<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ta&#039;lim Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<atom:link href="https://generasifaqih.com/tag/talim/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://generasifaqih.com/tag/talim/</link>
	<description>Wujudkan Pendidikan Islam Terbaik, Lahirkan Generasi Faqih Fiddin</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jun 2025 23:45:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://generasifaqih.com/wp-content/uploads/2024/03/cropped-Daily-removebg-preview-32x32.png</url>
	<title>Ta&#039;lim Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<link>https://generasifaqih.com/tag/talim/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2025 23:44:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3304</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan ini adalah pembahasan terakhir tentang adab orang yang berilmu terhadap dirinya sendiri.&#160; Mari kita buka dengan perkataan indah Imam Al-Ghazali. &#8220;Adab tertinggi seorang penuntut ilmu adalah dia tetap mendengar nasihat atau ilmu dari seseorang dan bersikap seolah-olah baru mendengar, walaupun sebenarnya dia sudah tahu dan berkali-kali mendengarnya. Sepintas ini ... <a title="Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/" aria-label="Read more about Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/">Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan ini adalah pembahasan terakhir tentang adab orang yang berilmu terhadap dirinya sendiri.&nbsp; Mari kita buka dengan perkataan indah Imam Al-Ghazali. “Adab tertinggi seorang penuntut ilmu adalah dia tetap mendengar nasihat atau ilmu dari seseorang dan bersikap seolah-olah baru mendengar, walaupun sebenarnya dia sudah tahu dan berkali-kali mendengarnya. Sepintas ini terlihat mudah, tapi pada faktanya tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Dikarenakan manusia memiliki naluri untuk menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan orang lain. Menekannya adalah sebuah usaha yang memerlukan hati bersih dan ikhlas.</p>



<p>Sikap tersebut berkaitan dengan adab selanjutnya, yakni hendaknya orang yang berilmu tidak menolak mengambil faidah ilmu yang tidak diketahuinya dari orang lain sekalipun orang tersebut berada dibawahnya dari sisi kedudukannya, nasabnya, atau usianya. Sebaliknya ia tetap bersungguh-sungguh untuk mendapatkan faidah di mana pun ia berada. Bagi orang yang beriman, saat ia menemukan sepotong hikmah kehidupan adalah seperti ia menemukan barangnya yang hilang. Pastilah ia akan memungutnya dimanapun ia berada. Artinya dimanapun, kapanpun, dan dari siapapun ia bisa tetap mengambil ilmu atau belajar.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/">Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</a></strong></p>



<p>Sa’id bin Jubair berkata, “Seseorang tetaplah berilmu selama dia terus belajar, jika dia meninggalkan belajar, menyangka dirinya tidak membutuhkan ilmu dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, maka dia adalah orang yang paling bodoh.”</p>



<p>Adab ini dicontohkan oleh para ulama dahulu. Al-Humaidi yang merupakan salah satu murid imam Asy-Syafi’I berkata, “Aku menyertai asy-Syafi’I dari Mekkah ke Mesir, aku mengambil faidah darinya dalam banyak masalah dan dia mengambil faidah hadits dariku.”</p>



<p>Ataupun pada apa yang pernah dikatakan imam Ahmad bin Hanbal. “Asy-Syafi’I berkata kepada kami, ‘Kalian lebih mengetahui hadits daripada diriku, jika ada hadits yang shahih pada kalian, katakanlah kepada kami agar aku mengambilnya.” Sikap Imam-As-Syafi’I yang mengambil faidah dari orang yang lebih rendah kedudukannya dari sisi keilmuan adalah hal yang harus diteladani.</p>



<p>Adab terakhir pada pembahasan ini adalah hendaknya orang yang berilmu menyibukkan diri dengan menulis, mengumpulkan dan menyusun karya tulis. Menulis itu menuntut ketekunan, muthola’ah, dan muraja’ah.</p>



<p>Al-Khatib al-Baghdadi berkata bahwa menulis akan “menguatkan daya ingat, menajamkan mata hati, menghidupkan tabiat, membaguskan kemampuan untuk menjelaskan, mendatangkan sanjungan yang baik, pahala yang besar, dan mengekalkan namanya hingga akhir zaman.”</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/">Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</a></strong></p>



