilmu, Nabi Khidir menyaratkan agar Nabi Musa diam.</p>



<p>قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا</p>



<p>“Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri yang menerangkannya kepadamu” <strong>(QS. Al-Kahfi: 70).</strong></p>



<p>Menurut Nabi Musa, apa yang dilakukan Nabi Khidir itu salah. Tapi menurut Nabi Khidir apa yang dilakukannya itu benar hanya saja tidak terungkap pada Nabi Musa.</p>



<p>Ketiga, hendaknya murid memandang gurunya dengan mata penghormatan dan meyakini padanya derajat kesempurnaan, karena hal itu lebih membuka jalan baginya untuk menerima manfaat darinya. Jika murid tidak bisa memandang gurunya dengan pandangan kemuliaan, maka tidak bermulazamah dengannya adalah lebih selamat.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/wahai-murid-beradablah-bagi-dirimu-sendiri/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Wahai Murid, Beradablah bagi Dirimu Sendiri!</a></strong></p>



<p>Sebagian As-Salaf jika berangkat ke gurunya, dia bersedekah dengan sesuatu terlebih dahulu, dan berkata,</p>



<p>اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ شَيْخِيْ عَنِّيْ وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّيْ</p>



<p>&nbsp;“ Ya Allah, tutuplah aib guruku dariku, dan jangan lenyapkan keberkahan ilmunya dariku.”</p>



<p>Tidak patut seorang murid memanggil gurunya dengan kata “engkau” atau “kamu”, atau memanggilnya dari jauh (teriak). Akan tetapi hendaknya murid memanggil gurunya, “Wahai tua; wahai Ustadz.”</p>



<p>Saat tidak bersama guru, hendaknya tidak menyebut nama gurunya kecuali dengan menambah sesuatu yang menunjukkan penghormatan kepadanya, seperti berkata, “Syaikh atau Ustadz Fulan berkata…” atau “Syaikh kami berkata…” dan yang sepertinya.</p>



<p>Adapun nama-nama para sahabat atau para salafus sholih atau ulama-ulama besar seperti as-Syafi’I, ar-Rabi’ dan sebagainya, terkadang disebut tanpa tambahan apapun, bukan karena tidak menghormati, akan tetapi nama-nama mereka sudah besar meski tanpa tambahan apapun dalam penyebutannya. Wallahua’lam.</p>



<p>Sumber: <strong>Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</strong></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/">Bagaimana Seharusnya Seorang Murid Bersikap kepada Gurunya?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-seorang-murid-bersikap-kepada-gurunya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2025 07:44:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan ini melanjutkan adab-adab seorang guru dengan para murid dan majelisnya. Pertama, jika seorang murid dalam menuntut ilmu mengambil cara yang di luar kesanggupan dirinya untuk memikul, sementara guru khawatir itu akan membuat murid menjadi jenuh, maka guru menasihatinya agar bersikap seimbang terhadap dirinya. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda,&#160; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618;&#160;&#1571;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610; ... <a title="Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/" aria-label="Read more about Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/">Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan ini melanjutkan adab-adab seorang guru dengan para murid dan majelisnya. Pertama, jika seorang murid dalam menuntut ilmu mengambil cara yang di luar kesanggupan dirinya untuk memikul, sementara guru khawatir itu akan membuat murid menjadi jenuh, maka guru menasihatinya agar bersikap seimbang terhadap dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, </p>



<p>عَنْ&nbsp;أَبِي هُرَيْرَةَ&nbsp;رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:&nbsp;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ ( وَفِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ: لَمْ يُدْخِلْ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ). قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللهُ بِرَحْمَةٍ؛ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوْا.</p>



<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “Amal seseorang dari kalian tidak akan menyelamatkannya,” Mereka berkata, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Termasuk aku, hanya saja Allah menyelimutiku dengan rahmatNya, berlakulah pertengahan, manfaatkan waktu pagi dan petang, serta sebagian waktu akhir malam, seimbanglah, seimbanglah, niscaya kalian sampai ke tujuan.”</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a></strong></p>



<p>Menuntut ilmu itu butuh proses <em>tajarrud</em> (secara bertahap), tidak bisa instan sehingga harus dilakukan dengan rutin. Namun, aktivitas yang sifatnya rutinitas berpotensi membuat bosan. Guru boleh menyarankan murid untuk melakukan hal-hal yang mubah sebagai hiburan untuk menghilangkan kebosanan belajar. Namun tidak pula berlama-lama dengan hiburan tersebut. Cukuplah sehari atau dua hari saja.</p>



<p>Hendaklah guru tidak menganjurkan murid belajar sesuatu yang pemahaman atau usianya tidak kuasa memikulnya, atau sebuah kitab yang akalnya tidak menjangkau pemahamannya. Jika seseorang meminta pendapat guru dalam urusan membaca kitab atau belajar sebuah ilmu, namun guru tidak mengetahui keadaannya dari sisi pemahaman dan kemampuan hafalannya, maka guru tidak boleh menganjurkan apapun sebelum menjajaki pemahaman muridnya. Namun jika tidak memungkinkan untuk menunda jawaban maka guru mengarahkannya ke satu kitab yang mudah dalam disiplin ilmu yang dimaksud.</p>



<p>Jika guru melihat akal murid mampu dan pemahamannya bagus, maka guru mengalihkannya ke sebuah kitab yang layak baginya. Hal itu karena akan mengalihkan murid kepada sesuatu yang pengalihan itu menunjukkan ketajaman akalnya dan menambah ketenangannya. Sebaliknya, jika guru tidak melihat murid mampu secara pemahamannya, maka guru membiarkannya, karena jika guru memberi pemahaman yang sulit itu justru akan mengurangi semangatnya.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a></strong></p>



<p>Jika guru mengetahui atau menduga bahwa murid tidak berbakat di salah satu bidang ilmu, maka guru menyarankannya untuk beralih ke bidang ilmu lain yang mungkin dia kuasai dengan baik. Guru tidak membuka jalan bagi murid untuk menyibukkan diri pada dua atau lebih disiplin ilmu jika murid tidak mampu menguasainya dengan baik.</p>



<p>Kedua, hendaknya guru menyebutkan kepada murid, kaidah-kaidah disiplin ilmu yang general, baik secara mutlak maupun yang umum. Contoh kaidah yang mutlak (tidak butuh bukti) adalah pelaku yang secara langsung menjadi penyebab suatu masalah maka didahulukan tanggung jawab kepadanya.Contoh kaidah umum:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Setiap sumpah bahwa seseorang tidak melakukan sesuatu, sama artinya dengan panafian terhadap informasi sebelumnya (bahwa seseorang itu telah bebuat sesuatu yang dimaksud). Kaidah ini  dikecualikan terhadap tuduhan atas tuan seorang budak yang budaknya melakukan tindak kejahatan.</li>



