<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>muallim Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<atom:link href="https://generasifaqih.com/tag/muallim/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://generasifaqih.com/tag/muallim/</link>
	<description>Wujudkan Pendidikan Islam Terbaik, Lahirkan Generasi Faqih Fiddin</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jul 2025 03:08:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://generasifaqih.com/wp-content/uploads/2024/03/cropped-Daily-removebg-preview-32x32.png</url>
	<title>muallim Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<link>https://generasifaqih.com/tag/muallim/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2025 02:59:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[generasi faqih]]></category>
		<category><![CDATA[generasifaqih]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[guru menutup pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[kafaratul majlis]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan kali ini menyempurnakan pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Adab-adab ini penting dihadirkan seorang guru di hadapan &#160;murid-muridnya, bahkan mampu menampakkan kewibawaan dirinya. Pertama, memperlakukan para murid dengan baik dan memerhatikan kebaikan mereka saat pelajaran. Seorang pelajar adalah seseorang yang sedang berproses untuk membentuk akhlak mulia pada dirinya. Dalam ... <a title="Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" aria-label="Read more about Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan kali ini menyempurnakan pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Adab-adab ini penting dihadirkan seorang guru di hadapan &nbsp;murid-muridnya, bahkan mampu menampakkan kewibawaan dirinya. Pertama, memperlakukan para murid dengan baik dan memerhatikan kebaikan mereka saat pelajaran. Seorang pelajar adalah seseorang yang sedang berproses untuk membentuk akhlak mulia pada dirinya. Dalam perjalanan belajarnya, tentulah seorang guru menghadapi keburukan-keburukan akhlak mereka agar dapat diperbaiki. Guru harus memahami bahwa yang sedang ia hadapi adalah manusia dan bukan robot. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kesabaran yang luas. Maka hendaknya, guru senantiasa bersikap ramah dan berwajah menyenangkan di depan murid-muridnya. Apakah ia murid baru ataukah murid lama. Khusus untuk murid yang baru, maka seorang guru harus memahami bahwa jika ia tidak bersikap ramah, maka hal itu akan membuat sang murid merasa canggung. Namun, guru juga tidak perlu banyak memandangnya dan menoleh heran kepadanya, karena hal itu akan membuat sang murid malu dan semakin canggung.</p>



<p>Di dalam majelis para ulama, kadangkala saat mereka mengajar ada orang-orang mulia yang datang di tengah-tengah saat majelis berlangsung. Jika kondisinya seperti ini, maka guru hendaknya diam sejenak sampai orang mulia itu duduk atau mengulang pembahasan masalah untuknya. Ada pula kondisi ada seorang ahli fikih yang datang di ujung waktu majelis. Bagaimana guru menyikapinya? Maka hendaknya guru menunda menutup majelisnya hingga ahli fikih itu duduk, kemudian ia menyempurnakan pembahasan agar yang datang tidak malu karena hadirin berdiri saat dia duduk. Demikianlah cara guru menjaga adab di depan orang yang berilmu. Artinya, seorang guru sedang memerhatikan kebaikan orang-orang yang hadir di majelisnya dengan tidak memajukan atau memundurkan waktu jika tidak ada alasan mendesak dan tidak menambah beban.</p>



<p>Kedua, adab menutup pelajaran. Biasanya sebelum menutup pelajaran, guru merangkum inti materi yang telah ia sampaikan. Guru harus bersikap tawadhu’ terhadap ilmunya, karena tidaklah ia mungkin bisa menyampaikan satu ilmu kecuali atas izin dari pemilik ilmu, Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>. Oleh karena itu, hendaklah setiap kali ia menutup pelajaran ia mengatakan “Ini adalah akhirnya” atau “dan yang sesudahnya akan hadir insya Allah”. Lalu ia menyertakannya dengan ucapan <em>wallahua’alam</em> yang bermakna Allahlah yang Maha Mengetahui. Setelah kelas atau majelis ditutup maka hendaknya guru menunggu sejenak hingga semuanya beranjak. Hal ini memberikan beberapa faidah kepada guru, diantaranya adalah guru tidak berdesak-desakan dengan murid; jika pada sebagian murid masih ada pertanyaan, dia bisa bertanya; tidak berkendara di tengah-tengah muridnya jika ia berkendara; dll. Kemudian manakala ia bangkit dari majelisnya ia mengucapkan do’a penutup majelis, <em>subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu anlaa ilaa ha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik..</em></p>



<p>Ketiga, tidak mengajar sebelum dirinya mampu atau kapabel. Hendaknya guru tidak duduk di tempat mengajar bila belum kapabel untuk mengajar. Ia tidak menyampaikan kepada manusia ilmu yang tidak diketahuinya, karena hal itu berarti mempermainkan agama dan melecehkan masyarakat. </p>



