Wahai Guru, Pahamilah Muridmu!

Ebook

Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.

Tulisan ini melanjutkan pembahasan tentang adab-adab seorang guru terhadap murid dan majelisnya. Karena sejatinya, seorang guru adalah wujud langsung yang ditiru oleh murid. Maka, adab dalam mengajar adalah ilmu yang harus dikuasai dan dipraktikkan oleh guru.

Sewaktu SMA dulu, saya pernah mendapat cerita dari adik kelas. Sewaktu pelajaran Kimia, ada salah satu temannya yang bertanya tentang sebuah istilah asing pada gurunya. Mengejutkan, gurunya justru mengejeknya dengan kalimat tidak pantas dengan menjudge bahwa murid yang bertanya tadi bodoh karena sudah dijelaskan tapi tidak juga mengerti. Seketika murid tersebut merasa sangat malu. Kejadian itu bisa jadi membuat si murid trauma dan tidak mau bertanya lagi di lain waktu. Inilah pentingnya seorang guru memiliki adab di depan murid-muridnya. Pada tulisan ini akan dibahas tiga adab lainnya.

Baca Juga : Bagaimana Seharusnya Guru Menutup Pelajaran?

Pertama, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membuat murid paham. Tipsnya adalah dengan tidak memperbanyak penjelasan sehingga melampaui daya tampung otaknya. Guru dapat memulai pengajaran dengan menggambarkan masalah-masalah tertentu kemudian menjelaskannya dengan contoh. Adapun untuk murid yang level berpikirnya lebih tinggi, guru dapat menyertakan dalil-dalil yang mendukung, menjelaskan makna-makna dari hikmah-hikmah yang ada pada masalah tersebut.

Dalam menjelaskan pelajaran, guru boleh menyebutkan kata-kata tabu jika memang dibutuhkan. Tetapi apabila kata-kata tabu tersebut dapat diwakilkan dengan kata kiasan yang diketahui oleh semua orang, maka lebih baik menggunakan kata kiasan. Demikian pula, jika ada diantara murid yang murid itu akan malu apabila guru mengucapkan kata-kata tertentu, maka guru harus menggunakan kata lain untuk menjelaskan maksud yang sama.

Adab ini selaras dengan firman Allah Ta’ala :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Ebook-1

Kedua, jika guru telah selesai menjelaskan pelajaran, dia boleh melontarkan beberapa masalah yang berkaitan dengan pelajaran kepada para murid dengan tujuan untuk menguji pemahaman dan daya serap mereka terhadap apa yang guru jelaskan kepada mereka. Murid yang jawabannya benar, maka guru memujinya. Murid yang belum paham, maka guru mengulang pelajaran tersebut dengan lemah lembut.

Tujuan guru melontarkan beberapa masalah adalah untuk mengetahui sejauh mana murid memahami pelajaran. Karena kemungkinan ada murid yang malu untuk mengakui bahwa dirinya belum paham, atau ada pula murid yang tidak ingin membebani gurunya dengan mengulang penjelasan. Ada pula murid yang mengurungkan niat bertanya karena sempitnya waktu. Bisa jadi pula ada murid yang malu dengan teman-temannya karena minta dijelaskan ulang sehingga menghambat bacaan teman-temannya yang lain.

Baca Juga : Sudahkah Guru Menjadi Teladan bagi Muridnya?

Oleh karenanya, tidak patut bagi guru sering-sering bertanya kepada murid, “apakah kamu sudah mengerti?” kecuali jika dijamin bahwa murid akan jujur dengan menjawab, “saya belum paham.” Karena bisa jadi murid berdusta dengan menjawab dia sudah paham padahal sebenarnya dia belum paham. Jika guru bertanya “apakah kamu sudah paham?” dan murid mengatakan “ya sudah paham” maka guru tidak pelu melontarkan masalah lagi kecuali murid yang memintanya. Karena bisa jadi jika diminta menjawab dan jawabannya kurang tepat, maka murid tersebut akan malu.

Guru harus mampu menjaga situasi majelisnya agar tidak ada seorang murid yang merasa malu atau minder. Karena hal ini justru akan membuat motivasi belajar murid berkurang. Di dalam sirah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyelematkan seorang sahabat dari dari malu akibat dia kentut saat sedang ramai-ramai dengan sahabat lainnya menyantap hidangan daging onta di masjid.

Ketiga, hendaknya meminta sebagian murid agar memuraja’ah hafalan-hafalan di sebagian kesempatan, menjajaki daya serap mereka terhadap apa yang guru ajarkan kepada mereka berupa kaidah-kaidah penting dan masalah-masalah atau dalil yang guru sebutkan.

Guru boleh memuji dan berterimakasih kepada murid yang menjawab benar di depan teman-temannya jika tidak dikhawatirkan timbul rasa ujub pada diri si murid itu, agar menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain untuk bersungguh-sungguh dalam meningkatkan ilmu.

Murid yang terlihat lalai, maka guru boleh menasihatinya dengan tegas apabila ketegasan itu tidak membuat si murid lari. Jika muridnya justru bisa termotivasi belajarnya dengan nasihat tegas maka guru boleh melakukannya.

Betapa menjadi seorang guru adalah tugas yang sangat mulia. Guru yang memahami adab-adabnya kepada murid tidak hanya mengajarkan pemahaman yang benar, bahkan sampai adab bertanya kepada murid dan menasihati mereka juga diperhatikan dengan hati-hati.

Wallahu a’lam bis showab.

Sumber: Kajian Kitab Tadzakiratussami’ wal mutakallim.

Ebook-2

Leave a Comment