<li>Semua ibadah itu pelakunya batal ibadahnya jika melakukan hal-hal yang membatalkan ibadah tersebut atau pelakunya menafikan ibadah tersebut (sebelum ibadah tersebut belum tuntas dikerjakan), kecuali ibadah haji dan umroh.</li>



<li>Setiap wudhu wajib tertib kecuali wudhu yang diselingi mandi junub. Dll.</li>
</ol>



<p>Hendaknya guru menyebutkan kepada murid tangga demi tangga ilmu yang&nbsp; harus dilewati sebelum mempelajari suatu ilmu tertentu. Hendaknya juga guru menyebutkan masalah-masalah unik yang jarang terjadi. Hendaknya guru juga menyebutkan pengetahuan umum yang harus diketahui murid, misalnya nama-nama sahabat, tabi’in, para imam, para ahli zuhud, dan orang-orang shalih. Hendaknya pula guru berhati-hati dari sifat merasa tersaingi dengan murid-muridnya. Karena pahala keutaman murid sesungguhnya akan berpulang kepada guru, meski murid lebih unggul ilmunya di kemudian hari.</p>



<p>Ketiga, hendaknya guru tidak memperlihatkan kecenderungannya kepada sebagian murid atas sebagian yang lain misalnya dalam hal perhatian, apresiasi, pemuliaan dan sebagainya kecuali jika tindakan tersebut untuk memotivasi murid yang lain.</p>



<p>Keempat, hendaknya guru mengawasi adab, perilaku, dan akhlak murid, lahir dan batin. Guru bisa meluruskan yang salah dari murid dengan sindiran. Jika tidak mempan, maka dengan nasihat secara rahasia. Jika tidak mempan juga, maka dengan larangan secara terbuka, dan seterusnya, sampai murid jera dan mau mengambil pelajaran.</p>



<p>Sungguh luar biasa adab-adab seorang guru kepada muridnya. Seandainya adab-adab ini diterapkan oleh setiap guru maka yang tercipta adalah hubungan kasih sayang yang kuat secara timbal balik. Karena murid sesungguhnya butuh bimbingan bukan disalah-salahkan. Karena membimbing mereka akan menunjukkan kebenaran setelah kesalahannya. Sementara menyalah-nyalahkannya saja hanya membuka pintu kebencian di kemudian hari. <em>Wallahu’alam bish showab []</em></p>



<p>Alhamdulillah, pembahasan tentang adab-adab seorang guru dengan para murid dan majelisnya telah selesai. Selanjutnya akan dibahas adab-adab murid terhadap dirinya sendiri, insya Allah.</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzakiratussami’ wal mutakallim.</p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/">Murid Butuh Bimbingan, Bukan Disalah-Salahkan!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/murid-butuh-bimbingan-bukan-disalah-salahkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2025 15:03:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3455</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan ini melanjutkan pembahasan tentang adab-adab seorang guru terhadap murid dan majelisnya. Karena sejatinya, seorang guru adalah wujud langsung yang ditiru oleh murid. Maka, adab dalam mengajar adalah ilmu yang harus dikuasai dan dipraktikkan oleh guru. Sewaktu SMA dulu, saya pernah mendapat cerita dari adik kelas. Sewaktu pelajaran Kimia, ada ... <a title="Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/" aria-label="Read more about Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh :<strong> Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan ini melanjutkan pembahasan tentang adab-adab seorang guru terhadap murid dan majelisnya. Karena sejatinya, seorang guru adalah wujud langsung yang ditiru oleh murid. Maka, adab dalam mengajar adalah ilmu yang harus dikuasai dan dipraktikkan oleh guru.</p>



<p>Sewaktu SMA dulu, saya pernah mendapat cerita dari adik kelas. Sewaktu pelajaran Kimia, ada salah satu temannya yang bertanya tentang sebuah istilah asing pada gurunya. Mengejutkan, gurunya justru mengejeknya dengan kalimat tidak pantas dengan menjudge bahwa murid yang bertanya tadi bodoh karena sudah dijelaskan tapi tidak juga mengerti. Seketika murid tersebut merasa sangat malu. Kejadian itu bisa jadi membuat si murid trauma dan tidak mau bertanya lagi di lain waktu. Inilah pentingnya seorang guru memiliki adab di depan murid-muridnya. Pada tulisan ini akan dibahas tiga adab lainnya.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a></strong></p>



<p>Pertama, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membuat murid paham. Tipsnya adalah dengan tidak memperbanyak penjelasan sehingga melampaui daya tampung otaknya. Guru dapat memulai pengajaran dengan menggambarkan masalah-masalah tertentu kemudian menjelaskannya dengan contoh. Adapun untuk murid yang level berpikirnya lebih tinggi, guru dapat menyertakan dalil-dalil yang mendukung, menjelaskan makna-makna dari hikmah-hikmah yang ada pada masalah tersebut.</p>



<p>Dalam menjelaskan pelajaran, guru boleh menyebutkan kata-kata tabu jika memang dibutuhkan. Tetapi apabila kata-kata tabu tersebut dapat diwakilkan dengan kata kiasan yang diketahui oleh semua orang, maka lebih baik menggunakan kata kiasan. Demikian pula, jika ada diantara murid yang murid itu akan malu apabila guru mengucapkan kata-kata tertentu, maka guru harus menggunakan kata lain untuk menjelaskan maksud yang sama.</p>



<p>Adab ini selaras dengan firman Allah Ta’ala :</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ </strong></p>



<p>“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” <strong>(QS. An-Nahl: 125)</strong></p>



<p>Kedua, jika guru telah selesai menjelaskan pelajaran, dia boleh melontarkan beberapa masalah yang berkaitan dengan pelajaran kepada para murid dengan tujuan untuk menguji pemahaman dan daya serap mereka terhadap apa yang guru jelaskan kepada mereka. Murid yang jawabannya benar, maka guru memujinya. Murid yang belum paham, maka guru mengulang pelajaran tersebut dengan lemah lembut.</p>



<p>Tujuan guru melontarkan beberapa masalah adalah untuk mengetahui sejauh mana murid memahami pelajaran. Karena kemungkinan ada murid yang malu untuk mengakui bahwa dirinya belum paham, atau ada pula murid yang tidak ingin membebani gurunya dengan mengulang penjelasan. Ada pula murid yang mengurungkan niat bertanya karena sempitnya waktu. Bisa jadi pula ada murid yang malu dengan teman-temannya karena minta dijelaskan ulang sehingga menghambat bacaan teman-temannya yang lain.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</a></strong></p>