<p>Ada beberapa anjuran untuk orang-orang yang ingin mengamalkan aktivitas menulis, hendaknya ia:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Menulis sesuatu yang dibutuhkan orang banyak</li>



<li>Menggunakan ungkapan yang jelas</li>



<li>Menghindari menulis yang terlalu panjang</li>



<li>Menghindari menulis terlalu ringkas sehingga tujuan tidak tersampaikan</li>



<li>Menulis karya yang belum dibuat orang lain</li>



<li>Tidak merilis karyanya sebelum mengeditnya, mengkajinya, dan menatanya secara berulang-ulang</li>
</ol>



<p>Imam Ibnu Jama’ah berkomentar terkait orang yang menulis. Beliau mengungkapkan bahwa di zaman sekarang, tidak banyak orang berilmu yang mau menulis karya padahal ia punya ilmu dan kemampuan untuk menulis. Sementara, kita banyak menjumpai karya-karya orang lain yang isinya adalah bait-bait syair, kisah-kisah mubah atau yang lainnya. Padahal tulisan tentang ilmu-ilmu syariat adalah lebih utama dibandingkan yang lain.</p>



<p>Mari kita tutup tulisan ini dengan perkataan indah Imam Al-Ghazali juga,&nbsp; “Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama maka menulislah.”</p>



<p>In sya Allah di tulisan berikutnya kita akan membahas tentang adab-adab orang yang berilmu terhadap majelisnya. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/">Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/jangan-tinggalkan-dua-hal-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</title>
		<link>https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 May 2025 23:37:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3296</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Adab lainnya dari orang yang berilmu kepada dirinya sendiri antara lain adalah, pertama, hendaknya ia menjaga syiar-syiar Islam yang zahir dan menampakkan sunnah-sunnah. Seperti melaksanakan sholat di masjid secara berjama&#8217;ah; menebarkan salam kepada orang yang khusus dan orang-orang umum; amar ma&#8217;ruf dan nahi mungkar dan bersabar atas apa yang menimpa ... <a title="Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/" aria-label="Read more about Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/">Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Adab lainnya dari orang yang berilmu kepada dirinya sendiri antara lain adalah, <strong>pertama</strong>, hendaknya ia menjaga syiar-syiar Islam yang zahir dan menampakkan sunnah-sunnah. Seperti melaksanakan sholat di masjid secara berjama’ah; menebarkan salam kepada orang yang khusus dan orang-orang umum; amar ma’ruf dan nahi mungkar dan bersabar atas apa yang menimpa dirinya (karena amar ma’ruf nahi mungkarnya); menyerukan yang haq di depan penguasa; menampakkan amal-amal sunnah; meninggalkan perkara bid’ah; melakukan perbuatan mashlahat melalui jalan yang disyari’atkan dan jalan yang diikuti; dan tidak rela menerima dari sekedar perbuatan yang boleh (dari perkara dzohir dan bathin) tapi hendaknya mengambil perkara yang paling baik.</p>



<p>Orang ‘alim yang bermanfaat ilmunya adalah yang selaras perkataan dan perbuatan dengan ilmunya tersebut. Imam Syafi’I berkata, “ilmu itu bukanlah yang sekedar dihafal, tetapi apa yang bermanfaat.” Oleh karena itu, kekeliruan orang ‘alim itu berat, karena dia bisa menimbulkan mafsadat bagi orang yang mengikutinya.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/tauhid-sebagai-landasan-pendidikan-anak/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak</a></strong></p>



<p><strong>Kedua,</strong> hendaknya dia menjaga dirinya dengan perkara syari’at. Perkataan dan perbuatannya sesuai syari’at; melazimkan tilawah Al-Qur’an (membaca dan me-ittiba’nya); menjaga dzikir kepada Allah dengan hati dan lisan; menjaga do’a dan dzikir sepanjang malam dan siang hari; mengamalkan ibadah sunnah; puasa; haji; dan bersolawat kepada nabi.</p>



<p>Makna tilawah Al-Qur’an di sini, tidak hanya membaca tetapi juga mentafakkuri. Merenungkan maknanya, merenungi perintah dan larangan Allah, merenungi janji-janjiNya, ancamanNya, berhenti pada batasanNya (tidak melanggar larangan Allah), dan berhati-hati dari melupakanNya.</p>



