<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ustadz Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<atom:link href="https://generasifaqih.com/tag/ustadz/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://generasifaqih.com/tag/ustadz/</link>
	<description>Wujudkan Pendidikan Islam Terbaik, Lahirkan Generasi Faqih Fiddin</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jul 2025 03:08:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://generasifaqih.com/wp-content/uploads/2024/03/cropped-Daily-removebg-preview-32x32.png</url>
	<title>ustadz Archives - Generasi Faqih Fiddin Foundation</title>
	<link>https://generasifaqih.com/tag/ustadz/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</title>
		<link>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/</link>
					<comments>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2025 02:59:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tadzkiratussami' wal mutakallimin]]></category>
		<category><![CDATA[generasi faqih]]></category>
		<category><![CDATA[generasifaqih]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[guru menutup pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[kafaratul majlis]]></category>
		<category><![CDATA[muallim]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=3353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd. Tulisan kali ini menyempurnakan pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Adab-adab ini penting dihadirkan seorang guru di hadapan &#160;murid-muridnya, bahkan mampu menampakkan kewibawaan dirinya. Pertama, memperlakukan para murid dengan baik dan memerhatikan kebaikan mereka saat pelajaran. Seorang pelajar adalah seseorang yang sedang berproses untuk membentuk akhlak mulia pada dirinya. Dalam ... <a title="Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/" aria-label="Read more about Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.</strong></p>



<p>Tulisan kali ini menyempurnakan pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Adab-adab ini penting dihadirkan seorang guru di hadapan &nbsp;murid-muridnya, bahkan mampu menampakkan kewibawaan dirinya. Pertama, memperlakukan para murid dengan baik dan memerhatikan kebaikan mereka saat pelajaran. Seorang pelajar adalah seseorang yang sedang berproses untuk membentuk akhlak mulia pada dirinya. Dalam perjalanan belajarnya, tentulah seorang guru menghadapi keburukan-keburukan akhlak mereka agar dapat diperbaiki. Guru harus memahami bahwa yang sedang ia hadapi adalah manusia dan bukan robot. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kesabaran yang luas. Maka hendaknya, guru senantiasa bersikap ramah dan berwajah menyenangkan di depan murid-muridnya. Apakah ia murid baru ataukah murid lama. Khusus untuk murid yang baru, maka seorang guru harus memahami bahwa jika ia tidak bersikap ramah, maka hal itu akan membuat sang murid merasa canggung. Namun, guru juga tidak perlu banyak memandangnya dan menoleh heran kepadanya, karena hal itu akan membuat sang murid malu dan semakin canggung.</p>



<p>Di dalam majelis para ulama, kadangkala saat mereka mengajar ada orang-orang mulia yang datang di tengah-tengah saat majelis berlangsung. Jika kondisinya seperti ini, maka guru hendaknya diam sejenak sampai orang mulia itu duduk atau mengulang pembahasan masalah untuknya. Ada pula kondisi ada seorang ahli fikih yang datang di ujung waktu majelis. Bagaimana guru menyikapinya? Maka hendaknya guru menunda menutup majelisnya hingga ahli fikih itu duduk, kemudian ia menyempurnakan pembahasan agar yang datang tidak malu karena hadirin berdiri saat dia duduk. Demikianlah cara guru menjaga adab di depan orang yang berilmu. Artinya, seorang guru sedang memerhatikan kebaikan orang-orang yang hadir di majelisnya dengan tidak memajukan atau memundurkan waktu jika tidak ada alasan mendesak dan tidak menambah beban.</p>



<p>Kedua, adab menutup pelajaran. Biasanya sebelum menutup pelajaran, guru merangkum inti materi yang telah ia sampaikan. Guru harus bersikap tawadhu’ terhadap ilmunya, karena tidaklah ia mungkin bisa menyampaikan satu ilmu kecuali atas izin dari pemilik ilmu, Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>. Oleh karena itu, hendaklah setiap kali ia menutup pelajaran ia mengatakan “Ini adalah akhirnya” atau “dan yang sesudahnya akan hadir insya Allah”. Lalu ia menyertakannya dengan ucapan <em>wallahua’alam</em> yang bermakna Allahlah yang Maha Mengetahui. Setelah kelas atau majelis ditutup maka hendaknya guru menunggu sejenak hingga semuanya beranjak. Hal ini memberikan beberapa faidah kepada guru, diantaranya adalah guru tidak berdesak-desakan dengan murid; jika pada sebagian murid masih ada pertanyaan, dia bisa bertanya; tidak berkendara di tengah-tengah muridnya jika ia berkendara; dll. Kemudian manakala ia bangkit dari majelisnya ia mengucapkan do’a penutup majelis, <em>subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu anlaa ilaa ha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik..</em></p>