<p>Oleh karenanya, tidak patut bagi guru sering-sering bertanya kepada murid, “apakah kamu sudah mengerti?” kecuali jika dijamin bahwa murid akan jujur dengan menjawab, “saya belum paham.” Karena bisa jadi murid berdusta dengan menjawab dia sudah paham padahal sebenarnya dia belum paham. Jika guru bertanya “apakah kamu sudah paham?” dan murid mengatakan “ya sudah paham” maka guru tidak pelu melontarkan masalah lagi kecuali murid yang memintanya. Karena bisa jadi jika diminta menjawab dan jawabannya kurang tepat, maka murid tersebut akan malu.</p>



<p>Guru harus mampu menjaga situasi majelisnya agar tidak ada seorang murid yang merasa malu atau minder. Karena hal ini justru akan membuat motivasi belajar murid berkurang. Di dalam sirah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyelematkan seorang sahabat dari dari malu akibat dia kentut saat sedang ramai-ramai dengan sahabat lainnya menyantap hidangan daging onta di masjid.</p>



<p>Ketiga, hendaknya meminta sebagian murid agar memuraja’ah hafalan-hafalan di sebagian kesempatan, menjajaki daya serap mereka terhadap apa yang guru ajarkan kepada mereka berupa kaidah-kaidah penting dan masalah-masalah atau dalil yang guru sebutkan.</p>



<p>Guru boleh memuji dan berterimakasih kepada murid yang menjawab benar di depan teman-temannya jika tidak dikhawatirkan timbul rasa ujub pada diri si murid itu, agar menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain untuk bersungguh-sungguh dalam meningkatkan ilmu.</p>



<p>Murid yang terlihat lalai, maka guru boleh menasihatinya dengan tegas apabila ketegasan itu tidak membuat si murid lari. Jika muridnya justru bisa termotivasi belajarnya dengan nasihat tegas maka guru boleh melakukannya.</p>



<p>Betapa menjadi seorang guru adalah tugas yang sangat mulia. Guru yang memahami adab-adabnya kepada murid tidak hanya mengajarkan pemahaman yang benar, bahkan sampai adab bertanya kepada murid dan menasihati mereka juga diperhatikan dengan hati-hati.</p>



<p>Wallahu a’lam bis showab.</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab <em>Tadzakiratussami’ wal mutakallim.</em></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/">Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/wahai-guru-pahamilah-muridmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2025 23:44:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3304</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan ini adalah pembahasan terakhir tentang adab orang yang berilmu terhadap dirinya sendiri.&#160; Mari kita buka dengan perkataan indah Imam Al-Ghazali. &#8220;Adab tertinggi seorang penuntut ilmu adalah dia tetap mendengar nasihat atau ilmu dari seseorang dan bersikap seolah-olah baru mendengar, walaupun sebenarnya dia sudah tahu dan berkali-kali mendengarnya. Sepintas ini ... <a title="Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/" aria-label="Read more about Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/">Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan ini adalah pembahasan terakhir tentang adab orang yang berilmu terhadap dirinya sendiri.&nbsp; Mari kita buka dengan perkataan indah Imam Al-Ghazali. “Adab tertinggi seorang penuntut ilmu adalah dia tetap mendengar nasihat atau ilmu dari seseorang dan bersikap seolah-olah baru mendengar, walaupun sebenarnya dia sudah tahu dan berkali-kali mendengarnya. Sepintas ini terlihat mudah, tapi pada faktanya tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Dikarenakan manusia memiliki naluri untuk menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan orang lain. Menekannya adalah sebuah usaha yang memerlukan hati bersih dan ikhlas.</p>



<p>Sikap tersebut berkaitan dengan adab selanjutnya, yakni hendaknya orang yang berilmu tidak menolak mengambil faidah ilmu yang tidak diketahuinya dari orang lain sekalipun orang tersebut berada dibawahnya dari sisi kedudukannya, nasabnya, atau usianya. Sebaliknya ia tetap bersungguh-sungguh untuk mendapatkan faidah di mana pun ia berada. Bagi orang yang beriman, saat ia menemukan sepotong hikmah kehidupan adalah seperti ia menemukan barangnya yang hilang. Pastilah ia akan memungutnya dimanapun ia berada. Artinya dimanapun, kapanpun, dan dari siapapun ia bisa tetap mengambil ilmu atau belajar.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/">Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</a></strong></p>



<p>Sa’id bin Jubair berkata, “Seseorang tetaplah berilmu selama dia terus belajar, jika dia meninggalkan belajar, menyangka dirinya tidak membutuhkan ilmu dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, maka dia adalah orang yang paling bodoh.”</p>



<p>Adab ini dicontohkan oleh para ulama dahulu. Al-Humaidi yang merupakan salah satu murid imam Asy-Syafi’I berkata, “Aku menyertai asy-Syafi’I dari Mekkah ke Mesir, aku mengambil faidah darinya dalam banyak masalah dan dia mengambil faidah hadits dariku.”</p>



<p>Ataupun pada apa yang pernah dikatakan imam Ahmad bin Hanbal. “Asy-Syafi’I berkata kepada kami, ‘Kalian lebih mengetahui hadits daripada diriku, jika ada hadits yang shahih pada kalian, katakanlah kepada kami agar aku mengambilnya.” Sikap Imam-As-Syafi’I yang mengambil faidah dari orang yang lebih rendah kedudukannya dari sisi keilmuan adalah hal yang harus diteladani.</p>



<p>Adab terakhir pada pembahasan ini adalah hendaknya orang yang berilmu menyibukkan diri dengan menulis, mengumpulkan dan menyusun karya tulis. Menulis itu menuntut ketekunan, muthola’ah, dan muraja’ah.</p>



<p>Al-Khatib al-Baghdadi berkata bahwa menulis akan “menguatkan daya ingat, menajamkan mata hati, menghidupkan tabiat, membaguskan kemampuan untuk menjelaskan, mendatangkan sanjungan yang baik, pahala yang besar, dan mengekalkan namanya hingga akhir zaman.”</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/">Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</a></strong></p>



<p>Ada beberapa anjuran untuk orang-orang yang ingin mengamalkan aktivitas menulis, hendaknya ia:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Menulis sesuatu yang dibutuhkan orang banyak</li>



<li>Menggunakan ungkapan yang jelas</li>



<li>Menghindari menulis yang terlalu panjang</li>



<li>Menghindari menulis terlalu ringkas sehingga tujuan tidak tersampaikan</li>



<li>Menulis karya yang belum dibuat orang lain</li>



<li>Tidak merilis karyanya sebelum mengeditnya, mengkajinya, dan menatanya secara berulang-ulang</li>
</ol>