<p><strong>Ketiga, </strong>hendaknya orang yang berilmu itu bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia. Orang yang berilmu akan menampakkan wajah yang berseri-seri; memberi makan orang lain; menahan amarah; bersikap insfhof (banyak memberi maaf); tidak banyak menuntut hak (berlapang dada); berusaha menciptakan rasa aman kepada orang lain; berusaha membantu orang memenuhi hajatnya; menggunakan kedudukannya untuk menolong orang lain; bersikap lemah lembut kepada orang fakir; mendekatkan diri kepada tetangga dan kerabat; dan lemah lembut kepada murid-murid dan membantu mereka.</p>



<p>Dalam pergaulan, orang yang berilmu memiliki empat tingkatan, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Kita bisa menjadikan setiap tingkatan ini sebagai acuan untuk mengukur level baiknya pergaulan kita memperlakukan orang lain. Level terendah adalah mampu menahan amarah. Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam </em>bersabda, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ</strong></p>



<p><em>“Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam bergulat. Sesungguhnya orang kuat adalah siapa yang dapat menahan dirinya ketika marah.”</em> <strong>(Mutafaq’alaih). </strong></p>



<p>Hadits ini menjelaskan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kekuatan fisik, tetapi terletak pada kemampuan seseorang mengendalikan dirinya dari nafsu amarah dan menang dari bisikan setan untuk marah. Pengendalian diri ini tentu lahir dari ilmu yang diamalkan oleh seseorang.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/kemuliaan-pendidik-amal-jariyah-yang-tak-terputus/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Kemuliaan Pendidik &amp; Amal Jariyah Yang Tak Terputus</a></strong></p>



<p>Level kedua adalah mampu menahan diri dari mengganggu orang lain. Sebagaimana dirinya tidak suka apabila diganggu orang lain, maka dia menyadari orang lain juga tidak ingin diganggu oleh dirinya. Sebagaimana hadits Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ</strong></p>



<p><em>“Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”</em> <strong>(HR. Bukhari dan Muslim). </strong></p>



<p>Hadits ini mengajarkan bahwa kebaikan sejati seorang muslim tidak diukur dari kekhusyu’annya dalam beribadah kepada Allah ta’ala semata, tetapi diukur juga dari penjagaan lisan dan perbuatannya dari menyakiti orang lain.</p>



<p>Level ketiga adalah mampu mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri (<em>itsar</em>). Orang yang berilmu pada level ini akan senantiasa ingat bahwa dalam perkara duniawi adalah terpuji saat dia mendahulukan hajat orang lain sementara di saat itu juga dia memiliki hajat yang sama.</p>



<p>Level keempat atau yang tertinggi, adalah mampu berbuat ihsan yakni membalas kezoliman orang lain terhadap dirinya dengan kebaikan. Di dalam syari’at, manusia diperbolehkan untuk membalas keburukan dengan keburukan yang setimpal meskipun juga ditekankan untuk memafkan. Allah Ta’ala berfirman, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍۢ سَيِّئَةٌۭ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ</strong></p>



<p><em>“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” </em><strong>(QS. Asy-Syura:40). </strong></p>



<p>Dan juga di ayat yang lain, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا۟ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌۭ لِّلصَّـٰبِرِينَ</strong></p>



<p><em>“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”</em> <strong>(QS. An-Nahl:126).</strong></p>