<p>Ketiga, tidak mengajar sebelum dirinya mampu atau kapabel. Hendaknya guru tidak duduk di tempat mengajar bila belum kapabel untuk mengajar. Ia tidak menyampaikan kepada manusia ilmu yang tidak diketahuinya, karena hal itu berarti mempermainkan agama dan melecehkan masyarakat. </p>



<p class="has-text-align-left">Dari Asy-Syibli, </p>



<p class="has-text-align-right"><strong>مَنْ أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَ وَهُوَ لَمْ يَكُنْ أَهْلًا لَهُ فَقَدْ حَفَرَ لِنَفْسِهِ حُفْرَةَ الذُّلِّ</strong></p>



<p>“Barangsiapa mengajar sebelum masanya (belum kapabel) maka dia menggali lubang kehinaan bagi dirinya sendiri.”<sup data-fn="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd" class="fn"><a id="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd-link" href="#1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd">1</a></sup></p>



<p>Orang yang berakal adalah orang yang menjaga dirinya dari sesuatu yang menyebabkan siapa yang terjerumus ke dalamnya dinilai kurang, siapa yang melakukannya dianggap zalim, dan siapa yang bersikukuh mempertahankannya dipandang fasik.</p>



<p>Alhamdulillah, telah selesai pembahasan adab-adab seorang guru terhadap majelisnya. Pembahasan selanjutnya adab-adab seorang guru terhadap muridnya in sya Allah akan hadir. Wallahua’lam bish showab.</p>



<p>Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussami’ wal mutakallim.</p>


<ol class="wp-block-footnotes"><li id="1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd"><strong>Imam Abu Hanifah rahimahullah</strong>, menyampaikan bahwa siapa yang mengejar kepemimpinan sebelum waktunya, maka ia akan menanggung kehinaan seumur hidupnya. Ungkapan serupa ini muncul dalam konteks nasihat tentang kewajiban kompetensi sebelum mengajar (disarikan dari <em>Adabul Alim wal Muta’allim</em> karya H. M. Hasyim Asy’ari) <a href="#1b8a618b-b333-4b74-9090-e7b82d5376dd-link" aria-label="Jump to footnote reference 1"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li></ol>