<p>Imam Ibnu Jama’ah berkomentar terkait orang yang menulis. Beliau mengungkapkan bahwa di zaman sekarang, tidak banyak orang berilmu yang mau menulis karya padahal ia punya ilmu dan kemampuan untuk menulis. Sementara, kita banyak menjumpai karya-karya orang lain yang isinya adalah bait-bait syair, kisah-kisah mubah atau yang lainnya. Padahal tulisan tentang ilmu-ilmu syariat adalah lebih utama dibandingkan yang lain.</p>



<p>Mari kita tutup tulisan ini dengan perkataan indah Imam Al-Ghazali juga,&nbsp; “Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama maka menulislah.”</p>



<p>In sya Allah di tulisan berikutnya kita akan membahas tentang adab-adab orang yang berilmu terhadap majelisnya. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/">Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</title>
		<link>https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 May 2025 23:37:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3296</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Adab lainnya dari orang yang berilmu kepada dirinya sendiri antara lain adalah, pertama, hendaknya ia menjaga syiar-syiar Islam yang zahir dan menampakkan sunnah-sunnah. Seperti melaksanakan sholat di masjid secara berjama&#8217;ah; menebarkan salam kepada orang yang khusus dan orang-orang umum; amar ma&#8217;ruf dan nahi mungkar dan bersabar atas apa yang menimpa ... <a title="Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/" aria-label="Read more about Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/">Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Adab lainnya dari orang yang berilmu kepada dirinya sendiri antara lain adalah, <strong>pertama</strong>, hendaknya ia menjaga syiar-syiar Islam yang zahir dan menampakkan sunnah-sunnah. Seperti melaksanakan sholat di masjid secara berjama’ah; menebarkan salam kepada orang yang khusus dan orang-orang umum; amar ma’ruf dan nahi mungkar dan bersabar atas apa yang menimpa dirinya (karena amar ma’ruf nahi mungkarnya); menyerukan yang haq di depan penguasa; menampakkan amal-amal sunnah; meninggalkan perkara bid’ah; melakukan perbuatan mashlahat melalui jalan yang disyari’atkan dan jalan yang diikuti; dan tidak rela menerima dari sekedar perbuatan yang boleh (dari perkara dzohir dan bathin) tapi hendaknya mengambil perkara yang paling baik.</p>



<p>Orang ‘alim yang bermanfaat ilmunya adalah yang selaras perkataan dan perbuatan dengan ilmunya tersebut. Imam Syafi’I berkata, “ilmu itu bukanlah yang sekedar dihafal, tetapi apa yang bermanfaat.” Oleh karena itu, kekeliruan orang ‘alim itu berat, karena dia bisa menimbulkan mafsadat bagi orang yang mengikutinya.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/tauhid-sebagai-landasan-pendidikan-anak/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak</a></strong></p>



<p><strong>Kedua,</strong> hendaknya dia menjaga dirinya dengan perkara syari’at. Perkataan dan perbuatannya sesuai syari’at; melazimkan tilawah Al-Qur’an (membaca dan me-ittiba’nya); menjaga dzikir kepada Allah dengan hati dan lisan; menjaga do’a dan dzikir sepanjang malam dan siang hari; mengamalkan ibadah sunnah; puasa; haji; dan bersolawat kepada nabi.</p>



<p>Makna tilawah Al-Qur’an di sini, tidak hanya membaca tetapi juga mentafakkuri. Merenungkan maknanya, merenungi perintah dan larangan Allah, merenungi janji-janjiNya, ancamanNya, berhenti pada batasanNya (tidak melanggar larangan Allah), dan berhati-hati dari melupakanNya.</p>



<p><strong>Ketiga, </strong>hendaknya orang yang berilmu itu bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia. Orang yang berilmu akan menampakkan wajah yang berseri-seri; memberi makan orang lain; menahan amarah; bersikap insfhof (banyak memberi maaf); tidak banyak menuntut hak (berlapang dada); berusaha menciptakan rasa aman kepada orang lain; berusaha membantu orang memenuhi hajatnya; menggunakan kedudukannya untuk menolong orang lain; bersikap lemah lembut kepada orang fakir; mendekatkan diri kepada tetangga dan kerabat; dan lemah lembut kepada murid-murid dan membantu mereka.</p>



<p>Dalam pergaulan, orang yang berilmu memiliki empat tingkatan, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Kita bisa menjadikan setiap tingkatan ini sebagai acuan untuk mengukur level baiknya pergaulan kita memperlakukan orang lain. Level terendah adalah mampu menahan amarah. Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam </em>bersabda, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ</strong></p>



<p><em>“Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam bergulat. Sesungguhnya orang kuat adalah siapa yang dapat menahan dirinya ketika marah.”</em> <strong>(Mutafaq’alaih). </strong></p>



<p>Hadits ini menjelaskan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kekuatan fisik, tetapi terletak pada kemampuan seseorang mengendalikan dirinya dari nafsu amarah dan menang dari bisikan setan untuk marah. Pengendalian diri ini tentu lahir dari ilmu yang diamalkan oleh seseorang.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/kemuliaan-pendidik-amal-jariyah-yang-tak-terputus/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Kemuliaan Pendidik &amp; Amal Jariyah Yang Tak Terputus</a></strong></p>



<p>Level kedua adalah mampu menahan diri dari mengganggu orang lain. Sebagaimana dirinya tidak suka apabila diganggu orang lain, maka dia menyadari orang lain juga tidak ingin diganggu oleh dirinya. Sebagaimana hadits Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ</strong></p>



<p><em>“Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”</em> <strong>(HR. Bukhari dan Muslim). </strong></p>



<p>Hadits ini mengajarkan bahwa kebaikan sejati seorang muslim tidak diukur dari kekhusyu’annya dalam beribadah kepada Allah ta’ala semata, tetapi diukur juga dari penjagaan lisan dan perbuatannya dari menyakiti orang lain.</p>



<p>Level ketiga adalah mampu mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri (<em>itsar</em>). Orang yang berilmu pada level ini akan senantiasa ingat bahwa dalam perkara duniawi adalah terpuji saat dia mendahulukan hajat orang lain sementara di saat itu juga dia memiliki hajat yang sama.</p>



<p>Level keempat atau yang tertinggi, adalah mampu berbuat ihsan yakni membalas kezoliman orang lain terhadap dirinya dengan kebaikan. Di dalam syari’at, manusia diperbolehkan untuk membalas keburukan dengan keburukan yang setimpal meskipun juga ditekankan untuk memafkan. Allah Ta’ala berfirman, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍۢ سَيِّئَةٌۭ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ</strong></p>