<p>Dua ayat di atas menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang manusiawi. Manusia yang terzalimi, secara fitrah pasti memiliki keinginan untuk membalas kezaliman tersebut. Oleh karena itu, syari’at tidak mencela perbuatan pembalasan ini. Akan tetapi syari’at sangat memuji apabila kezaliman dibalas dengan maaf, bersabar, dan berbuat baik setelahnya. Perbuatan ihsan seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak berilmu. Karena dengan ilmu yang lahir dari keimanannya, ia mampu meyakini bahwa ada Allah, Dzat yang akan berlaku adil atas setiap perbuatan manusia. Adab-adab selanjutnya in Sya Allah akan dibahas di tulisan berikutnya.<em> Wallahua’lam.</em></p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/">Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/tingkatan-pergaulan-orang-yang-berilmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diantara Sifat Orang Berilmu</title>
		<link>https://generasifaqih.com/diantara-sifat-orang-berilmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Mar 2025 07:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Holistic Prophetic Education (HOPE) Method]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[alim]]></category>
		<category><![CDATA[berilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat orang alim]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3262</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Pada tulisan sebelumnya telah dijabarkan dua adab orang berilmu yaitu memiliki sifat muraqabatullah dan menjaga ilmu. Di tulisan ini akan dibagikan tiga adab lainnya. Pertama, memiliki sifat zuhud. Hendaknya seorang &#8216;alim menghiasi dirinya dengan sifat zuhud. Zuhud adalah tidak memiliki hasrat besar terhadap dunia. Orang yang berilmu akan meminimalisir dirinya ... <a title="Diantara Sifat Orang Berilmu" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/diantara-sifat-orang-berilmu/" aria-label="Read more about Diantara Sifat Orang Berilmu">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/diantara-sifat-orang-berilmu/">Diantara Sifat Orang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Pada tulisan sebelumnya telah dijabarkan dua adab orang berilmu yaitu memiliki sifat <em>muraqabatullah</em> dan menjaga ilmu. Di tulisan ini akan dibagikan tiga adab lainnya. Pertama, memiliki sifat zuhud. Hendaknya seorang ‘alim menghiasi dirinya dengan sifat zuhud. Zuhud adalah tidak memiliki hasrat besar terhadap dunia. Orang yang berilmu akan meminimalisir dirinya dari apa-apa yang ada di dunia. Misalnya, ia bekerja hanya sekedar untuk bisa memenuhi hajat dirinya dan keluarganya, tidak sampai membahayakan dirinya dan keluarganya.</p>



<p>Hasan Al-Basri berkatan, zuhud adalah dunia itu berada di tanganmu, bukan di hatimu. Derajat orang berilmu paling rendah adalah menjauhi keterikatan dirinya dengan dunia. Karena orang berilmu adalah orang yang paling tahu tentang godaan dan kesulitan dunia. Maka, dialah orang yang lebih patut untuk tidak menoleh kepada dunia.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/tauhid-sebagai-landasan-pendidikan-anak/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tauhid Sebagai Landasan Pendidikan Anak</a></strong></p>



<p>Yahya bin Muadz berkata, “Seandainya dunia adalah emas yang fana dan akhirat adalah tanah liat yang kekal, pastilah seharusnya bagi orang yang berakal, ia lebih memilih tanah liat yang kekal daripada emas yang fana. Namun sesungguhnya, dunialah yang merupakan tanah liat yang fana sedangkan akhirat adalah emas yang kekal.”</p>



<p>Kedua, memuliakan ilmu dengan tidak menjadikannya sebagai anak tangga untuk meraih kepentingan dunia. Misalnya menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai dunia; kedudukan; harta; nama baik; dan popularitas agar orang berkhidmat kepadanya; atau hendak bersaing kepada rekan-rekannya. Imam Syafi’I rahimahullah berkata, <em>“Aku menginginkan orang-orang yang belajar ilmu agar tidak ada satu huruf pun yang disandarkan kepada diriku.”</em> Imam Syafi’I adalah salah satu ulama yang zuhud dan tawadhu’. Karya-karyanya mendunia hingga saat ini, seakan Allah menjaga ilmunya dan meridhoi apa yang beliau tulis hingga sampailah ilmu itu pada umat setelah wafatnya. Perkataan beliau tersebut menunjukkan keikhlasan beliau terhadap ilmu dan kezuhudan beliau terhadap dunia. Beliau tidak berniat menghasilkan karya untuk dikenang dan populer, melainkan murni untuk mencari ridho Allah.</p>



<p>Ketiga, menghindari pekerjaan rendah dan menjauhi sumber munculnya tuduhan. Hendaknya seorang ‘alim menghindari pekerjaan yang rendah secara adat dan makruh secara syar’I, seperti pembekam; menyama’ kulit, jual beli mata uang; mengolah barang tambang. Juga menjauhi tempat-tempat yang memunculkan tuduhan yang macam-macam kepada dirinya.</p>



