Investasi saham syariah semakin diminati oleh masyarakat Indonesia karena menawarkan peluang pertumbuhan aset tanpa mengabaikan prinsip-prinsip syariat Islam. Namun, banyak investor masih bingung memilih saham syariah yang benar-benar layak untuk investasi jangka panjang. Tidak sedikit pula yang membeli saham hanya karena mengikuti rekomendasi orang lain tanpa memahami kualitas fundamental perusahaan.
Salah satu pendekatan yang banyak digunakan oleh investor kelas dunia adalah value investing, yaitu membeli saham perusahaan yang berkualitas ketika harganya masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued). Strategi ini dipopulerkan oleh Benjamin Graham dan kemudian dikembangkan oleh Warren Buffett. Di Indonesia, pendekatan serupa juga dikenal luas melalui investor seperti Lo Kheng Hong, meskipun penerapannya perlu disesuaikan dengan preferensi investasi masing-masing, termasuk bagi investor yang hanya memilih saham yang masuk Daftar Efek Syariah (DES).
Artikel ini membahas 10 saham syariah untuk value investing berdasarkan beberapa indikator fundamental seperti Price to Book Value (PBV), Price Earnings Ratio (PER), Debt to Asset Ratio (DAR), konsistensi laba bersih, serta potensi pertumbuhan jangka panjang. Tujuannya bukan untuk memberikan rekomendasi beli atau jual, melainkan sebagai bahan edukasi agar investor mampu melakukan analisis secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Apa Itu Value Investing?
Value investing adalah strategi investasi yang berfokus pada pembelian saham perusahaan berkualitas dengan harga yang lebih rendah dibandingkan nilai intrinsiknya. Investor tidak mengejar saham yang sedang populer, melainkan mencari perusahaan yang memiliki fundamental kuat namun belum dihargai secara optimal oleh pasar.
Strategi ini menekankan pentingnya margin of safety, yaitu membeli saham pada harga yang cukup murah sehingga risiko kerugian menjadi lebih kecil apabila terjadi fluktuasi pasar.
Beberapa karakteristik saham yang biasanya disukai oleh value investor antara lain:
- Memiliki valuasi yang relatif murah.
- Menghasilkan laba secara konsisten.
- Memiliki tingkat utang yang sehat.
- Mempunyai prospek bisnis jangka panjang.
- Dikelola oleh manajemen yang baik.
- Memiliki arus kas yang stabil.
Pendekatan ini umumnya ditujukan bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang, bukan untuk aktivitas trading harian.
Mengapa Memilih Saham Syariah?
Bagi seorang Muslim, investasi bukan hanya tentang memperoleh keuntungan, tetapi juga memastikan bahwa harta berkembang melalui cara yang halal dan sesuai syariat. Oleh karena itu, memilih saham yang telah lolos penyaringan syariah menjadi langkah penting.
Di Indonesia, saham syariah ditetapkan melalui Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan secara berkala oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Daftar ini memuat perusahaan yang memenuhi ketentuan syariah, baik dari sisi kegiatan usaha maupun rasio keuangannya.
Beberapa keunggulan berinvestasi pada saham syariah antara lain:
- Terhindar dari perusahaan yang bergerak di bidang riba, perjudian, minuman keras, dan usaha yang bertentangan dengan syariat.
- Memiliki proses penyaringan (screening) berdasarkan prinsip syariah.
- Cocok bagi investor yang ingin menggabungkan tujuan finansial dengan nilai-nilai Islam.
- Tersedia dalam berbagai sektor industri sehingga tetap memberikan peluang diversifikasi portofolio.
Kriteria Memilih 10 Saham Syariah untuk Value Investing
Tidak semua saham syariah layak dijadikan investasi jangka panjang. Dalam artikel ini, pemilihan saham menggunakan beberapa indikator fundamental yang umum dipakai dalam analisis value investing.
1. Masuk Daftar Efek Syariah (DES)
Kriteria pertama dan paling mendasar adalah perusahaan harus terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES). Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah memenuhi ketentuan syariah yang ditetapkan regulator, baik dari sisi kegiatan usaha maupun struktur keuangannya.
Dengan memilih saham yang masuk DES, investor memperoleh keyakinan bahwa aktivitas utama perusahaan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Selain itu, daftar ini diperbarui secara berkala sehingga investor perlu memastikan status syariah emiten sebelum berinvestasi.
2. Price to Book Value (PBV) di Bawah 1 atau Mendekati 1
Price to Book Value (PBV) menggambarkan perbandingan antara harga saham dengan nilai buku perusahaan.
