Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd.
Seorang guru tatkala mengajar di depan kelas atau di tempat mengajar lainnya pastilah tidak luput dari perhatian semua orang. Penampilannya, cara duduknya, cara bicaranya, cara berjalannya, akhlaknya, cara berdirinya, cara ia memanggil, cara ia menjawab, caranya merespon, dan sebagainya pasti diperhatikan oleh murid-muridnya. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya memberi perhatian kepada dirinya sendiri saat berada di depan murid-muridnya. Karena manusia lebih ingat dengan apa yang dilihat daripada apa yang didengar.
Di tulisan kali ini kita melanjutkan membahas adab seorang guru di dalam majelis mengajarnya. Pertama, berkenaan dengan posisi duduk. Hendaknya seorang guru duduk di tempat yang terlihat oleh semua murid-muridnya, mengucapkan salam, menampakkan wajah berseri, menoleh kepada siapa yang berbicara kepadanya dengan penuh perhatian dan fokus menghadapnya. Guru harus perhatian terhadap semua murid-muridnya dengan memastikan apakah semua murid dapat melihatnya dengan jelas atau tidak. Setelah itu, ia mengucapkan salam dengan tulus mendoakan keselamatan untuk semua yang hadir dalam majelisnya. Menampakkan wajah berseri juga adalah adab yang sangat penting, meskipun terkadang bisa jadi guru dalam keadaan suasana hati yang tidak baik. Tatkala ada yang berbicara kepadanya, maka guru menoleh kepadanya dengan penuh perhatian. Karena tidak menoleh kepada orang yang berbicara dengan kita secara khusus adalah bentuk meremehkan orang lain, dan sombong.
Baca Juga : Jangan Tinggalkan Dua Hal Ini!
Kedua, membuka majelis mengajar dengan tilawah sebagian dari Al-Qurâan dan berdoâa sebelum masuk ke dalam pelajaran. Jika seorang guru ingin membuka pelajaran, adalah sangat baik jika ia terlebih dahulu membaca beberapa ayat dari kitab Allah untuk merengkuh keberkahan dan kebaikan, kemudian dilanjutkan dengan membaca doâa untuk diri sendiri, murid-muridnya yang hadir, dan kaum muslimin. Juga berdoâa memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk, mengucapkan basmallah dan memuji Allah. Tidak lupa membaca sholawat kepada Nabi, keluarga beliau, dan para sahabatnya.
Sebagian ulama mengamalkan mendoâakan diri sendiri terlebih dahulu baru mendoâakan orang lain. Sebagian lagi mengamalkan mendoâakan orang lain terlebih dahulu dan mengakhirkan doâa untuk diri sendiri untuk menjaga adab dan tawadhuâ. Secara umum keduanya baik.
Ketiga, hal-hal yang patut diperhatikan seorang guru di majelisnya.
- Jika ada beberapa perlajaran maka patut ia mendahulukan yang lebih mulai dan lebih penting. Misalnya, ia mendahulukan pelajaran tafsir Al-Qurâan, kemudian hadits, lalu ushuluddin, ushul fiqih, madzhab, perbedaan pendapat atau nahwu atau perdebatan. Tetapi ini tidak mutlak. Karena, guru juga mempertimbangkan ilmu yang paling dibutuhkan umat terlebih dahulu, seperti ilmu-ilmu fardhu âain misalnya ilmu fiqih muamalah, fiqih nikah, dan lain-lain.
- Menutup majelisnya dengan nasihat-nasihat yang melunakkan hati, dan yang membersihkan batin mereka.
- Tidak menyebutkan satu syubhat (perkataan yang masih samar bagi murid) dalam agama di satu pelajaran dan menunda jawaban atasnya ke pelajaran lainnya.
- Tidak memanjangkan pelajaran hingga membosankan, namun tidak pula memendekkannya sehingga maksud tidak tercapai.
Baca Juga : Tingkatan Pergaulan Orang yang Berilmu
Keempat, hendaknya guru tidak mengangkat suara lebih dari kebutuhan dan tidak merendahkan sehingga murid tidak dapat mengambil pelajaran dengan sempurna. Rasulullah shallallahuâalaihi wasallam itu jika berkata, perkatannya jelas, siapa yang mendengarnya akan memahaminya. Jika beliau berbicara, beliau mengulanginya tiga kali agar dipahami.
Adab-adab berikutnya insya Allah akan dilanjutkan di tulisan berikutnya. Wallahuaâlam bish showab.
Sumber: Kajian Kitab Tadzkiratussamiâ wal mutakallim.