<p></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/">Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://generasifaqih.com/bagaimana-seharusnya-guru-menutup-pelajaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Memilih Guru Yang Baik</title>
		<link>https://generasifaqih.com/pentingnya-memilih-guru-yang-baik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[GENFA Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2023 07:02:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[guru terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[islamic teacher]]></category>
		<category><![CDATA[mualim]]></category>
		<category><![CDATA[pendidik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidik terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[pns]]></category>
		<category><![CDATA[teacher]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>
		<category><![CDATA[ustadzah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://generasifaqih.com/?p=512</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Ustadz Abdullah Efendy, M.Pd.,CLMQ Pentingkah Guru yang baik? Salah satu petuah ulama dahulu adalah, &#8220;lihatlah dari siapa engkau mengambil ilmu!&#8221; Kalimat ini sesungguhnya begitu membekas jika kita benar-benar memahami pentingnya esensi guru dalam pendidikan. Guru itu bukan sekedar transfer ilmu, tapi juga transfer kepribadian. Apa yg membentuk sosok siswa, tak terlepas dari unsur ... <a title="Pentingnya Memilih Guru Yang Baik" class="read-more" href="https://generasifaqih.com/pentingnya-memilih-guru-yang-baik/" aria-label="Read more about Pentingnya Memilih Guru Yang Baik">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/pentingnya-memilih-guru-yang-baik/">Pentingnya Memilih Guru Yang Baik</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="kingster-single-social-share kingster-item-rvpdlr">
<p class="gdlr-core-social-share-item gdlr-core-item-pdb  gdlr-core-left-align gdlr-core-social-share-right-text gdlr-core-item-mglr gdlr-core-style-color gdlr-core-no-counter "><span style="font-size: inherit;">Oleh : <strong>Ustadz Abdullah Efendy, M.Pd.,CLMQ</strong></p>
<p>Pentingkah Guru yang baik? Salah satu petuah ulama dahulu adalah, “lihatlah dari siapa engkau mengambil ilmu!” Kalimat ini sesungguhnya begitu membekas jika kita benar-benar memahami pentingnya esensi guru dalam pendidikan. </span><span style="font-size: inherit;">Guru itu bukan sekedar transfer ilmu, tapi juga transfer kepribadian. Apa yg membentuk sosok siswa, tak terlepas dari unsur pembentuknya. Pohon yg subur dan berbuah lebat, pasti bersumber dari bibit unggul dan pupuk yg tepat.</span></p>
<p class="gdlr-core-social-share-item gdlr-core-item-pdb  gdlr-core-left-align gdlr-core-social-share-right-text gdlr-core-item-mglr gdlr-core-style-color gdlr-core-no-counter "><span style="font-size: inherit;">Mendidik pun demikian. Lihatlah siapa yg mengajarkan anak anda ilmu. Di Rumah Qur’an Anak Tangguh, ketika menyeleksi guru kami benar-benar memfilter mulai dari niat, kualifikasi, sikap dan sopan santun para calon guru</span></p>
</div>
<p>Ada pelamar yg kita skip, hanya lantaran belum test apapun udah nanya gaji. Adapula pelamar yg kurang loyalitas, karena mementingkan urusan pribadi ketimbang akad yg sudah dibuat dengan kami. Adapula yg beberapa hari kerja, bolak balik minta izin dengan berbagai alasan.</p>
<p>Saya selaku pendiri Rumah Qur’an ini, merasa bersyukur dengan fakta tadi. Allah ingin menunjukkan kepada kami mana yg layak dan tidak. Dari situ, kita pun menganalisis yg <a href="https://www.islampos.com/guru-terbaik-di-dunia-242643/"><strong>terbaik</strong></a> dan Alhamdulillah saat ini menjadi guru di Rumah Qur’an kami</p>
<p>Proses memilih guru untuk mengajarkan ananda, bagi kami termasuk hal primer. Sebab, hanya guru yg soleh yg akan membentuk anak sholeh. Hanya guru yg berdedikasi yg bisa mengajarkan dedikasi. Hanya guru yg sopan dan santun, yg bisa mengajarkan ananda memiliki sopan dan santun</p>
<p><strong>Baca Juga : <a href="https://generasifaqih.com/2023/02/24/penyebab-gagalnya-kurikulum-pendidikan/">Penyebab Gagalnya Kurikulum Pendidikan!</a></strong></p>
<p>Jika untuk mendiamkan siswa dengan bentakan, memarahi siswa dengan memukul, apatah lagi tidak berlapang dada dan bersabar saat menghadapi situasi kenakalan siswa, maka tentu guru yg seperti ini belum layak mendidik</p>
<p>Adapun sekolah sebagai stake holder, melalui kepala sekolah atau mungkin direktur pendidikan, memiliki andil besar pula dalam membina para guru. Apalagi jika berkaca dengan kondisi saat ini, dimana degradasi moral hampir mencemari seluruh pekerjaan, tidak terlepas pada guru</p>
<p>Maka, ada proses preventif saat memilih guru yg tepat, dan proses solutif untuk mengatasi kemungkinan terjadinya penyimpangan guru. Bisa dengan pembinaan, training, kajian, atau keteladanan dari atasan untuk mengajarkan tata cara menjadi guru yg baik. Semua itu adalah tugas bersama, untuk mengantarkan output siswa yg bukan hanya cerdas pemikiran, namun terlebih soleh kepribadiannya</p>
<p>The post <a href="https://generasifaqih.com/pentingnya-memilih-guru-yang-baik/">Pentingnya Memilih Guru Yang Baik</a> appeared first on <a href="https://generasifaqih.com">Generasi Faqih Fiddin Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