Secara umum:
- PBV di bawah 1 menunjukkan bahwa harga saham berada di bawah nilai buku perusahaan.
- PBV mendekati 1 masih tergolong menarik apabila perusahaan memiliki fundamental yang kuat.
- Semakin rendah PBV, semakin besar peluang saham tersebut diperdagangkan dalam kondisi undervalued.
Namun, PBV rendah tidak selalu berarti saham tersebut murah. Investor tetap harus memastikan bahwa perusahaan memiliki bisnis yang sehat dan mampu menghasilkan laba secara berkelanjutan.
3. Price Earnings Ratio (PER) Kurang dari 10
Indikator berikutnya adalah Price Earnings Ratio (PER).
PER menunjukkan berapa kali investor membayar harga saham dibandingkan laba yang dihasilkan perusahaan setiap tahun.
Dalam pendekatan value investing, PER di bawah 10 sering dianggap menarik karena:
- Harga saham relatif murah dibandingkan laba perusahaan.
- Risiko overvalued menjadi lebih kecil.
- Potensi kenaikan harga lebih besar apabila kinerja perusahaan terus membaik.
Meskipun demikian, PER perlu dianalisis bersama indikator lainnya agar hasil penilaian menjadi lebih komprehensif.
4. Laba Bersih Positif dan Konsisten
Perusahaan yang baik bukan hanya mampu mencetak laba sesekali, tetapi juga menghasilkan keuntungan secara konsisten dari tahun ke tahun.
Konsistensi laba menunjukkan bahwa model bisnis perusahaan berjalan dengan baik, memiliki daya saing, serta mampu bertahan menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
Sebaliknya, perusahaan yang sering mengalami kerugian memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi sehingga kurang sesuai bagi investor yang menerapkan strategi value investing.
5. Debt to Asset Ratio (DAR) Kurang dari 40%
Salah satu aspek penting dalam analisis fundamental adalah memperhatikan tingkat utang perusahaan.
Debt to Asset Ratio (DAR) menunjukkan persentase aset perusahaan yang dibiayai melalui utang.
Sebagai pedoman umum:
- DAR di bawah 30% menunjukkan kondisi keuangan yang sangat sehat.
- DAR antara 30–40% masih tergolong aman.
- DAR di atas 40% perlu dianalisis lebih mendalam karena menunjukkan ketergantungan yang lebih tinggi terhadap pembiayaan utang.
Perusahaan dengan utang yang terkendali umumnya lebih mampu bertahan ketika kondisi ekonomi sedang melambat.
6. Memiliki Potensi Kenaikan Harga yang Masih Besar
Selain murah secara valuasi, investor juga perlu mempertimbangkan ruang pertumbuhan harga saham di masa depan.
Salah satu cara sederhana adalah membandingkan harga saat ini dengan harga tertinggi yang pernah dicapai perusahaan. Apabila fundamental perusahaan masih baik tetapi harga saham berada jauh di bawah puncak historisnya, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya peluang apresiasi harga.
Tentu saja, analisis ini tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar keputusan karena harga tertinggi di masa lalu tidak menjamin harga tersebut akan kembali tercapai.
7. Cocok untuk Value Investing Jangka Panjang
Kriteria terakhir adalah perusahaan memiliki prospek bisnis yang tetap relevan dalam jangka panjang.
Beberapa ciri perusahaan yang layak dijadikan investasi jangka panjang antara lain:
- Memiliki pangsa pasar yang kuat.
- Produk atau jasanya tetap dibutuhkan masyarakat.
- Mampu menghasilkan arus kas positif.
- Memiliki manajemen yang kredibel.
- Terus meningkatkan kinerja keuangan dari waktu ke waktu.
Perusahaan dengan karakteristik tersebut memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan nilai perusahaan secara berkelanjutan sehingga sesuai dengan filosofi value investing.