<p><em>“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” </em><strong>(QS. Asy-Syura:40). </strong></p>



<p>Dan juga di ayat yang lain, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا۟ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌۭ لِّلصَّـٰبِرِينَ</strong></p>



<p><em>“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”</em> <strong>(QS. An-Nahl:126).</strong></p>



<p>Dua ayat di atas menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang manusiawi. Manusia yang terzalimi, secara fitrah pasti memiliki keinginan untuk membalas kezaliman tersebut. Oleh karena itu, syari’at tidak mencela perbuatan pembalasan ini. Akan tetapi syari’at sangat memuji apabila kezaliman dibalas dengan maaf, bersabar, dan berbuat baik setelahnya. Perbuatan ihsan seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak berilmu. Karena dengan ilmu yang lahir dari keimanannya, ia mampu meyakini bahwa ada Allah, Dzat yang akan berlaku adil atas setiap perbuatan manusia. Adab-adab selanjutnya in Sya Allah akan dibahas di tulisan berikutnya.<em> Wallahua’lam.</em></p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/">Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diantara Sifat Orang Berilmu</title>
		<link>https://generasifaqih.com/diantara-sifat-orang-berilmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Mar 2025 07:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Holistic Prophetic Education (HOPE) Method]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[alim]]></category>
		<category><![CDATA[berilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat orang alim]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3262</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Pada tulisan sebelumnya telah dijabarkan dua adab orang berilmu yaitu memiliki sifat muraqabatullah dan menjaga ilmu. Di tulisan ini akan dibagikan tiga adab lainnya. Pertama, memiliki sifat zuhud. Hendaknya seorang &#8216;alim menghiasi dirinya dengan sifat zuhud. Zuhud adalah tidak memiliki hasrat besar terhadap dunia. Orang yang berilmu akan meminimalisir dirinya ... <a title="Diantara Sifat Orang Berilmu" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/diantara-sifat-orang-berilmu/" aria-label="Read more about Diantara Sifat Orang Berilmu">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/diantara-sifat-orang-berilmu/">Diantara Sifat Orang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Pada tulisan sebelumnya telah dijabarkan dua adab orang berilmu yaitu memiliki sifat <em>muraqabatullah</em> dan menjaga ilmu. Di tulisan ini akan dibagikan tiga adab lainnya. Pertama, memiliki sifat zuhud. Hendaknya seorang ‘alim menghiasi dirinya dengan sifat zuhud. Zuhud adalah tidak memiliki hasrat besar terhadap dunia. Orang yang berilmu akan meminimalisir dirinya dari apa-apa yang ada di dunia. Misalnya, ia bekerja hanya sekedar untuk bisa memenuhi hajat dirinya dan keluarganya, tidak sampai membahayakan dirinya dan keluarganya.</p>



<p>Hasan Al-Basri berkatan, zuhud adalah dunia itu berada di tanganmu, bukan di hatimu. Derajat orang berilmu paling rendah adalah menjauhi keterikatan dirinya dengan dunia. Karena orang berilmu adalah orang yang paling tahu tentang godaan dan kesulitan dunia. Maka, dialah orang yang lebih patut untuk tidak menoleh kepada dunia.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/tauhid-sebagai-landasan-pendidikan-anak/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak</a></strong></p>



<p>Yahya bin Muadz berkata, “Seandainya dunia adalah emas yang fana dan akhirat adalah tanah liat yang kekal, pastilah seharusnya bagi orang yang berakal, ia lebih memilih tanah liat yang kekal daripada emas yang fana. Namun sesungguhnya, dunialah yang merupakan tanah liat yang fana sedangkan akhirat adalah emas yang kekal.”</p>



<p>Kedua, memuliakan ilmu dengan tidak menjadikannya sebagai anak tangga untuk meraih kepentingan dunia. Misalnya menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai dunia; kedudukan; harta; nama baik; dan popularitas agar orang berkhidmat kepadanya; atau hendak bersaing kepada rekan-rekannya. Imam Syafi’I rahimahullah berkata, <em>“Aku menginginkan orang-orang yang belajar ilmu agar tidak ada satu huruf pun yang disandarkan kepada diriku.”</em> Imam Syafi’I adalah salah satu ulama yang zuhud dan tawadhu’. Karya-karyanya mendunia hingga saat ini, seakan Allah menjaga ilmunya dan meridhoi apa yang beliau tulis hingga sampailah ilmu itu pada umat setelah wafatnya. Perkataan beliau tersebut menunjukkan keikhlasan beliau terhadap ilmu dan kezuhudan beliau terhadap dunia. Beliau tidak berniat menghasilkan karya untuk dikenang dan populer, melainkan murni untuk mencari ridho Allah.</p>



<p>Ketiga, menghindari pekerjaan rendah dan menjauhi sumber munculnya tuduhan. Hendaknya seorang ‘alim menghindari pekerjaan yang rendah secara adat dan makruh secara syar’I, seperti pembekam; menyama’ kulit, jual beli mata uang; mengolah barang tambang. Juga menjauhi tempat-tempat yang memunculkan tuduhan yang macam-macam kepada dirinya.</p>



<p>Orang yang berilmu harus meninggalkan sesuatu yang bisa mencederai harga dirinya atau sesuatu yang secara lahir diingkari meskipun secara bathin boleh. Karena ia memosisikan dirinya bisa dicela orang-orang dan menjerumuskan orang-orang dengan dosa mencela. Contoh, apabila seorang ‘alim masuk ke tempat hiburan malam dengan niat ingin berdakwah; atau orang ‘alim (laki-laki) keluar rumah hanya memakai baju tanpa lengan dan celana pendek. Sebaiknya ini dihindari.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</a></strong></p>



<p>Jika sesuatu tersebut terjadi karena ada hajat atau lainnya, maka dia sebaiknya menjelaskannya kepada siapa yang melihatnya, menjelaskan hukum, alasan, dan tujuannya, agar orang yang melihat itu tidak terjatuh ke dalam dosa karenanya atau menjauh darinya dan tidak berkenan belajar kepadanya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em> pernah mengalami hal demikian yakni saat beliau sedang bersama seorang wanita tengah berbincang. Kemudian lewat dua orang laki-laki yang melihat mereka, lalu keduanya menghindar. Sebagaimana kita ketahui bahwa istri-istri Nabi <em>Shallallahu’alaihi wasallam </em>mereka keluar rumah dengan menutup aurat secara sempurna dan memakai cadar. Rasulullah memanggil mereka, “Tunggu, tetaplah kalian di tempat, sesungguhnya wanita ini adalah Shaffiyah.” Kemudian Nabi bersabda, “Sesungguhnya setan mengalir pada manusia pada aliran darahnya, aku takut dia menyusupkan sesuatu ke dalam hati kalian, lalu kalian berdua celaka.” &nbsp;Rasulullah menjelaskan kepada dua orang laki-laki tersebut, agar mereka tahu bahwa yang sedang bersama Rasulullah adalah istri beliau, bukan wanita asing, sehingga tidak timbul fitnah diantara mereka.</p>