<p>Orang yang berilmu harus meninggalkan sesuatu yang bisa mencederai harga dirinya atau sesuatu yang secara lahir diingkari meskipun secara bathin boleh. Karena ia memosisikan dirinya bisa dicela orang-orang dan menjerumuskan orang-orang dengan dosa mencela. Contoh, apabila seorang ‘alim masuk ke tempat hiburan malam dengan niat ingin berdakwah; atau orang ‘alim (laki-laki) keluar rumah hanya memakai baju tanpa lengan dan celana pendek. Sebaiknya ini dihindari.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</a></strong></p>



<p>Jika sesuatu tersebut terjadi karena ada hajat atau lainnya, maka dia sebaiknya menjelaskannya kepada siapa yang melihatnya, menjelaskan hukum, alasan, dan tujuannya, agar orang yang melihat itu tidak terjatuh ke dalam dosa karenanya atau menjauh darinya dan tidak berkenan belajar kepadanya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em> pernah mengalami hal demikian yakni saat beliau sedang bersama seorang wanita tengah berbincang. Kemudian lewat dua orang laki-laki yang melihat mereka, lalu keduanya menghindar. Sebagaimana kita ketahui bahwa istri-istri Nabi <em>Shallallahu’alaihi wasallam </em>mereka keluar rumah dengan menutup aurat secara sempurna dan memakai cadar. Rasulullah memanggil mereka, “Tunggu, tetaplah kalian di tempat, sesungguhnya wanita ini adalah Shaffiyah.” Kemudian Nabi bersabda, “Sesungguhnya setan mengalir pada manusia pada aliran darahnya, aku takut dia menyusupkan sesuatu ke dalam hati kalian, lalu kalian berdua celaka.” &nbsp;Rasulullah menjelaskan kepada dua orang laki-laki tersebut, agar mereka tahu bahwa yang sedang bersama Rasulullah adalah istri beliau, bukan wanita asing, sehingga tidak timbul fitnah diantara mereka.</p>



<p>Inilah pentingnya orang yang berilmu untuk memperhatikan aktivitasnya agar tidak memunculkan prasangka buruk orang lain terhadapnya. Bersikap zuhud, tidak mejadikan ilmunya sebagai alat mencapai hal duniawi yang bathil, serta menghindarkan diri dari perkara yang akan menimbulkan tuduhan adalah dintara adab seorang berilmu terhadap dirinya sendiri. Adab-adab selanjutnya in Sya Allah akan dibahas di tulisan berikutnya. <em>Wallahua’alam.</em></p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/diantara-sifat-orang-berilmu/">Diantara Sifat Orang Berilmu</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Feb 2025 10:17:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[generasi faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajar]]></category>
		<category><![CDATA[penuntut ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3250</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Keberuntungan adalah suatu hal yang menggembirakan. Di dalam Islam, keberuntungan sering dikaitkan dengan keimanan. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Al-Mu&#8217;minun ayat pertama, &#1602;&#1614;&#1583;&#1761; &#1575;&#1614;&#1601;&#1761;&#1604;&#1614;&#1581;&#1614; &#1575;&#1604;&#1761;&#1605;&#1615;&#1572;&#1761;&#1605;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1761;&#1606;&#1614;&#1753;&#8207; &#8220;Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.&#8221; Di ayat-ayat selanjutnya disebutkan bahwa keberuntungan itu akan diraih oleh orang beriman dengan syarat, yaitu yang khusyuk dalam sholatnya; ... <a title="Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/" aria-label="Read more about Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/">Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Keberuntungan adalah suatu hal yang menggembirakan. Di dalam Islam, keberuntungan sering dikaitkan dengan keimanan. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Al-Mu’minun ayat pertama, قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَۙ‏ “<em>Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”</em> Di ayat-ayat selanjutnya disebutkan bahwa keberuntungan itu akan diraih oleh orang beriman dengan syarat, yaitu yang khusyuk dalam sholatnya; yang menjauhkan diri dari perkara tak bermanfaat; yang menunaikan zakat; yang menjaga kemaluannya kecuali pada yang halal; yang memelihara janji dan sholat.</p>