| No | Emiten | Sektor | PBV | PER | DAR (Total Utang/Aset) | Kategori | Net Income | Harga Tertinggi | Tahun | Harga Saat Ini (±) | Potensi Growth |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | DMAS | Properti | 0,90 | 5,30 | 8,38% | Sangat Aman | Rp1,26 T | Rp356 | 2019 | Rp139 | 2,5x |
| 2 | SIMP | Consumer Non-Cyclicals | 0,40 | 4,04 | 35% | Aman | Rp2,05 T | Rp1.480 | 2012 | Rp535 | 3x |
| 3 | PGAS | Infrastruktur & Gas | 0,74 | 8,64 | 39% | Aman | Rp4,11 T | Rp6.450 | 2013 | Rp1.465 | 5x |
| 4 | ENRG | Energi | 0,80 | 5,50 | 30% | Aman | >Rp1 T | Rp760 | 2022 | Rp280 | 2,7x |
| 5 | LSIP | Perkebunan | 0,60 | 7,00 | 18% | Sangat Aman | >Rp1 T | Rp2.700 | 2011 | Rp950 | 2,8x |
| 6 | AUTO | Otomotif | 0,70 | 6,50 | 28% | Sangat Aman | >Rp2 T | Rp4.600 | 2013 | Rp2.000 | 2,3x |
| 7 | PTBA | Batubara | 1,00 | 6,50 | 20% | Sangat Aman | >Rp5 T | Rp5.000 | 2022 | Rp2.300 | 2,1x |
| 8 | SMBR | Semen | 0,70 | 8–9 | ±18% | Sangat Aman | Laba Positif | Rp4.800 | 2018 | ±Rp300 | 4–5x |
| 9 | TINS | Logam (Timah) | 0,80 | 7–8 | ±34% | Aman | Laba Positif | Rp1.825 | 2022 | ±Rp900 | 2x |
| 10 | BRIS | Perbankan Syariah | 0,95 | 8–9 | —* | Sangat Aman | >Rp7 T | Rp4.420 | 2024 | ±Rp2.500 | 1,8x |
10 Saham Syariah untuk Value Investing yang Layak Masuk Watchlist
Perlu dipahami bahwa daftar berikut bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham, melainkan contoh saham syariah yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut berdasarkan pendekatan value investing. Sebelum mengambil keputusan investasi, setiap investor tetap perlu melakukan analisis mandiri (do your own research/DYOR) dengan melihat laporan keuangan, prospek industri, dan kondisi pasar terkini.
1. DMAS – Emiten Properti dengan Neraca Sangat Sehat
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) merupakan salah satu emiten properti yang cukup sering menjadi perhatian investor value. Perusahaan ini mengembangkan kawasan industri Kota Deltamas yang menjadi lokasi berbagai perusahaan nasional maupun multinasional.
Beberapa alasan DMAS menarik untuk value investing antara lain:
- PBV berada di bawah 1.
- PER relatif rendah.
- Debt to Asset Ratio (DAR) sekitar 8%, menunjukkan struktur permodalan yang sangat sehat.
- Laba bersih konsisten mencapai lebih dari Rp1 triliun.
- Rajin membagikan dividen.
Dengan tingkat utang yang rendah dan arus kas yang kuat, DMAS memiliki risiko finansial yang relatif kecil dibandingkan banyak perusahaan properti lainnya. Bagi investor jangka panjang, karakteristik ini menjadi nilai tambah karena perusahaan memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang tanpa terbebani utang yang besar.
2. SIMP – Valuasi Sangat Murah di Sektor Perkebunan
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit beserta produk turunannya. Sebagai bagian dari Grup Salim, SIMP memiliki skala usaha yang besar dan terintegrasi.
Beberapa faktor yang membuat SIMP menarik adalah:
- PBV sekitar 0,4.
- PER sekitar 4.
- Laba bersih konsisten positif.
- Produk yang dihasilkan merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
- Harga saham masih jauh dari level tertingginya.
Meskipun industri sawit dipengaruhi oleh harga komoditas global, permintaan terhadap minyak sawit tetap tinggi karena digunakan dalam industri makanan, kosmetik, hingga energi terbarukan.
3. PGAS – Emiten Gas Negara dengan Prospek Jangka Panjang
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) merupakan salah satu perusahaan energi terbesar di Indonesia yang bergerak pada distribusi dan transmisi gas bumi.
Keunggulan PGAS antara lain:
- PBV masih di bawah 1.
- PER relatif rendah.
- Laba bersih mencapai triliunan rupiah.
- Bisnis memiliki peran penting dalam pembangunan energi nasional.
- Memiliki aset infrastruktur yang sulit ditiru oleh pesaing.
Permintaan energi diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan industri dan ekonomi Indonesia. Hal tersebut menjadikan PGAS sebagai salah satu emiten yang layak dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang.
4. ENRG – Emiten Energi yang Mulai Menunjukkan Perbaikan Fundamental
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) merupakan perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi.
Beberapa tahun terakhir, ENRG menunjukkan peningkatan fundamental yang cukup signifikan melalui:
- Peningkatan laba bersih.
- Penurunan rasio utang.
- PBV yang masih relatif murah.
- PER rendah dibandingkan rata-rata industri.