<p>Inilah pentingnya orang yang berilmu untuk memperhatikan aktivitasnya agar tidak memunculkan prasangka buruk orang lain terhadapnya. Bersikap zuhud, tidak mejadikan ilmunya sebagai alat mencapai hal duniawi yang bathil, serta menghindarkan diri dari perkara yang akan menimbulkan tuduhan adalah dintara adab seorang berilmu terhadap dirinya sendiri. Adab-adab selanjutnya in Sya Allah akan dibahas di tulisan berikutnya. <em>Wallahua’alam.</em></p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/diantara-sifat-orang-berilmu/">Diantara Sifat Orang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inilah Tanda Ilmu Kita Bermanfaat!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/inilah-tanda-ilmu-kita-bermanfaat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Feb 2025 22:59:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu yang bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[LPK Generasi Faqih Fiddin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3255</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Biasanya seorang pengajar akan meminta murid-muridnya untuk menunjukkan adab yang baik terhadapnya. Karena itu juga bagian dari ilmu yang harus dibiasakan sedari kecil oleh seorang penuntut ilmu. Tapi bagaimana dengan pengajar itu sendiri? Adakah adab-adab yang harus dimiliki pengajar terhadap dirinya sendiri? Dalam kitab tadzkiratussami&#8217; walmutakallim karya Imam Ibnu Jama&#8217;ah, ... <a title="Inilah Tanda Ilmu Kita Bermanfaat!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/inilah-tanda-ilmu-kita-bermanfaat/" aria-label="Read more about Inilah Tanda Ilmu Kita Bermanfaat!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/inilah-tanda-ilmu-kita-bermanfaat/">Inilah Tanda Ilmu Kita Bermanfaat!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Biasanya seorang pengajar akan meminta murid-muridnya untuk menunjukkan adab yang baik terhadapnya. Karena itu juga bagian dari ilmu yang harus dibiasakan sedari kecil oleh seorang penuntut ilmu. Tapi bagaimana dengan pengajar itu sendiri? Adakah adab-adab yang harus dimiliki pengajar terhadap dirinya sendiri?</p>



<p>Dalam kitab <em>tadzkiratussami’ walmutakallim</em> karya Imam Ibnu Jama’ah, disebutkan ada adab-adab yang harus dimiliki orang berilmu pada dirinya sendiri sebelum ia mengajarkan ilmunya. Pada tulisan ini, akan dibagikan dua adab diantaranya.</p>



<p>Pertama, ia harus selalu merasa diawasi Allah (<em>muraqabatullah</em>). Merasa diawasi Allah adalah buah dari keimanan kepada Allah. Seorang muslim terlebih orang yang mengajarkan ilmu, seharusnya memiliki sikap ini baik di keadaan sendiri ataupun terang-terangan. Dia selalu merasa takut kepada Allah dalam segala aktivitasnya, perkataannya, dan perbuatannya. Karena dia adalah orang yang dipercaya baik panca inderanya maupun pemahamannya. Sikap muraqabah itu akan mencegahnya dari kemaksiatan. Sementara orang yang bermaksiat saat dia sendirian adalah karena tipisnya rasa diawasi oleh Allah.</p>



<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ</strong></p>



<p>Artinya: “Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul dan juga janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui.”<strong> (QS. Al-Anfal: 27)</strong></p>



<p>Sikap <em>muraqabatullah</em> lahir dari rasa takut kepada Allah (<em>khouf</em>). Sikap ini melahirkan ketenangan pada diri seseorang karena ia hanya takut apabila dinilai buruk oleh Tuhannya. Sehingga ia tetap akan menjadi hamba yang taat, tidak peduli apakah ada manusia yang melihatnya atau tidak. Orang yang memiliki <em>khouf</em> karena Allah, tidak akan terpengaruh dengan ucapan manusia. Pujian dan celaan tidak merubah ketakutannya kepada Allah. Inilah <em>khouf</em> yang berasal dar ilmu.</p>



<p>Inilah buah manis dari mempelajari ilmu. Namun, tidak semua orang berilmu dapat mengambil kebaikan dari buah mempelajari ilmu. Imam Syafi’I berkata, <em>“Bukanlah ilmu apa-apa yang dihafal, tetapi ilmu itu apa yang bermanfaat.”</em> Maka, amatlah rugi seseorang yang mencari ilmu,&nbsp; jika sesudah didapatkan namun tidak bermanfaat apa-apa.</p>



<p>Tanda ilmu itu bermanfaat adalah dengan melihat sejauh mana ilmu berpengaruh terhadap tindakan, perkataan, dan adab kita. Apakah ilmu itu sesuai dengan apa yang kita jalani atau tidak. Jika tidak berpengaruh maka inilah yang disebut ilmu yang tidak bermanfaat. Penyebabnya adalah salahnya niat menuntut ilmu.</p>



<p>Diantara tanda-tanda bagi seseorang yang ilmunya bermafaat adalah, ia selalu bersikap tenang; berwibawa; khusyu’; menghindari hal-hal yang sia-sia; memiliki sikap <em>wara’, tawadhu’</em> dan tunduk kepada Allah.</p>



<p>Lebih rinci, tanda-tanda ilmu yang bermanfaat sebagaimana yang disampaikan Imam Malil. Imam Malik menulis surat kepada Khalifah Al-Rasyid, isinya “Kalau engkau mengetahui satu ilmu, maka hendaklah engkau lihat <em>atsar</em>nya (bekasnya), ketenangannya, pembawaannya, kewibawaannya, dan kesantunannya.”</p>



<p>Contoh adab orang berilmu adalah saat dia dipangil atau diajak bicara, maka dia menolehkan wajah dan juga badannya ke arah orang yang memanggilnya. Ini juga adalah adab yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat berbicara kepada seseorang. Maka tampaklah dari diri Rasulullah pembawaan yang penuh wibawa dan santun.</p>