<p>Keimanan yang kuat akan melahirkan ketaatan yang kuat pula. Kuatnya keimanan diawali dari pengetahuannya terhadap agama. Semakin baik pemahamannya terhadap agama akan berimplikasi pada baiknya amal, sementara baiknya amal adalah ciri-ciri dari ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya. Inilah korelasi antara keberuntungan dengan seseorang yang memahami agamanya, yaitu orang yang berilmu.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/membangkitkan-kembali-tradisi-intelektual-muslimin/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Muslimin</a></strong></p>



<p>Namun, ternyata tidak semua orang berilmu akan beruntung. Diriwayatkan dari Nabi <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em>,</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ</strong></p>



<p><em>“Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang bodoh, untuk menyaingi para ulama, atau agar memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka”</em> <strong>(HR. At-Tirmidzi).</strong></p>



<p>Di hadits lain juga disebutkan tentang orang berilmu namun justru tidak beruntung,</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>



<p><em>“Barangsiapa menuntut ilmu yang sepatutnya dituntut karena wajah Allah, tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surga pada Hari Kiamat.”</em> <strong>(HR. Abu Dawud).</strong></p>



<p>Dua hadits di atas mengandung ancaman dan celaan terhadap orang berilmu yang salah dalam niatnya menuntut ilmu. Jika mencari ilmu agama diniatkan untuk hal-hal yang datangnya selain dari Allah maka ini justru akan menjauhkan dirinya dari Allah. Contohnya, orang yang mencari ilmu demi ambisi dunia seperti beroleh kedudukan, harta, ataupun pengikut (followers) dan murid. Padahal sejatinya, ilmu dicari untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang dipuji olehNya, bukan sebaliknya melakukan hal-hal yang dicela oleh Allah dan rasulNya.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/komunikasi-orang-tua-kepada-anak-dalam-perspektif-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Komunikasi Orang Tua Kepada Anak dalam Perspektif Al-Qur’an</a></strong></p>



<p>Bahkan di riwayat yang lain diceritakan malapetaka yang lebih dahsyat bagi orang-orang berilmu yang salah meletakkan niatnya.</p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ<br></strong></p>



<p>Sesungguhnya manusia pertama yang urusannya diputuskan pada Hari Kiamat-Nabi menyebutkan tiga orang dan di dalamnya disebutkan-: <em>“…Dan seorang laki-laki yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an, di didatangkan, Allah mengingatkannya terhadap nikmat-nikmatNya, maka dia mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan padanya?’ Dia menjawab,’Aku belajar ilmu dan mengajarkannya karenaMu, aku membaca al-Qur’an karenaMu.” Allah berfirman, ‘Kamu berbohong, akan tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan, ‘Orang yang berilmu.’ Kamu membaca al-Qur’an agar dikatakan, ‘Qari’.’ Dan itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkanlah untuk menyeretnya (tersungkur) di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka”</em> <strong>(HR. Muslim dan an-Nasa’i).</strong></p>



<p>Adapun orang-orang berilmu (‘ulama) yang memiliki fadhilah-fadhilah karena ilmunya adalah mereka yang ‘amil, yaitu ulama yang mengamalkan ilmunya. Merekalah orang-orang mulia lagi bertakwa. Mereka hanya mengarapkan wajah Allah yang mulia dan mencari kedekatan kepada Allah di syurga. Tidak ada niat di dalam hati mereka kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata. Inilah orang berilmu yang beruntung. Wallahua’lam. (RK)</p>