Sektor energi memang memiliki karakteristik siklus (cyclical), sehingga investor perlu memahami bahwa kinerja perusahaan sangat dipengaruhi oleh harga minyak dan gas dunia.
5. LSIP – Emiten Perkebunan dengan Fundamental Sangat Baik
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) merupakan salah satu perusahaan perkebunan tertua di Indonesia.
Mengapa LSIP menarik?
- PBV masih tergolong rendah.
- DAR berada pada tingkat yang sangat sehat.
- Memiliki kas yang kuat.
- Konsisten mencetak laba.
- Dividen relatif stabil.
Perusahaan ini dikenal memiliki tata kelola yang baik serta fokus pada efisiensi operasional. Hal tersebut menjadikan LSIP sebagai salah satu saham defensif di sektor perkebunan.
6. AUTO – Emiten Otomotif dari Grup Astra
PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) merupakan produsen komponen otomotif terbesar di Indonesia dan bagian dari Grup Astra.
Keunggulan AUTO antara lain:
- PBV masih di bawah 1.
- PER rendah.
- Neraca keuangan sehat.
- Pangsa pasar kuat.
- Didukung jaringan distribusi yang luas.
Pertumbuhan kendaraan bermotor dan kebutuhan suku cadang menjadi faktor yang mendukung prospek bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
7. PTBA – Emiten Batu Bara Milik Negara
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merupakan perusahaan tambang batu bara yang telah beroperasi selama puluhan tahun.
Alasan PTBA menarik bagi investor:
- Laba bersih sangat besar.
- Utang relatif rendah.
- Dividen rutin.
- Efisiensi operasional cukup baik.
- Didukung cadangan batu bara yang besar.
Meskipun sektor batu bara dipengaruhi siklus harga komoditas, PTBA memiliki posisi keuangan yang relatif kuat sehingga mampu bertahan pada berbagai kondisi pasar.
8. SMBR – Emiten Semen yang Berpotensi Pulih
PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) menjadi salah satu emiten yang menarik untuk diamati apabila proses transformasi bisnis perusahaan berjalan sesuai harapan.
Nilai tambah SMBR meliputi:
- PBV masih relatif rendah.
- Utang terkendali.
- Didukung sinergi dengan grup semen milik negara.
- Potensi pertumbuhan apabila proyek infrastruktur meningkat.
Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan laba perusahaan karena sektor semen sangat dipengaruhi oleh kondisi pembangunan nasional.
9. TINS – Perusahaan Timah dengan Prospek Komoditas
PT Timah Tbk (TINS) merupakan salah satu produsen timah terbesar di dunia.
Beberapa faktor yang menarik antara lain:
- Valuasi relatif murah.
- Laba kembali membaik.
- Didukung permintaan logam untuk industri elektronik dan teknologi.
- Memiliki aset tambang yang bernilai tinggi.
Namun demikian, investor perlu memahami bahwa harga timah dipengaruhi oleh permintaan global sehingga volatilitas harga sahamnya cenderung lebih tinggi dibandingkan sektor konsumsi.
10. BRIS – Bank Syariah Terbesar di Indonesia
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) merupakan bank syariah terbesar di Indonesia dan hasil penggabungan beberapa bank syariah milik BUMN.
Keunggulan BRIS meliputi:
- Pertumbuhan pembiayaan yang konsisten.
- Laba bersih meningkat dari tahun ke tahun.
- Pangsa pasar terus berkembang.
- Memiliki potensi menjadi pemain utama industri keuangan syariah nasional.
Berbeda dengan perusahaan non-keuangan, analisis bank tidak menggunakan Debt to Asset Ratio (DAR). Investor biasanya menilai kualitas bank melalui rasio seperti Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Return on Assets (ROA), dan Return on Equity (ROE).
Tabel Ringkasan 10 Saham Syariah untuk Value Investing
| Emiten | Sektor | PBV | PER | DAR | Kategori |
|---|---|---|---|---|---|
| DMAS | Properti | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | Sangat Menarik |
| SIMP | Perkebunan | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | Sangat Menarik |
| PGAS | Energi | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | Menarik |
| ENRG | Energi | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | Menarik |
| LSIP | Perkebunan | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | Sangat Menarik |
| AUTO | Otomotif | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | Menarik |
| PTBA | Batu Bara | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | Menarik |
| SMBR | Semen | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | Cukup Menarik |
| TINS | Logam | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | Menarik |
| BRIS | Perbankan Syariah | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | Tidak relevan | Menarik |
Silahkan share tulisan ini jika kamu anggap bermanfaat! Yuk Ikuti Kelas Saham Syariah Mudah bersama Generasi Faqih Fiddin, daftar disini ya!