<p>Kedua, hendaknya dia menjaga ilmu. Seorang pengajar atau yang berilmu hendaklah melindungi ilmunya sebagaimana penjagaan ulama-ulama salaf terhadap ilmu dan berkhidmat kepada ilmu dengan apa yang Allah jadikan untuknya berupa kemuliaan dan kehormatan. Termasuk merendahkan ilmu dan suatu kemaksiatan, apabila seorang ‘alim hilir mudik membawa ilmunya kepada yang bukan ahlinya dari kalangan para penghamba dunia tanpa alasan darurat atau tanpa hajat kebutuhan. Misalnya seorang ‘alim yang memenuhi undangan untuk mendatangi pintu penguasa yang zalim bukan dalam rangka amar makruf dan nahi mungkar, melainkan untuk membenarkan kezaliman penguasa tersebut dengan ilmu mereka.</p>



<p class="has-text-align-left">Imam Al-Ghzali dalam Bidayatul Hidayah menyebutkan bahwa mendatangi para penguasa yang zalim tanpa hajat adalah kemaksiatan. Karena itu adalah bentuk merendahkan diri dan memuliakan mereka. Padahal Allah telah memerintahkan untuk berpaling dari mereka. Allah Ta’ala berfirman :</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا۟ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓا۟ إِلَى ٱلطَّٰغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوٓا۟ أَن يَكْفُرُوا۟ بِهِۦ وَيُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا</strong></p>



<p><strong>Artinya:</strong> Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. <strong>(QS. An-Nisa : 60)</strong></p>



<p>Seseorang tidak dikatakan merendahkan ilmu apabila ia tidak mendatangi <em>abdauddunya</em> (hamba dunia) tanpa alasan darurat atau hajat. Ia juga tidak membawa ilmunya kepada orang-orang yang memiliki kedudukan dan posisi strategis dengan maksud untuk mendapatkan dunia (harta; kedudukan; <em>power</em>) dari mereka. <em>Wallahua’lam</em> [RK]</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ walmutakallim</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/inilah-tanda-ilmu-kita-bermanfaat/">Inilah Tanda Ilmu Kita Bermanfaat!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Feb 2025 09:01:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan Belajar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3242</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Seorang muslim yang melaksanakan ibadah wajib karena Allah Ta&#8217;ala akan mendekatkannya kepada derajat hamba yang mulia. Namun, seorang muslim yang melaksanakan ibadah nawafil lebih dicintai Allah, sebab ia melaksanakannya bukan karena kewajiban melainkan karena tujuannya ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta&#8217;ala. Misalnya, seorang muslim yang melaksanakan sholat fardhu lima waktu, ... <a title="Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/" aria-label="Read more about Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/">Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Seorang muslim yang melaksanakan ibadah wajib karena Allah Ta’ala akan mendekatkannya kepada derajat hamba yang mulia. Namun, seorang muslim yang melaksanakan ibadah nawafil lebih dicintai Allah, sebab ia melaksanakannya bukan karena kewajiban melainkan karena tujuannya ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Misalnya, seorang muslim yang melaksanakan sholat fardhu lima waktu, subuh; zuhur; ‘ashar; maghrib; dan ‘isya dicintai oleh Allah. Namun apabila ia menambahnya dengan solat rawatibnya, maka ia akan lebih dicintai oleh Allah. Begitupun dengan seorang muslim yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan akan dicintai oleh Allah, namun bila ia menambahnya dengan puasa sunnah 6 hari di bulan syawal, puasa senin-kamis, puasa di bulan-bulan haram dan puasa sunnah lainnya, tentulah ia akan lebih dicintai oleh Allah.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/komunikasi-orang-tua-kepada-anak-dalam-perspektif-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Komunikasi Orang Tua Kepada Anak dalam Perspektif Al-Qur’an</a></strong></p>



<p>Namun ternyata, ada amal yang lebih utama untuk dikerjakan daripada ibadah nawafil yaitu menyibukkan diri dengan ilmu. Sesungguhnya mempelajari ilmu adalah kebaikan, mencarinya adalah ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mencurahkan tenaga dan waktu (untuk ilmu) adalah mendekatkan diri kepada Allah, dan mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh.</p>



<p>Fudhail bin Iyadh berkata, “Ulama yang mengajar disebut-sebut sebagai orang yang besar di kerajaan langit.” Karena orang yang mengamalkan dan mengajarkan ilmu agama dimuliakan Allah dan para malaikat. Demikian pula yang dikatakan ulama Sufyan bin ‘Uyainah, “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah perantara antara Allah dengan hambaNya, mereka adalah para nabi dan ulama.” Adakah kedudukan yang lebih mulia daripada ini?</p>



<p>Ketika kita membaca Al-Qur’anm, banyak yang tidak kita ketahui, maka para ulamalah tempat kita bertanya. Inilah yang menjadikan mereka memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sufyan bin Uyainah berkatan, “Manusia tidak diberi sesuatu di dunia yang lebih baik daripada kenabian, dan sesudah kenabian tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada ilmu dan pemahaman dalam agama.” Ditanyakan kepadanya, “Dari siapa ini berasal?” Dia menjawab, “Dari para fuqaha semuanya.”</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/dampak-keshalihan-orang-tua-terhadap-anak/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Dampak Keshalihan Orang Tua Terhadap Anak</a></strong></p>



<p>Mengapa yang disebut adalah para ahli fiqih (fuqaha)? Karena ahli fiqih itu diibaratkan seperti dokter yang mampu meresepkan obat dengan takaranyang pas sesuai kebutuhan. Sampai-sampai apabila ahli hadits tidak mempelajari fiqih, maka mereka tidak bisa mendapat petunjuk dari ilmu hadits tersebut.</p>



<p>Berkata Sahl bin Abdullah at-Tustari Abu Muhammad, “Barangsiapa ingin memandang majelis-majelis para nabi, maka silakan melihat majelis-majelis para ulama.” Majelis para ulama disamakan dengan majelis para nabi yang mulia kaerna dipenuhi dengan hikmah, ilmu, dan nasihat. Tidak ada ucapan yang sia-sia, dusta. Semuanya bermanfaat dan berharga. Inilah majelis ilmu yang dikatakan sebagai taman-taman syurga.</p>



<p>Abu Dzar dan Abu Hurairah pernah berkata, “Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami sukai dari shalat sunnah seribu rakaat. Dan satu bab ilmu yang kami ajarkan, diamalkan atau tidak (oleh orang lain) lebih kami sukai dari shalat sunnah seratus raka’at.”</p>



<p>Oleh karena itu, menyibukkan diri dengan ilmu karena Allah lebih baik daripada ibadah nawafil badan seperti sholat, puasa, tasbih, dan do’a. Karena pahala sunnah hanya untuk diri sendiri dan akan terputus saat kita meninggal. Sementara ilmu yang diajarkan, manfaatnya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain yang pahalanya terus mengalir meskipun pemiliknya telah meninggal selama ilmu tersebut bermanfaat.” Wallahua’lam bish showab. (RK)</p>