<p class="has-text-align-left">Dari Asy-Syibli, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَ وَهُوَ لَمْ يَكُنْ أَهْلًا لَهُ فَقَدْ حَفَرَ لِنَفْسِهِ حُفْرَةَ الذُّلِّ</strong></p>



<p>“Barangsiapa mengajar sebelum masanya (belum kapabel) maka dia menggali lubang kehinaan bagi dirinya sendiri.”<sup data-fn="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd" class="fn"><a id="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd-link" href="#1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd">1</a></sup></p>



<p>Orang yang berakal adalah orang yang menjaga dirinya dari sesuatu yang menyebabkan siapa yang terjerumus ke dalamnya dinilai kurang, siapa yang melakukannya dianggap zalim, dan siapa yang bersikukuh mempertahankannya dipandang fasik.</p>



<p>Alhamdulillah, telah selesai pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Pembahasan selanjutnya adab-adab seorang guru terhadap muridnya in sya Allah akan hadir. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</p>


<ol class="wp-block-footnotes"><li id="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd"><strong>Imam Abu Hanifah rahimahullah</strong>, menyampaikan bahwa siapa yang mengejar kepemimpinan sebelum waktunya, maka ia akan menanggung kehinaan seumur hidupnya. Ungkapan serupa ini muncul dalam konteks nasihat tentang kewajiban kompetensi sebelum mengajar (disarikan dari <em>Adabul Alim wal Muta’allim</em> karya H. M. Hasyim Asy’ari) <a href="#1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd-link" aria-label="Jump to footnote reference 1"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li></ol>


<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2025 02:25:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[HOPE Method]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[pendidik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3348</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan kali ini akan membahas tentang adab-adab seorang guru bersama muridnya dan majelisnya. Hari ini, dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak kasus yang terjadi di sekolah-sekolah melibatkan antara guru dengan muridnya sendiri hingga tingkat yang paling parah. Padahal, diantara aktivitas paling mulia dalam kehidupan manusia adalah mengajari ... <a title="Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/" aria-label="Read more about Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/">Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan kali ini akan membahas tentang adab-adab seorang guru bersama muridnya dan majelisnya. Hari ini, dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak kasus yang terjadi di sekolah-sekolah melibatkan antara guru dengan muridnya sendiri hingga tingkat yang paling parah. Padahal, diantara aktivitas paling mulia dalam kehidupan manusia adalah mengajari mereka ilmu, terlebih lagi ilmu syari’at. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah, malaikat-malaikat-Nya, dan penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya, bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”</em></p>



<p>Tentu masalah ini bersifat sistemik, namun setidaknya dapat diminalisir dengan memahami adab-adab antara guru dengan muridnya serta mengamalakannya. Pertama, hendaknya tujuan dari mengajar para murid adalah wajah Allah Ta’ala, menyebarkan ilmu, menghidupkan syariat, meninggikan kalimat kebenaran, memadamkan kebatilan, mempertahankan kebaikan untuk umat dengan banyaknya para ulama, mewujudkan keberkahan doa mereka untuknya dan doa rahmat dari mereka untuknya, memasukkannya ke dalam rangkaian gerbong ilmu diantara Rasulullah dengan mereka, mencakupkannya ke dalam rombongan muballigh wahyu Allah dan hukum &#8211; hukum-Nya. Guru hendaknya meyakini bahwa mengajarkan ilmu termasuk urusan agama yang paling penting dan derajat tertinggi orang-orang mukmin. </p>



<p>Sebagian Salaf berkata, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>طَلَبْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ، فَأَبَى أَنْ يَكُونَ إِلَّا للهِ</strong></p>



<p>“Kami mencari ilmu karena selain Allah, namun ilmu menolak kecuali karena Allah.”<sup data-fn="d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd" class="fn"><a id="d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd-link" href="#d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd">1</a></sup></p>



<p><strong>Kedua,</strong> hendaknya tidak menolak mengajar murid hanya karena niat murid belum ikhlas, karena niat ikhlas diharapkan akan terwujud baginya menyusul keberkahan ilmu. Jika murid pemula terasa belum ikhlas, maka sang guru perlu mendorong murid untuk berniat ikhlas secara bertahap melalui perkataan dan perbuatannya. Ada sebuah kalam ulama yang sangat bagus untuk kira renungkan. <em>“Membentuk adab itu dari qudwah sang guru. Adanya mahabbah dari guru ke murid dan sebaliknya melahirkan doa-doa dari guru ke murid-muridnya.”</em></p>