<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiratussami’ wal Mutakallim</strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/ternyata-tidak-semua-orang-berilmu-akan-beruntung/">Ternyata Tidak Semua orang Berilmu Akan Beruntung!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mendidik Itu Untuk Bertaqarrub!!</title>
		<link>https://generasifaqih.com/mendidik-itu-untuk-bertaqarrub/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2023 07:19:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Motivasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[guru hebat]]></category>
		<category><![CDATA[guru mulia]]></category>
		<category><![CDATA[guru panutan\]]></category>
		<category><![CDATA[keikhlasan guru]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran guru]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta'lim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=515</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Ustadz Abdullah Efendy, S.Pd.,CLMQ Seringkali mengasuh dan mendidik anak, seakan perkara yang tidak menyenangkan, terasa beban, mumet, kehilangan ide dan membuat galau. Akhirnya anak tumbuh dan berkembang begitu saja tanpa sentuhan yang dapat menjadikannya sesuai dengan doa-doa yang dipanjatkan ayah bundanya kepada Rabbnya, &#1608;&#1614;&#1649;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1610;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1604;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1607;&#1614;&#1576;&#1618; &#1604;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1586;&#1618;&#1608;&#1614;&#1648;&#1580;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1584;&#1615;&#1585;&#1617;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1648;&#1578;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1602;&#1615;&#1585;&#1617;&#1614;&#1577;&#1614; &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1610;&#1615;&#1606;&#1613; ... <a title="Mendidik Itu Untuk Bertaqarrub!!" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/mendidik-itu-untuk-bertaqarrub/" aria-label="Read more about Mendidik Itu Untuk Bertaqarrub!!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/mendidik-itu-untuk-bertaqarrub/">Mendidik Itu Untuk Bertaqarrub!!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :<strong> Ustadz Abdullah Efendy, S.Pd.,CLMQ</strong></p>
<p>Seringkali mengasuh dan mendidik anak, seakan perkara yang tidak menyenangkan, terasa beban, mumet, kehilangan ide dan membuat galau. Akhirnya anak tumbuh dan berkembang begitu saja tanpa sentuhan yang dapat menjadikannya sesuai dengan doa-doa yang dipanjatkan ayah bundanya kepada Rabbnya,</p>
<p>وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا</p>
<p>Artinya: Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. <strong>(TQS. al-Furqan : 74)</strong></p>
<p>Seringkali pula tingkah polah anak yang sama sekali belum mengerti arti dari sebuah tanggung jawab hanya tahunya bersenang-senang, berbahagia dan suka-suka membuat ayah bunda tak kuat meredam emosi, akhirnya keluarlah bentakan, kata-kata yang kasar dan ancaman. Anak memang unik dan hanya memahami satu hal selalu ingin bahagia, tidak mau tersakiti, kecewa, tidak rela ditolak keinginannya dan tidak dipedulikan. Untuk itulah ayah bunda harus memahami satu hal bahwa tanggung jawab yang agung dalam mendidik anak adalah bagian dari <em>taqarrub ilallah</em>…</p>
<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/2023/02/24/penyebab-gagalnya-kurikulum-pendidikan/" rel="bookmark">Penyebab Gagalnya Kurikulum Pendidikan!</a></strong></p>
<p>Adakah kedekatan kita pada Allah semakin bertambahd ketika anak-anak berada dalam pengasuhan dan pendidikan kita ataukah justru semakin menjauhkan kita dari mengingat Allah swt. Mendidik anak tidak lagi dianggap ibadah berlimpah pahala dan pintu surga yang harus diketuk, namun justru membuka ruang-ruang kemaksiatan yang dipenuhi dosa-dosa bersama ananda.</p>
<p>Sungguh rugilah kita jika menjadi ayah bunda yang tidak dapat mendekatkan diri pada Allah, seharusnya kita dapat senantiasa sadar dimana akal dan hatinya selalu terpaut dengan Allah, saat mendidik anak-anaknya saat itu pula semakin bertambah rasa cinta dan ketaatannya pada Sang Penganugerah buah cinta.</p>
<p>Jangan pernah biarkan setiap apa yang kita pegang dalam mendidik anak adalah sentuhan-sentuhan yang tak bernilai surga, jangan pernak kita lewati itu dengan percuma. Setiap kebersamaan kita dengan anak adalah kebersamaan dengan Allah, setiap kedekatan kita bersama anak adalah kedekatan bersama Allah. Tak akan ada lisan-lisan tanpa sentuhan aqidah, tak akan ada amal-amal tanpa berpegang teguh pada tali agama Allah, tak akan ada kesalahan tanpa nasehat dalam kebenaran dan sabar, tak akan ada sepanjang hari-hari kita tanpa hadir Allah dalam hati dan amal kita. Karena kita mendidik untuk taqarrub ilallah.</p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/mendidik-itu-untuk-bertaqarrub/">Mendidik Itu Untuk Bertaqarrub!!</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