<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiratussami’ wal Mutakallim.</strong></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/adakah-yang-lebih-baik-dari-amal-nawafil/">Adakah yang Lebih Baik dari Amal Nawafil?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seberapa Muliakah Derajat Para Penuntut Ilmu?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/seberapa-muliakah-derajat-para-penuntut-ilmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jan 2025 07:28:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Holistic Prophetic Education (HOPE) Method]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[HOPE Method]]></category>
		<category><![CDATA[islam terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3227</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Keimanan kepada Hal-Hal Ghaib: Beriman kepada Malaikat Salah satu syarat keimanan seseorang adalah beriman kepada hal-hal ghaib, termasuk beriman kepada malaikat-malaikat Allah. Malaikat adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dari cahaya untuk menjalankan tugas-tugas khusus. Malaikat memiliki derajat yang sangat mulia karena mereka senantiasa taat kepada Allah dan tidak pernah ... <a title="Seberapa Muliakah Derajat Para Penuntut Ilmu?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/seberapa-muliakah-derajat-para-penuntut-ilmu/" aria-label="Read more about Seberapa Muliakah Derajat Para Penuntut Ilmu?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/seberapa-muliakah-derajat-para-penuntut-ilmu/">Seberapa Muliakah Derajat Para Penuntut Ilmu?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Keimanan kepada Hal-Hal Ghaib: Beriman kepada Malaikat</h3>



<p>Salah satu syarat keimanan seseorang adalah beriman kepada hal-hal ghaib, termasuk beriman kepada malaikat-malaikat Allah. Malaikat adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dari cahaya untuk menjalankan tugas-tugas khusus.</p>



<p>Malaikat memiliki derajat yang sangat mulia karena mereka senantiasa taat kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat. Ketika iblis menolak sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, para malaikat mematuhi perintah Allah tanpa ragu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Beriman kepada Malaikat</h3>



<p>Beriman kepada malaikat berarti meyakini keberadaan mereka dan tugas-tugas yang mereka jalankan. Salah satu tugas malaikat adalah mencatat amal perbuatan manusia, baik yang baik maupun yang buruk.</p>



<p>Kesadaran akan keberadaan malaikat ini menumbuhkan sikap <strong>muraqabatullah</strong>, yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah. Orang yang memiliki sikap ini akan berhati-hati dalam setiap tindakannya karena mereka tahu bahwa semua amal dicatat oleh malaikat yang diutus Allah.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/siapakah-orang-yang-paling-banyak-mengambil-warisan-nabi/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Siapakah Orang yang Paling Banyak Mengambil Warisan Nabi?</a></strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Malaikat Menyukai Majelis Ilmu</h3>



<p>Malaikat sangat mencintai majelis ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>



<p>&nbsp;&nbsp;وَإِنَّ الۡمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجۡنِحَتَهَا رِضًى لِطَالِبِ الۡعِلۡمِ، وَإِنَّ الۡعَالِمَ لَيَسۡتَغۡفِرُ لَهُ مَنۡ فِي السَّمَاوَاتِ وَالۡأَرۡضِ، وَالۡحِيتَانُ فِي جَوۡفِ الۡمَاءِ</p>



<p>“…dan sesungguhnya malaikat-malaikat meletakkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya orang berilmu akan dimintakan ampunan Allah oleh siapa yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan di dalam lautan…”<strong> (HR. Abu Dawud, no. 3641).</strong></p>



<p>Ulama berbeda pendapat tentang makna malaikat meletakkan sayapnya di atas penuntut ilmu. Beberapa diantaranya adalah malaikat bersikap <em>tawadhu’</em> terhadap penuntut ilmu; malaikat turun dan hadir bersama penuntut ilmu; malaikat menghargai penuntut ilmu; malaikat membawanya dengan sayapnya dan membantu mereka untuk mendapatkan apa yang mereka (penuntut ilmu) inginkan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Malaikat dan Doa untuk Penuntut Ilmu</h3>



<p>Selain itu, dikabarkan pula bahwa penduduk langit, yakni para malaikat juga memintakan ampunan kepada Allah untuk para penuntut ilmu. Ini tentu saja adalah derajat yang sangat mulia. Karena tidak mungkin para malaikat sibuk memohonkan ampunan untuk seseorang jika orang tersebut tidak memiliki derajat yang mulia di sisi Allah. Jika do’a orang-orang yang saleh saja sering diperebutkan orang karena dianggap akan mudah diijabah oleh Allah, lantas bagaimana dengan do’a para malaikat yang kita tidak ketahui banyaknya jumlah mereka? Bisa jadi ada puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan malaikat yang mendo’akan orang yang sedang menuntut ilmu. Maka penuntut ilmu yang mengetahui fadillah ini seharusnya berlomba-lomba untuk terus istiqomah mempelajari ilmu.</p>



<p><strong>Baca Juga :  <a href="https://generasifaqih.com/seberapa-penting-pemaknaan-seputar-hijrah-hakiki/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seberapa Penting Pemaknaan Seputar Hijrah Hakiki?</a></strong></p>



<p>Tidak hanya penduduk langit, penduduk bumi seperti hewan-hewan turut memohon ampunan untuk penuntut ilmu. Hewan-hewan diciptakan Allah Ta’la untuk kemashlahatan manusia dengan memberikan manfaatnya. Sementara orang berilmu adalah orang yang menjelaskan apa yang halal dan haram serta berwasiat untuk berlaku <em>ihsan</em> kepada hewan-kewan&nbsp; dan menyingkirkan hal-hal mudarat darinya. Contohnya, pada aktivitas penyembelihan hewan. Di dalam Islam, penyembelihan hewan harus memperhatikan adab-adabnya. Diantaranya adalah menajamkan alat pemotong; tidak memukul/menendang atau perlakuan yang menyakiti hewan sebelum disembelih; tidak membiarkan hewan lain menyaksikan proses penyembelihan; langsung memotong 3 saluran di leher hewan tanpa berlama-lama; dan sebagainya. Semua adab-adab ini adalah sunnah dari Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>. Siapakah yang dapat menjelaskan adab-adab ini kepada semua orang jika bukan para ulama? Maka Seakan-akan hewan-hewan berterimakasih kepada orang-orang yang berilmu.</p>



<p>Inilah gambaran ketinggian derajat orang-orang yang berilmu. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada para penuntut ilmu, menjaga keikhlasan mereka, dan memberikan keberkahan pengetahuan mereka untuk disebarkan kepada umat. <em>Wallahua’lam bish showab</em>. (RK)</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/seberapa-muliakah-derajat-para-penuntut-ilmu/">Seberapa Muliakah Derajat Para Penuntut Ilmu?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