<p><strong>Ketiga,</strong> hendaknya memotivasi murid untuk menuntut ilmu dalam berbagai kesempatan dengan menjelaskan keutamaan-keutamaan yang akan diberikan Allah kepada para penuntut ilmu, yakni derajat yang mulia. Juga hendaknya mendorong murid untuk membatasi diri terhadap dunia dengan sikap qana’ah agar hatinya tidak sibuk dan fokusnya tidak terpecah karena ambisi duniawi. Sebab, fokus kepada ilmu akan menenangkan dadanya, lebih mulia untuk dirinya, lebih tinggi bagi kedudukannya, lebih meminimalkan orang-orang yang hasad terhadapnya, dan lebih membantunya menjaga ilmu dan meningkatkannya.</p>



<p>Faktanya, motivasi semangat belajar atau aktivitas apapun efektif disampaikan melalui cerita. Menceritakan kisah kegigihan dan kezuhudan para ulma terdahulu terhadap ilmu dapat memberikan motivasi kepada murid untuk terus memiliki keinginan yang besar dalam meraih ilmu. Sebab para nabi dan rasul tidaklah mewarisi dinar dan dirham, melainkan mewarisi ilmu.</p>



<p><strong>Keempat,</strong> hendaknya mencintai untuk murid apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ</strong></p>



<p>“Seseorang dari kalian tidak beriman sehingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya.” <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>



<p>Ibnu Abbas berkata, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>أَفْضَلُ النّاسِ عِنْدِي تَلامِيذِي الَّذِينَ يَأْتُونَ مَجْلِسِي وَيَطْأُونَ ظُهُورَ النَّاسِ، وَلَوْ أَسْتَطَعْتُ لَمَنعْتُ عَنْهُمُ الذُّبَابَ</strong></p>



<p>“Manusia yang paling mulia adalah muridku yang datang ke majelis ku dengan melangkahi puundak orang-orang. Seandainya aku mampu agar lalat tidak hingga padanya, pasti aku lakukan,”<sup data-fn="3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b" class="fn"><a id="3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b-link" href="#3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b">2</a></sup></p>



<p>Hendaknya guru memerhatikan kemaslahatan muridnya seperti memperlakukan anaknya sendiri yang paling ia kasihi, bersabar atas perilakunya yang tidak sopan yang mungkin terjadi, bersabar atas kekurangannya, dan membuka maaf sebisa mungkin. Namun, hendaknya guru meluruskan apa yang dilakukan muridnya dengan kasih sayang dan lemah lembut, bukan dengan kekerasan, karena tujuannya adalah mendidiknya dengan baik, membaguskan akhlaknya, dan memperbaiki kehidupannya.</p>



<p>Kelima, hendaknya menyampaikan materi pelajaran dengan mudah dan memahamkan murid dengan lemah lembut, apalagi jika murid itu layak untuk diperlakukan demikian karena adabnya yang baik dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu.</p>



<p>Hendaknya guru memotivasi murid untuk mencatat faidah-faidah dan mengingat masalah-masalah yang unik. Hendaknya juga guru tidak menahan berbagai macam ilmu yang ditanyakan murid sementara murid layak mengetahuinya, karena hal itu bisa menyempitkan dada, menggalaukan hati, dan melahirkan ketidaknyamanan. Namun guru juga tidak boleh menyampaikan apa yang belum layak didengar murid, karena hal itu bisa mengacaukan pikiran dan memecahkan pemahamannya.</p>



<p><em>Wallahua’lam bish showab.</em></p>



<p>Sumber: Kajian Kitab <em>Tadzakiratussami’ wal mutakallim.</em></p>


<ol class="wp-block-footnotes"><li id="d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd">Ucapan ini memang <strong>masyhur</strong> di kalangan ulama Salaf, dan biasanya dinisbatkan kepada beberapa tokoh seperti <strong>Sufyan ats-Tsauri</strong>, <strong>al-Zuhri</strong>, atau <strong>Imam al-Ghazali</strong> dalam versi yang senada <a href="#d1351cd8-b02d-4d2c-8aa6-a3cbe68e15cd-link" aria-label="Jump to footnote reference 1"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li><li id="3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b">Ucapan ini disebutkan oleh <strong>Ibnu Jama‘ah al‑Kinani asy‑Syāfi‘ī</strong> dalam karyanya <em>Tadzkirat as‑Sāmi‘</em>, mengutip sebuah tradisi lisan yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu <a href="#3801e194-4efa-45ba-9d7d-80a789be2c6b-link" aria-label="Jump to footnote reference 2"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li></ol>


<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/">Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/sudahkah-guru-menjadi-teladan-bagi-muridnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Feb 2025 10:17:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[generasi faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajar]]></category>
		<category><![CDATA[penuntut ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3250</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Keberuntungan adalah suatu hal yang menggembirakan. Di dalam Islam, keberuntungan sering dikaitkan dengan keimanan. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Al-Mu&#8217;minun ayat pertama, &#1602;&#1614;&#1583;&#1761; &#1575;&#1614;&#1601;&#1761;&#1604;&#1614;&#1581;&#1614; &#1575;&#1604;&#1761;&#1605;&#1615;&#1572;&#1761;&#1605;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1761;&#1606;&#1614;&#1753;&#8207; &#8220;Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.&#8221; Di ayat-ayat selanjutnya disebutkan bahwa keberuntungan itu akan diraih oleh orang beriman dengan syarat, yaitu yang khusyuk dalam sholatnya; ... <a title="Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/" aria-label="Read more about Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/">Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Keberuntungan adalah suatu hal yang menggembirakan. Di dalam Islam, keberuntungan sering dikaitkan dengan keimanan. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Al-Mu’minun ayat pertama, قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَۙ‏ “<em>Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”</em> Di ayat-ayat selanjutnya disebutkan bahwa keberuntungan itu akan diraih oleh orang beriman dengan syarat, yaitu yang khusyuk dalam sholatnya; yang menjauhkan diri dari perkara tak bermanfaat; yang menunaikan zakat; yang menjaga kemaluannya kecuali pada yang halal; yang memelihara janji dan sholat.</p>



<p>Keimanan yang kuat akan melahirkan ketaatan yang kuat pula. Kuatnya keimanan diawali dari pengetahuannya terhadap agama. Semakin baik pemahamannya terhadap agama akan berimplikasi pada baiknya amal, sementara baiknya amal adalah ciri-ciri dari ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya. Inilah korelasi antara keberuntungan dengan seseorang yang memahami agamanya, yaitu orang yang berilmu.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</a></strong></p>



<p>Namun, ternyata tidak semua orang berilmu akan beruntung. Diriwayatkan dari Nabi <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em>,</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ</strong></p>



<p><em>“Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang bodoh, untuk menyaingi para ulama, atau agar memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka”</em> <strong>(HR. At-Tirmidzi).</strong></p>



<p>Di hadits lain juga disebutkan tentang orang berilmu namun justru tidak beruntung,</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>



<p><em>“Barangsiapa menuntut ilmu yang sepatutnya dituntut karena wajah Allah, tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surga pada Hari Kiamat.”</em> <strong>(HR. Abu Dawud).</strong></p>



<p>Dua hadits di atas mengandung ancaman dan celaan terhadap orang berilmu yang salah dalam niatnya menuntut ilmu. Jika mencari ilmu agama diniatkan untuk hal-hal yang datangnya selain dari Allah maka ini justru akan menjauhkan dirinya dari Allah. Contohnya, orang yang mencari ilmu demi ambisi dunia seperti beroleh kedudukan, harta, ataupun pengikut (followers) dan murid. Padahal sejatinya, ilmu dicari untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang dipuji olehNya, bukan sebaliknya melakukan hal-hal yang dicela oleh Allah dan rasulNya.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/komunikasi-orang-tua-kepada-anak-dalam-perspektif-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Komunikasi Orang Tua Kepada Anak dalam Perspektif Al-Qur’an</a></strong></p>



<p>Bahkan di riwayat yang lain diceritakan malapetaka yang lebih dahsyat bagi orang-orang berilmu yang salah meletakkan niatnya.</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ<br></strong></p>



<p>Sesungguhnya manusia pertama yang urusannya diputuskan pada Hari Kiamat-Nabi menyebutkan tiga orang dan di dalamnya disebutkan-: <em>“…Dan seorang laki-laki yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an, di didatangkan, Allah mengingatkannya terhadap nikmat-nikmatNya, maka dia mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan padanya?’ Dia menjawab,’Aku belajar ilmu dan mengajarkannya karenaMu, aku membaca al-Qur’an karenaMu.” Allah berfirman, ‘Kamu berbohong, akan tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan, ‘Orang yang berilmu.’ Kamu membaca al-Qur’an agar dikatakan, ‘Qari’.’ Dan itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkanlah untuk menyeretnya (tersungkur) di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka”</em> <strong>(HR. Muslim dan an-Nasa’i).</strong></p>



<p>Adapun orang-orang berilmu (‘ulama) yang memiliki fadhilah-fadhilah karena ilmunya adalah mereka yang ‘amil, yaitu ulama yang mengamalkan ilmunya. Merekalah orang-orang mulia lagi bertakwa. Mereka hanya mengarapkan wajah Allah yang mulia dan mencari kedekatan kepada Allah di syurga. Tidak ada niat di dalam hati mereka kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata. Inilah orang berilmu yang beruntung. Wallahua’lam. (RK)</p>



<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiratussami’ wal Mutakallim</strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/">Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
